AIR TANAH KOTA TANGERANG SELATAN


Oleh: H.Dharwanto Kurniawan, ST.

Seiring dengan perkembangan kegiatan industri maupun pertumbuhan penduduk di Provinsi Banten, dapat dilihat dengan semakin banyak industri dan jumlah penduduk yang tumbuh, sebagai indikator perkembangan suatu daerah sebagai implikasi dari bertambah banyaknya kegiatan/aktivitas manusia disekitar lingkungan tersebut. Air tanah merupakan salah satu sumberdaya alam yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan daerah untuk menunjang kepentingan industri dan perumahan.


Potensi airtanah di Provinsi Banten telah dilakukan penelitian secara regional oleh beberapa instansi pemerintah dimana sasaran utamanya adalah untuk memantau dan mengendalikan airtanah secara berdaya guna dan berhasil guna. Untuk mengetahui kondisi airtanah dan air permukaan di Provinsi Banten, Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten melakukan inventarisasi dan evaluasi kualitas air bawah tanah dan air permukaan tanah yang ada, atas dasar kenyataan bahwa industri dan rumah tangga terus meningkat pesat kebutuhannya dari tahun ke tahun akan airtanah. Hal ini mengakibatkan kecenderungan dampak negatif yakni adanya intrusi air laut di wilayah pantai utara Provinsi Banten. Ditambah adanya penambangan galian pasir yang juga berkembang pesat, sehingga memberikan pengaruh pada percepatan intrusi air laut yang telah terjadi.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka diperlukan analisa dan evaluasi sumber airtanah di Provinsi Banten.

Di kota-kota besar yang berpenduduk padat, kebutuhan akan air sangat tinggi, karena disamping untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan niaga dan industri seperti perhotelan, industri sampai ke perusahaan cuci mobil dan sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan yang sangat banyak tersebut, penyediaan air tidak cukup hanya bersumber dari air permukaan saja, tetapi juga banyak memanfaatkan airtanah melalui sumur-sumur gali, dari pemboran dangkal kurang dari 50 meter sampai pemboran dalam lebih dari 100 meter.

Meskipun demikian cara tersebut tidak sederhana, banyak pemboran air tidak berhasil karena tidak tersedianya air, atau debitnya sangat kecil, atau kondisi airnya asin dan sebagainya padahal biaya pemboran airtanah dalam sangat tinggi.

Untuk menghindari resiko kegagalan tersebut sebelum dilakukan pemboran biasanya terlebih dahulu dilakukan penyelidikan geolistrik untuk mengetahui struktur perlapisan batuan bawah permukaan, jenis lapisan batuan serta akuifernya.

Dilihat dari fungsinya sebagaimana tersebut di atas, air merupakan sumberdaya alam yang mempunyai nilai sangat strategis dan ekonomi dikarenakan kebutuhannya menyangkut hajat hidup orang banyak, sehingga di dalam pemanfaatan dan pengelolaannya harus dilakukan secara bijaksana dengan mempertimbangkan keadaan lingkungan dan keberadaannya yang berkesinambungan. Pemanfaatan airtanah didaerah yang jauh dari keberadaan air permukaan menjadi pilihan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Wilayah Provinsi Banten bagian Utara dan Barat meliputi daerah sepanjang pesisir pantai yang ditempati oleh perkampungan nelayan yang penduduknya cukup padat, tetapi kondisi airtanah umumnya kurang baik karena tingginya tingkat salinitas. Tingkat salinitas tinggi dapat disebabkan oleh pengaruh intrusi air laut yang masuk kedalam lapisan akuifer atau disebabkan oleh cara terbentuknya lapisan akuifer yang terjadi pada lingkungan laut.

Secara garis besar, kegiatan survey dan pemetaan airtanah meliputi penyelidikan yaitu :

  1. Penyelidikan geolistrik dan
  2. Penyelidikan geohidrologi berupa pengamatan dan analisa airtanah.

Untuk mengetahui potensi airtanah yang ada baik airtanah dangkal maupun airtanah dalam, apakah dipengaruhi oleh air asin/laut atau tidak, perlu dilakukan penyelidikan airtanah sehingga potensi airtanah yang ada dapat diketahui dan digunakan dalam perencanaan pemanfaatannya serta untuk mengetahui tatanan secara vertical dan horizontal air di wilayah ini baik secara kuantitas maupun kualitas serta sejauhmana pengaruh intrusi air laut terhadap keberadaan airtanah di daerah sekitar pantai utara juga mendapatkan   data   geologi   bawah   permukaan   berupa struktur perlapisan batuan yang berkaitan dengan cekungan airtanah

Tujuannya yaitu  :

  • Memperoleh informasi spasial (peta) tatanan air bawah tanah dan air permukaan sehingga dapat diketahui potensi airtanah secaraaktual untuk dijadikan sebagai acuan dalam pemanfaatan airtanah dan program tata ruang secara regional yang berkaitan dengancekungan airtanah dan data hidrologi airtanah berupa kualitas dan kuantitas air tanah dangkal
  • Mengetahui   kedalaman   lapisan   pembawa   air,   sehingga   dapat diperkirakan   berapa   kedalamannya   apabila   akan   dilaksanakanpemboran.
  • Mengetahui penyebaran lateral lapisan pembawa airtanah, sehingga dampak   lingkungan    dapat   diperhitungkan   apabila pemboran airtanah dilaksanakan.
  • Untuk    mengetahui    kualitas    airtanahnya,    apakah  dapat dipergunakan untuk pertanian, kebutuhan air minum atau tidak dapat dipergunakan sama sekali.

 

Sudah banyak disebutkan oleh para pakar bahwa ada paradoks antara penduduk          dan air yaitu pertumbuhan penduduk yang meningkat mengakibatkan pengurangan ketersediaan air. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan sumber daya airtanah sebagai solusi sekaligus pencegahan dan penyelesaian konflik

Ketersediaan data yang akurat dan aktual tentang airtanah merupakan salah satu unsur dasar dalam program pengelolaan secara terpadu berupa data potensi sumber daya airtanah, tata guna lahan, sistem pengelolaan, pemantauan parameter kondisi phisik, observasi indikator keberhasilan program dan umpan balik pada proses pengelolaan untuk membentuk pola pengelolaan baru yang lebih baik. Semua data tersebut dapat disajikan secara komprehensip dalam potensi sumber daya airtanah.

Potensi airtanah Tangerang Selatan dan Lebak disajikan secara menarik dengan menggunakan teknologi komputer. Data-data disimpan dalam format simpan data (data base). Pembuatan peta mengunakan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG), dengan demikian proses pengambilan keputusan dapat mengacu pada data spasial yang akurat, seperti untuk aplikasi rekayasa, tata ruang wilayah, program pengelolaan dan penanggulangan kerusakan air, perencanaan dll.

Peta potensi airtanah mempunyai sifat obyektif dan dapat dimanfaatkan oleh semua pihak terkait (stakeholder), karena dalam proses penyediaan informasi, pengumpulan dan pemrosesan data (sekunder dan primer) serta verifikasi, melibatkan partisipatif instansi penyedia data - data (sumber data). Oleh karena itu potensi airtanah yang dibuat ini menjadi milik pihak yang berkepentingan.

Pendayagunaan airtanah dilakukan untuk memanfaatkan airtanah secara efektif, efisien, dan berkelanjutan. perlu dilakukan pengaturan pengambilan airtanah, yaitu pengambilan airtanah harus tetap dibawah safe yeild.

Adanya ketidakseimbangan antara pasokan dan pengambilan Sumber Daya Airtanah  yang diakibatkan oleh perubahan-perubahan yang terjadi, merupakan akibat adanya pembangunan serta pertumbuhan penduduk yang cepat. Masalah di atas menjadikan kebutuhan akan air baku baik untuk kebutuhan air minum, industri, dan pertanian akan semakin meningkat sedangkan kemampuan air permukaan semakin berkurang untuk dapat mencukupi semua kebutuhan di atas.

Adanya pemanasan global yang belakangan ini semakin disadari betapa bahayanya dunia kita bila pemanasan global terus dibiarkan tanpa adanya kesadaran dari masyarakat dunia akan mengakibatkan perubahan iklim global

Saat ini, keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan baik secara kuantitas maupun kualitas terhadap sumber daya air semakin kritis dan perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak. Kesemuanya itu disebabkan karena pertumbuhan penduduk di Indonesia yang sangat tinggi, serta terjadi peningkatan ekonomi dan pembangunan yang menyebabkan timbulnya polusi serta berkurangnya lahan bebas / ruang hijau untuk proses pembentukan airtanah.

Karena pertumbuhan penduduk maka kebutuhan pokok maupun sekunder akan meningkat. Aktifitas dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut akan juga meningkat baik dalam dimensi-dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan. Akibatnya terjadi eksploitasi alam yang berlebihan, perubahan tata guna lahan yang tak terkendali dan menurunnya daya dukung lingkungan. Multi-player effect dari aktifitas tersebut pada hakekatnya menimbulkan kecenderungan peningkatan bencana baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Pengambilan airtanah secara berlebihan dapat mengakibatkan menurunnya elevasi permukaan airtanah. Disamping hal tersebut kemungkinan adanya erosi bagian dalam tanah akibat terangkutnya butir tanah di bawah muka tanah oleh penyerapan airtanah melalui pemompaan sumur dalam secara berlebihan. Jika penurunan tinggi muka airtanah terjadi di daerah pantai akan mengakibatkan terjadinya intrusi air laut. Sehingga dapat diartikan bahwa pengambilan airtanah secara berlebihan dapat menyebabkan munculnya banyak kerugian bagi masyarakat itu sendiri.

Fenomena yang sering muncul adalah di wilayah yang ada pemenuhan air baku yang dimaksud banyak menemui kendala, salah satunya adalah faktor potensi sumber daya air yang ada (khususnya sumber daya air permukaan) tidak memenuhi syarat untuk dimanfaatkan. Potensi yang dimaksud meliputi parameter kualitas dan kuantitasnya. Wilayah dimaksud umumnya terletak di daerah dengan kondisi geologi dan hidrogeologi yang relatif jarang ditemui adanya lapisan pembawa air/akuifer serta di wilayah yang mempunyai satuan geologi rawa.

 

Pekerjaan penyusunan studi penelitian potensi  sumber daya airtanah di Tangerang Selatan dan sebagian Kabupaten Lebak meliputi seluruh pekerjaan mulai dari persiapan hingga penyusunan laporan, yang akan menjadi landasan dalam melaksanakan pengelolaan sumber daya airtanah.

  1. Potensi Sumber Daya Airtanah. 

Undang-Undang Sumber Daya Air mendefinisikan airtanah sebagai air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan dibawah permukaan tanah.

Sistem Akuifer Geologi Airtanah Dalam proses terbentuknya airtanah, maka susunan batuan atau formasi geologi memiliki peranan yang sangat besar dan penting. Formasi geologi yang dapat memberikan pengaruh terhadap keberadaan airtanah ini disebut juga akuifer. Diperkirakan 90% dari seluruh akuifer yang dikembangkan terdiri dari batuan yang saling terpisah, terutama gravel dan pasir.

Survey Pendahuluan Berupa Pengumpulan Data Sekunder Dan Pengamatan Lapangan Lokasi Survey

Data yang dikumpulkan terdiri dari data kantor (data base) dan data lapangan, meliputi phisik,  sarana prasarana wilayah serta isu-isu pengelolaan airtanah melalui penelusuran data sekunder dan primer.

Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara : (1) pengumpulan data langsung dilapangan (2) Melihat gambaran wilayah secara umum dan khusus, (3) Diskusi.

Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara : (1) Penelusuran dan inventarisasi Laporan Telah ada dari instansi terkait, Data Statistik, RUTRD, Laporan Perencanaan dan Evaluasi Program lainnya (2) Penelusuran dan inventarisasi statistik  (3) Laporan hasil-hasil penelitian.

Metode Pemetaan yang dilakukan dalam kajian ini adalah dengan metode pemetaan permukaan pada titik minatan hidrogeologi, ditunjang oleh pendugaan geolistrik, dilanjutkan evaluasi untuk mengetahui potensi air bawah tanah di sekitar lokasi calon titik pemanfaatan air. Identifikasi airtanah yang bersifat dangkal dan dalam, terkait dengan potensi terhadap kuantitas dan kualitas airtanah untuk eksploitasi airtanah maupun sumber-sumber air lainnya.

Sistem pelaksanaan survey kajian ini memerlukan kompilasi data yang menyeluruh antara faktor hidrogeologi dengan faktor non hidrogeologi daerah setempat. Kajian ini memerlukan kompilasi data yang menyeluruh antara faktor hidrogeologi dengan faktor non hidrogeologi.

  • Kajian awal berdasarkan peta topografi dan curah hujan serta data-data sekunder lainnya
  • Membuat rumusan Metoda Pelaksanaan Pekerjaan yang mencakup jadwal pelaksanaan, tenaga kerja dan peralatan yang dibutuhkan.
  • Mengkonfirmasikan dan mendiskusikan lokasi titik-titik pengamatan dan geolistrik yang akan di survey sumbernya
  • Melakukan pembuatan peta rencana kerja survey sumber-sumber air.

 

Pemetaan Situasi Potensi Airtanah dengan Geolistrik  

Pengadaan air baku guna memenuhi beberapa kebutuhan dasar/primer untuk masyarakat merupakan suatu hal yang signifikan sekaligus prioritas yang harus dipenuhi. Karena air baku merupakan standar penting yang sangat signifikan dalam menentukan tingkat kualitas hidup bagi masyarakat, khususnya untuk keperluan air minum. Fenomena yang sering muncul adalah di wilayah-wilayah tertentu yang ada di Indonesia pemenuhan air baku yang dimaksud banyak menemui kendala, salah satunya adalah faktor potensi sumber daya air yang ada tidak memenuhi syarat untuk

Dua Elektroda  Arus dan  Potensial  di  Permukaan suatu Medium yang Homogen Isotropik  (Telford, 1976).

 

   
 

        

Susunan Elektroda Schlumberger (Telford, 1976).

 

 
 
 

 

 

 

 

 

 

Susunan Elektroda Schlumberger AB dan MN Simetris

(Telford, 1976)

 

  1. Analisa Pendugaan Geolistrik

Berdasarkan hasil penafsiran data lapangan dibandingkan dengan kondisi geologi dan hidrogeologi setempat akan didapatkan korelasi antara harga tahanan jenis dengan litologi seperti pada Tabel berikut.

Tabel 1 Ringkasan nilai resistivity batuan (Dept PU, 1987 & Telford, 1976)

No

Rocktype

Resistivity range  (W m)

1

Tanah lempungan, lunak-basah

1.5 - 3.0

2

Lempung lanauan dan tanah lanauan lembek

3 – 15

3

Tanah lanauan, pasiran

15 – 150

4

Batuan dasar berkekar terisi tanah lembab

150 - 300

5

Pasir kerikil bercampur lanau

300

6

Batuan dasar berkekar terisi tanah kering

300 - 2400

7

Batuan Konglomerat

2 x 103 - 104

8

Batu pasir

1-6.4 x 108

9

Batu Lempung

1 - 100

10

Alluvium

10 - 800

11

Tufa

2 x 103 (Wet)

 

 

105 (dry)

12

Lava

10- 5 x 104

 

 

Tabel. 2 Ringkasan nilai resistivity batuan dengan kandungan air (Telford, 1976).

No.

Rock

% H 2 O

Resistivity range (m)

1

Lanau

0.54

1.5 x 104

2

Lanau

0.44

8.4 x 106

3

Lanau

0.38

5.6 x 108

4

Batu pasir kasar

0.39

9.6 x 105

5

Batu pasir kasar

0.18

108

6

Batu pasir sedang

1.0

4.2 x 103

7

Batu pasir sedang

1.67

3.2 x 106

8

Batu pasir sedang

0.1

1.4 x 108

9

Batu pasir lempungan

1.16

4.7 X 103

10

Batu pasir lempungan

0.45

5.8 X 104

 

 

  1. Analisa  Potensi Ketersediaan Airtanah
  • Interpretasi kedalaman dan macam batuan pada setiap titik pendugaan geolistrik berdasarkan sifatnya.
  • Pembuatan penampang hidrogeologi berdasarkan sifat geofisika batuan yang melewati titik-titik lokasi pendugaan terpilih, untuk mengetahui sebaran vertical dan lateral akuifer.
  • Melalui sebaran sistem akuifer membuat kontur kedalaman akuifer bagian atas, kontur kedalaman bagian bawah dan kontur ketebalan akuifer

Interpretasi untuk menentukan konfigurasi akuifer yang paling tepat dan memperkirakan potensi ketersediaannya.

Tangerang Selatan

 

 
 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
  1. Geologi Kecamatan Serpong, Pamulang dan Ciputat Kota Tangerang Selatan
  1. Morfologi

Berdasarkan ketinggian, bentuk dan timbulan yang tercermin pada topografi dan kenampakan lapangan, daerah kajian dapat dibagi menjadi 3 (tiga) satuan morfologi yakni

  1.   Dataran Kipas Aluvium

Menempati bagian timur. Topografinya merupakan dataran bergelombang dengan kemiringan lereng umumnya kurang dari 5 %, kecuali lembah-lembahnya mencapai 30 % dan ketinggiannya antara 20-50 meter di atas muka laut.

Batuan penyusunnya terdiri dari batupasir tufaan, tufa berbatuapung dan breksi lahar yang umumnya telah lapuk lanjut menjadi lempung lanauan dan lanau lempung

Satuan ini menempati sebagian besar daerah penyelidikan, melampar dari utara sampai selatan. Bukit berbentuk tumpul dan timbulan yang ditampakkannya memberikan kesan pebukitan bergelombang lemah. Di antara bukit-bukit tersebut kadang-kadang dipisahkan oleh lembah sempit relatif datar yang merupakan daerah genangan pada musim hujan. Satuan morfologi pebukitan dikontrol oleh satuan batuan yang menyusunnya berupa hasil gunungapi kuarter.

  1. Morfologi Dataran Vulkanik

Topografinya merupakan dataran bergelombang dengan kemiringan lerengnya kurang dari 5 %, kecuali lembah-lembahnya mencapai 30 %. Ketinggiannya berkisar antara 20-50 meter di atas muka laut. Satuan geomorfologi ini terbentuk dari batupasir tufaan, endapan lahar dan batupasir.

Sebaran morfologi ini dijumpai di sebelah utara daerah penyelidikan, melampar dari barat-utara. Menampakkan medan yang relatif datar. Sebagaimana pada satuan pebukitan, morfologi ini juga dikontrol oleh hasil gunungapi kuarter.

  1. Morfologi Dataran Aluvial Sungai

Menempati bagian tengah daerah penyelidikan seluas 30 %. Satuan bentangalam ini merupakan dataran bergelombang dengan kemiringan lereng umumnya kurang dari 5 %, kecuali lembah-lembah sungainya mencapai 30 %, ketinggiannya antara 10-20 meter di atas muka laut. Sungai dan alurnya mengarah selatan-utara, setempat membentuk pola dendritik, tetapi secara umum berpola sejajar. Batuan pembentuknya terdiri dari endapan sedimen berupa lempung lanauan, tufa dan batupasir tufaan.

Sebaran morfologi ini terutaraa menempati bantaran K. Cisadanes K.Angke, K. Ciater, dan K. Jalitreng dengan bentuk sebaran sesuai dengan pola aliran sungainya., Ketinggiannya antara 10 - 30 m dengan kelerengan kurang dari 0,5% sehingga menampakkan medan relatif datar. Sebagian besar dataran sungai telah dibudidaya sebagai lahan pertanian berupa persawahan. Morfologi dataran sungai disusun oleh endapan lepas berukuran butir pasir halus sampai kerikil.

 
 
  
  1. Litologi

Berikut ini akan dibahas mengenai kondisi geologi daerah penyelidikan, meliputi geologi permukaan yang mengacu hasil penyelidikan terdahulu dan pengamatan lapangan.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Serang (E.Rusmana dkk,1991.) dan Peta Geologi Lembar Jakarta (T. Turkandi dkk, 1992), daerah Tangerang secara umum terbentuk dari batuan sedimen dan vulkanik berumur Miosen Tengah-Plistosen, serta endapan permukaan yang proses pengendapannya masih berlangsung sampai sekarang. Secara Lithostratigrafi batuan tersebut dapat dipisahkan menjadi beberapa satuan batuan/formasi, yang berurutan dari tua ke muda sebagai berikut:

  1. Formasi Bojongmanik (Tmb)
  1. Litologi

Berikut ini akan dibahas mengenai kondisi geologi daerah penyelidikan, meliputi geologi permukaan yang mengacu hasil penyelidikan terdahulu dan pengamatan lapangan.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Serang (E.Rusmana dkk,1991.) dan Peta Geologi Lembar Jakarta (T. Turkandi dkk, 1992), daerah Tangerang secara umum terbentuk dari batuan sedimen dan vulkanik berumur Miosen Tengah-Plistosen, serta endapan permukaan yang proses pengendapannya masih berlangsung sampai sekarang. Secara Lithostratigrafi batuan tersebut dapat dipisahkan menjadi beberapa satuan batuan/formasi, yang berurutan dari tua ke muda sebagai berikut:

  1. Formasi Bojongmanik (Tmb)

Perselingan antara batupasir dan lempung pasiran dengan sisipan batugamping di bagian bawah dan batupasir tufaan serta tuf di bagian atas.

Batupasir, jenis grewake, kelabu kehijauan bila segar, dan kelabu muda bila lapuk; mengandung banyak glaukonil. Lempung pasiran, kelabu muda; agak padat; kadang-kadang gampingan. Tebal lapisan berkisar dari 10 - 30 cm.

Batugamping, kelabu; padat; berlapis dengan tebal 50 - 100 cm, mengan­dung fosil moluska dan koral. Makin ke atas kadar tufnya makin tinggi, dan kemudian didapatkan tuf halus berlapis dan tuf batuapung. Umumnya batuan ini berwarna kelabu muda, dan kuning kecoklatan bila sudah lapuk.

Tebalnya  yang pasti tidak diketahui, namun diperkirakan melebihi 800 m.

  1. Formasi Genteng (Tpg)

Tuf ber­batuapung, batupasir tufaan, konglomerat, breksi andesit dan sisipan lempung tufaan. Tuf berbatuapung, putih sampai kelabu, berbutir halus sampai kasar; susunan menengah sampai asam dan berlapis baik. dengan tebal lapisan 80-90 cm. Ditemukan juga tuf hablur, mengandung kuarsa, mika. horenblenda, kaca, dan batuapung; sering disertai kepingan andesit. Batupasir tufaan, kelabu kehijauan, mengandung glaukonil. berbutir menengah sampai kasar, kadang-kadang diselingi lempung tufaan. Konglomerat. kelabu tua, agak padat; komponennya terutama andesit, dengan masadasar pasir tufaan; berlapis baik, tebal lapisan 15-60 cm. Lempung tufaan. kelabu kehijauan; lunak; tebal lapisan 5-10 cm. Secara umum satuan ini menunjukkan perlapisan bagus, struktur sedimen berupa perlapisan silang-siur dan berusunan. Tebal for­masi ini diperkirakan berkisar 800 - 1000 m. menindih takselaras Formasi Bojongmanik (Tmb).

  1. Tufa Banten (Qpvb)

Tuf, breksi batu-apung dan batupasir tufaan. Tuf terdiri dari tuf kaca, tuf kaca dan tufhablur. Tuf kaca, kelabu; terdiri dari masadasar kaca halus dengan fenokris felspar, mineral mafik dan sedikit kuarsa; bersusunan andesit; umumnya mengandung batuapung. Tuf sela, kelabu gelap, terutama ter­diri dari kepingan andesit dan batuapung serta sedikit felspar dan tuf halus sebagai masadasar. Tuf hablur, kelabu pulih; tersusun dari felspar, mika, mineral mafik, kaca dan sedikit kepingan andesit serta  batuapung. Batupasir tufaan, putih kelabu, berbutir menengah sampai kasar, agak padat, mengandung batuapung, Breksi batuapung, berkomponen batuapung (5 - 10 cm); andesit dengan masadasar tuf berbutir halus sampai kasar. Umur satuan ini diperkirakan Plistosen Awal bagian atas tebalnya diduga melebihi 200 m.

  1. Formasi Serpong (Tpss)

Terdiri dari perselingan batupasir, konglomerat, batulanau dan batulempung dengan sisa tanaman, konglomerat batuapung dan tufa batuapung. Konglomerat berwarna hitam kebiruan terdiri dari beraneka ragam komponen, yaitu andesit, basal, batu gamping dan rijang, kemas terbuka, pemilahan sedang, komponen berukuran 7-12 cm, setempat sampai 30 cm, membundar tanggung, berstruktur imbrikasi. Batupasir berwarna kelabu kehitaman, berbutir halus-sedang, tebal lapisan 60-200 cm. Batulanau dan batulempung umumnya berwarna kelabu kehitaman, mengandung sisa tanaman dan bekas galian binatang terdapat berselingan dengan konglomerat dengan ketebalan bervariasi antara 50-300 m. Satuan ini tersebar setempat-setempat di bagian selatan sekitar S. Cisadane,. Tebal formasi ini umumnya kurang dari 100 m, berumur Pliosen Akhir.

  1. Endapan Kipas Aluvium (Qav)

Terdiri dari tufa halus berlapis, tufa konglomeratan berselang seling dengan tufa pasiran dan tufa batuapung. Tufa halus berwarna kelabu muda, berlapis tipis, pejal, tufa konglomeratan dan tufa pasiran berwarna kelabu muda, pemilahan buruk, berbutir halus-kasar, membundar-membundar tanggung, garis tengah 3-5 cm. Satuan ini membentuk morfologi kipas dengan pola aliran "dischotomic". Tebal sekitar 300 meter,. bahan pembentuknya berasal dari batuan gunungapi muda di daratan tinggi Bogor, berumur Plistosen.

  1. Endapan Aluvium Sungai (Qa)

Merupakan endapan material lepas terdiri dari kerakal, kerikil dan lempung yang proses pengendapannya masih berlangsung sampai sekarang (Holosen). Satuan ini menghampar luas di bagian utara dan sepanjang sungai-sungai utama Sebaran endapan sungai terlihat secara baik di lembah K. Cisadane dan menempati hampir sepertiga daerah penyelidikan. Endapan aluvial sungai terutama terdiri atas pasir dan kerikil bersusunan andesitan serta fragmen batugamping, sebagai hasil rombakan (reworked) dari satuan batuan yang lebih tua.

 
 
  

POTENSI AIR TANAH DAERAH PEMETAAN

A. Potensi Airtanah Kecamatan Serpong, Pamulang dan Ciputat  Kota Tangerang Selatan

Air bawah tanah atau airtanah adalah semua air yang terdapat dalam lapisan pengandung air (akuifer) di bawah permukaan tanah, termasuk di dalamnya mataair yang muncul secara alamiah diatas permukaan tanah. Airtanah  dipisahkan menjadi airtanah bebas (tak tertekan) dan airtanah tertekan. 

  • Airtanah bebas (tak tertekan) adalah airtanah yang terdapat pada akuifer yang pada bagian bawahnya dibatasi oleh lapisan kedap air sedangkan bagian atasnya tidak ditutupi lapisan kedap air  melainkan oleh muka preatik yang bertertekan  1 (satu) atmosfir
  • Airtanah tertekan adalah airtanah yang terdapat pada akuifer yang dibatasi lapisan kedap air di bagian atas dan bagian bawahnya.

Komponen utama pembentuk airtanah adalah air hujan yang sebagian meresap ke dalam tanah di daerah imbuhnya (recharge area) dan sebagian tersimpan di dalam akuifer serta sebagian lagi keluar secara alamiah di daerah luah (discharge area).

Kondisi airtanah regional di Provinsi Banten dapat dilihat di Gambar.1

 
 
  

A. Litologi Akuifer

Litologi akuifer di daerah penyelidikan terdiri Formasi Bojongmanik (Tmb); perselingan antara batupasir dan lempung pasiran dengan sisipan batugamping di bagian bawah dan batupasir tufaan serla lufdi bagian atas. Formasi Genteng (Tpg): tuf ber­batuapung, batupasir , konglomerat, breksi andesit dan sisipan lempung . Tufa Banten (Qpvb): tufa, breksi batu-apung dan batupasir tufaan. Tufa terdiri dari tufa kaca, tufa kaca dan tufahablur. Formasi Serpong (Tpss) yaitu dari perselingan batupasir, konglomerat, batulanau dan batulempung dengan sisa tanaman, konglomerat batuapung dan tufa batuapung. Kipas Aluvium (Qav) terdiri dari tufa halus berlapis, tufa konglomeratan berselang seling dengan tufa pasiran dan tufa batuapung.  Dan  endapan Aluvium (Qa), merupakan endapan material lepas terdiri dari kerakal, kerikil dan lempung yang proses pengendapannya masih berlangsung sampai sekarang (Holosen).

1. Sistem Akuifer

Daerah penyelidikan terdiri dari beberapa jenis batuan yang masing-masing mempunyai kesarangan dan kelulusan berbeda-beda, berdasarkan hal tersebut akuifer nya dapat dipisahkan menjadi sistem akuifer, yakni sistem akuifer dengan aliran melalui ruang antar butir, dan sistem akuifer dengan aliran melalui ruang antar butir dan rekahan.

a. Sistem akuifer dengan aliran melalui ruang antar butir

Akuifer ini disusun oleh material hasil pelapukan batuan dan endapan aluvial yang terdiri atas: kerakal, kerikil, pasir, lanau, dan lempung. Batuan akuifer ini bersifat lepas dengan kesarangan dan kelulusan relatif tinggi. Penyebaran akuifer tersebut terdapat di daerah dataran aluvial dan setempat-setempat pada daerah zona pelapukan batuan.

b. Sistem akuifer dengan aliran melalui celahan dan ruang antar butir

Terdiri dari perselingan batupasir, konglomerat, batulanau dan batulempung dengan sisa tanaman, konglomerat batuapung dan tufa batuapung, mempunyai kelulusan rendah. Lapisan ini merupakan alas kelompok akuifer yang terdiri atas lapisan tufa batuapung, tufa kuarter muda dan endapan aluvial sungai. Dari komposisi litologi lapisan tufa batuapung dan tufa kuarter muda dapatlah disebutkan bahwa tufa berukuran butir pasir mampu menyimpan dan meluluskan air secara baik (akuifer), sebaliknya tufa berukuran butir halus dan lempung  kurang meluluskan air (akuiklud). En­dapan aluvial sungai yang didominasi oleh pasir dan kerikil bersifat lepas, umumnya dapat bertindak sebagai akuifer yang bagus. Hasil pendugaan geolistrik lebih jelas lagi memberikan gambaran menge­nai sistem akuifer di daerah penyelidikan. Dua jenis akuifer yakni akuifer tidak tertekan (unconfined aquifer) dan akuifer tertekan (con­fined aquifer) dijumpai di daerah ini, bertindak sebagai akuifer adalah tufa pasiran. Di antara akuifer tidak tertekan dan akuifer tertekan dibatasi oleh lapisan penyekat (akuiklud) berupa tufa lempungan. Akuifer tidak tertekan dijumpai pada kedalaman mencapai 25 m sedangkan akuifer tertekan dijumpai mulai kedalaman 25 m sampai 75 m.

2. Pendugaan Geolistrik

Jenis litologi ditentukan berdasarkan kontras tahanan jeris dengan membandingkan hasil penafsiran data lapangan dengan litologi sumur bor yang ada dan data geologi yang ditentukan di lapangan. Hasil kalibrasi dengan sumur bor di daerah Cipondoh yang berjarak ± 1 km. adalah sebagai berikut :

  1. Lapisan bertahanan jenis > 80 ohm-meter diduga sebagai kerikil atau lapisan-lapisan kering dipermukaan.
  2. Lapisan bertahanan jenis antara 15 - 80 Ohm-meter diduga sebagai lapisan pasir, kerikil, pasir tufa, yang mengandung air tawar.
  3. Lapisan bertahanan jenis < 15 Ohm-meter diduga se­bagai lapisan lempung, tufa, atau tufa  lempungan.

       
       
 
 
 

3. Penafsiran

Untuk mendapatkan gambaran penyebaran tahanan jenis baik secara vertikal maupun lateral di daerah penyelidikan, maka digambarkan 3 penampang tahanan jenis, AB, CD dan GH yang berarah selatan – utara dan barat timur (Lihat Lampiran).

  1. Penampang Tahanan Jenis A - B

Penampang tahanan jenis ini melintasi bagian barat daerah penyelidikan dari bagian selatan sampai di bagian utara, melalui titik-titik duga T-l, T-3, T-4, T-5, T-6, T-7, T-8, T-9, T-ll, T-12 dan T-13.

Urutan lapisan dari atas ke bawah adalah sebagai berikut:

  1. Tanah penutup, bertahanan jenis antara 100 - 300  Ohm-meter dengan ketebalan   2-10 mater.
  2. Lapisan bertahanan jenis antara 30 - 116 Ohm-meter, de­ngan ketebalan 5-20 meter, diduga sebagai lapisan tu­fa pasiran/pasir /pasir kasar - kerikil
  3. Lapisan bertahanan jenis antara 5-15 Ohm-meter, dengan ketebalan 10 - 60 meter, diduga sebagai tufa lempungan.
  4. Lapisan bertahanan jenis antara 20 - 73 Ohm-meter, dengan ketebalan 20 - 35 meter, diduga sebagai lapisan pasir  atau tufa pasiran.
  5. Lapisan bertahanan jenis antara 1,8 - 5 Ohm-meter, diduga sebagai lapisan lempung dan merupakan lapisan terbawah yang dapat dideteksi sepanjang penampang ini.
  1. Penampang Tahanan Jenis C - D

Penampang ini. terbentang dibagian tengah daerah penyelidikan mulai dari Pondokbenda dibagian selatan sampai Cipondoh dibagian utara, melalui titik duga T-16, T-15, T-17 T-20, T-18, T-22. T-23, T-26, T-49 dan T-50. Urutan lapisan dari atas ke bawah adalah sebagai berikut.:

  1. Lapisan tanah penutup, bertahanan jenis antara 40 – 204 Ohm - meter dengan ketebalan 2-10 meter .
  2. Lapisan bertahanan jenis antara 23 - 98 Ohm-meter, dengan ketebalan 10 - 20 meter, diduga sebagai tufa dan tufa pasiran.
  3. Lapisan bertahanan jenis antara 6-10 Ohm-meter, kearah utara makin tebal sampai ketebalan maksimum 50 meter dititik duga T-50, diduga sebagai lapisan tufa lempungan.
  4. Lapisan bertahanan jenis antara 16 - 45 Ohm-meter, dengan ketebalan 20 - 30 meter, diduga sebagai tufa pasiran  dan pasir .
  5. Lapisan bertahanan jenis antara 2-6 Ohm-meter, merupakan lapisan terbawah yang diduga sebagai lapisan lempung.
  1. Penampang Tahanan Jenis G-H

Penampang tahanan jenis ini melewati bagian barat  sampai Ciputat di bagian timur melalui titik duga dari T-5 hingga T31

Urut-urutan lapisan yang diduga adalah :

  1. Tanah penutup, tahanan jenis 62 - 214 ohm-meter dengan ketebalan maksimum 10 m,
  2. Tufa dan tufa pasiran, tahanan jenis 20 - 55 ohm-meter,   ketebalan 15 - 25 m. Lapisan ini sebagai akuifer,
  3. Lempung , tahanan jenis 5-7 ohm-meter, ketebalan    sekitar 25 m,
  4. Tufa pasiran, tahanan jenis 20 - 45 ohm-meter, ketebalan sekitar 25 m, sebagai akuifer
  5. Lempung, tahanan jenis 2,3 - 2,7 ohm-meter, sebagai lapisan    yang mengalasi lapisan-lapisan di atas.

4. Konfigurasi dan Sebaran Akuifer

Akuifer adalah lapisan batuan yang dapat menyimpan dan melalukan air dalam jumlah yang cukup berarti. Penyebaran secara lateral litologi akuifer dipermukaan dapat dikenali secara langsung di lapangan dan dari peta geologi, seperti akuifer endapan aluvial, Litologi akuifer di daerah penyelidikan terdiri . terdiri dari Formasi, Bojongmanik, Genteng, Tufa Banten, dan Formasi Serpong (Tpss) yaitu dari perselingan batupasir, konglomerat, batulanau dan batulempung dengan sisa tanaman, konglomerat batuapung dan tufa batuapung.  Kipas Aluvium (Qav) terdiri dari tufa halus berlapis, tufa konglomeratan berselang seling dengan tufa pasiran dan tufa batuapung.  Dan  endapan Aluvium (Qa) Merupakan endapan material lepas terdiri dari kerakal, kerikil dan lempung yang proses pengendapannya masih berlangsung sampai sekarang (Holosen) dan soil hasil pelapukan batuan. Penyebaran di bawah permukaan secara lateral dan vertikal  litologi akuifer yang menyangkut ketebalan dan kedalaman akuifer tersebut dikenali setelah dilakukan kajian terhadap data hasil pendugaan geolistrik.

Berdasarkan cara terdapatnya, airtanah yang dijumpai di daerah penye­lidikan dibedakan menjadi :

A). Airtanah tidak tertekan atau airtanah bebas

B). Airtanah tertekan atau airtanah artois.

Data airtanah bebas diperoleh dari pengamatan dan pengukuran sumurgali penduduk sedangkan data airtanah tertekan diperoleh dari sumurbor yang tersebar di daerah penyelidikan.

Berdasarkan pengamatan di lapangan dan hasil interpretasi data geolistrik, daerah penyelidikan dapat diketahui adanya 2 (dua) macam konfigurasi akuifer, yaitu: akuifer bebas, dan akuifer tertekan.

  1. Airtanah bebas

Airtanah bebas di daerah penyelidikan dijumpai pada akuifer teratas, pada kedalaman kurang dari 25 m yang bersifat  tidak tertekan. Hasil pengukuran lapangan memperlihatkan bahwa sumurgali yang menyadap airtanah bebas baru mencapai kedalaman antara 4,0 - 20,0 m dengan diameter antara 0,6 - 2,1 m. Kedudukan muka airtanah pada sumurgali tersebur   antara­ 1,8 - 18,2 m dari muka tanah setempat.

Dengan mengubah kedudukan muka airtanah terhadap muka laut, garis kesamaan (kontur) muka airtanah dibuat untuk mengetahui pola muka airtanah berikut arahnya. Dari peta tersebut terlihat jelas bahwa pola muka airtanah bebas sangat dikontrol oleh bentuk morfologi. Arah aliran airta­nah lokal menuju ke lembah sungai dan arah umumnya dari selatan ke utara sesuai dengan arah umum landaian topografinya.

Dari rejim aliran airtanahnya, lazimnya di daerah hilir aliran lebih potensial dibandingkan di daerah hulu aliran. Hal tersebut terlihat dari hasil analisis uji pemompaan, yaitu Q sumur yang terletak di bagian hilir aliran airtanah relatif lebih besar dibandingkan yang terletak di bagian hulu aliran.

  1. Airtanah tertekan

Sumurbor (data sekunder) yang dibangun di daerah penyelidikan masih menyadap akuifer  tidak tertekan atau campuran akuifer tidak tertekan dan akuifer  tertekan. Dua buah sumurbor di Desa Rawa Buntu mencapai kedalaman 40 m; penyadapan akuifer kedalaman 20 - 22 m (airtanah tidak tertekan) menghasilkan  debit jenis (Q/s) 0,9 1/detik/m dengan kedudukan muka air statis (TKA) = - 1,4 m, penyadapan akuifer campuran pada kedalaman 15 - 21 m dan 25 - 26,5 m meng­hasilkan Q/s = 1,45 1/detik/m dengan TKA = -3,7 m.

Di luar daerah di Institut Teknologi Indonesia (ITI) Serpong dan PT. Surya Toto Indonesia (PT.STI) Serpong. Sumurbor di ITI Serpong yang menyadap  akui­fer antara 63 - 70 m menghasilkan Q/s = 0,2 1/detik/m dengan TKA = -8,4 m sedangkan di PT. STI Serpong yang menyadap akuifer pada kedalaman 69-72 m, 115 - 118 m dan 142 - 145 m menghasilkan Q/s = 0,3 1/detik/m dengan TKA = - 20 m.

Menurut Soekardi (1986), sumurbor yang menyadap akuifer tertekan di dae­rah Serpong umumnya dapat menghasilkan debit kurang dari 2 l/detik.

B. Parameter Akuifer

Akuifer adalah lapisan batuan yang dapat menyimpan dan melalukan air dalam jumlah yang cukup berarti. Untuk mengetahui parameter akuifer diperlukan pengujian akuifer yakni dengan uji pemompaan, baik untuk parameter akuifer dangkal maupun dalam; di samping itu dihitung dengan menggunakan rumus-rumus pendekatan  dari Logan, 1964 (Vide Kruseman and De Ridder, 1970). Parameter akuifer meliputi besarnya harga Keterusan (T), Kelulusan (K), dan Kapasitas Jenis (Qs). Keterusan (T) dimaksudkan banyaknya air yang mengalir melalui suatu bidang vertikal setebal akuifer, selebar satu satuan panjang (m) dengan satu satuan landaian hidrolika. Satuan harga Keterusan (T) adalah m2/jam atau m2/hari. Kelulusan (Permeability = K) adalah kemampuan lapisan akuifer untuk meluluskan air (m/hari) dalam satu satuan panjang persatuan waktu. Kapasitas Jenis (Qs) adalah kemampuan lapisan akuifer dalam suatu sumurbor untuk diambil airnya (l/det) dengan penurunan muka air sepanjang satu m. Jadi satuan untuk     Qs adalah l/det/m.

  1. Parameter akuifer bebas

Untuk Penentuan  parameter akuifer bebas  ini telah dilakukan uji pemompaan dari beberapa sumurgali terpilih di daerah penyelidikan, selain itu juga dilakukan pengamatan lapangan dengan mengamati jenis litologi penyusun akuifer yang kemudian diperkirakan harga K, dari tabel yang sudah ada dan diukur ketebalannya.

Dari hasil penyelidikan tersebut diatas diperoleh besaran harga parameter akuifer dangkal di daerah penyelidikan yang meliputi :

Uji pemompaan (pumping test) pada sumurgali dilakukan untuk mendapatkan parameter hidrolika akuifer tidak tertekan. Parameter yang dimaksudkan adalah koefisien keterusan (T) dan koefisien kelulusan (k).

Uji pemompaan sumurgali terpilih mempunyai diameter antara 0,8 - 1,2 m, kedalaman sumur antara 2,95-11,1 m. Selama pemompaan berlangsung muka airtanah pada sumur tersebut diukur pada waktu-waktu tertentu dengan penambahan secara logarimik,  Batasan yang Dipakai :

 

 

Baik dibawah baku nilai baku mutu yang disarankan

Sedang antara nilai maksimum yang disarankan dan maksimum yang diperbolehkan

Jelek diatas nilai maksimum yang diperbolehkan

Besar

Q > 10 l dt

Tinggi

Sedang

Nihil

Sedang

Q = 2- 10 l/dt

Sedang

Sedang

Nihil

Kecil

Q < 2 l/dtk

Rendah

Rendah

Nihil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lokasi

Rawa

Buntu Serpong

Pamulang

Serpong Cilenggang

Ciputat 1

Pamulang 2

Ciputat 2

Diam Sumur (m)

1

0,9

0,8

1,2

0,8

1

MAT (m)

3,5

3,5

0,9

0,9

2,8

3,6

Surutan (m)

4,5

2,3

4,5

2,1

1,3

2,4

Tebal Akuifer (m)

4,5

7,6

4,5

2,1

4,5

2,4

T (m2/jam)

1,57

0,93

1,22

1,16

3,14

1,19

K (m/jam)

0,127

0,122

0,271

0,552

0,698

0,496

Q (l/dtk)

0,3

0,21

0,56

0,71

0,42

0,57

Data pengukuran muka airtanah pada sumurgali yang diuji terse­but di atas disajikan ini pada Tabel 3 ini

Tabel. 3 Hasil Pengukuran Uji sumur di Tangerang Selatan

Menghasilkan T antara 0,55 - 3,26 m /jam. Koefisien kelulusan (k = T/D), D = Tebal akuifer dari harga T yang diperoleh sebesar 0,12 - 0,72 m/jam

Dengan anggapan air dalam sumur keluar dari dinding dan dasar sumur, debit sumur dapat ditaksir dengan persamaan : Q = 4 ksrw (k = kelu­lusan, s = surutan, rw = diameter sumur). Dengan persamaan tersebut diperoleh debit sumur antara 0,754 - 2,545 m/jam atau antara 0,21 - 0,71 1/detik .

  1. Parameter akuifer tertekan

Parameter akuifer ini diketahui dari pengamatan hasil pendugaan geolistrik dan uji akuifer yang telah dilakukan. Kedudukan akuifer bervariasi dari 16 - 120 m bmt dan tebalnya (D) = 2 – 15 m, harga K = 19 - 85 m/hari, T = 95 - 780 m2/hari, dan Qs = 0,9 – 7,4 l/det/m.

1. Sumberdaya Airtanah

Sumberdaya air yang teramati di daerah penyelidikan adalah airpermukaan, airtanah, sumberdaya airtanah yang terdapat di daerah penyelidikan yang meliputi airtanah bebas dan airtanah tertekan (airtanah artois). Dalam peta tersebut airtanah bebas dikelompokkan nenjadi dua berdasarkan kedudukan muka airnya, yakni yang kurang dari 7 m dan lebih dari 7 m, masing-masing dihitung dari muka tanah setempat. Adapun airtanah tertekan, karena kurang data yang tersedia maka dalam sajiannya hanya memperlihatkan kedalaman maksimum akuifer tertekan.   

Selain air permukaan, umumnya penduduk memanfaatkan airtanah dari sumurgali yang terdapat cukup banyak di daerah penyelidikan, namun demikian potensi dan kualitas airtanah dari sumurgali tersebut tidak merata, tergantung jenis litologi akuifernya.  Sumberdaya airtanah yang terdapat di daerah penyelidikan yang meliputi airtanah bebas dan airtanah tertekan (airtanah artois).

2. Penyebaran Potensi Airtanah

Tinggi-rendahnya potensi airtanah di suatu daerah sangat dipengaruhi oleh banyaknya curah hujan, jenis dan produktifitas akuifer, morfologi, tumbuhan penutup, dan pengaruh lingkungan sekitarnya.  Berdasarkan hal tersebut di atas daerah penyelidikan dibedakan menjadi 3 (tiga) wilayah penyebaran potensi airtanah (Lihat Lampiran) sebagai berikut:

B. Airtanah dengan potensi rendah pada akuifer bebas dan sedang pada akuifer tertekan

Wilayah airtanah ini menempati sekitar pinggiran aluvial sungai penyelidikan. Litologi akuifernya  terdiri dari endapan aluvial terdiri atas:  kerikil, pasir, lumpur, lanau, dan lempung; sedangkan dari.

Airtanah bebas dengan aliran melalui ruang antar butir, kedalaman akuifer > 7 meter dibawah muka tanah (mbmt), muka airtanah statis (MAS) dari 0,9  mbmt, kelulusan (K) dari 0,271 m/jam, keterusan (T) dari 1,22 m2/jam, debit 0,56 liter/detik. Mutu airtanah umumnya baik untuk sumber air minum,.

Airtanah tertekan, airtanah dengan aliran melalui ruang antar butir dan rekahan, kedalaman akuifer >  40 mbmt, MAS = 14,9 mbmt, K = 0,09 – 0,4 m/hari, T= 1,9-8  m2/hari, Qs = 0,039 liter/detik/meter. Q = 169,9 m3/hari

  1. Airtanah dengan potensi rendah pada akuifer bebas dan akuifer   tertekan.

Formasi-formasi Genteng, Bojongmanik, dan Serpong (Tpss) yaitu diri dari perselingan batupasir, konglomerat, batulanau.

Airtanah bebas, airtanah dengan aliran melalui ruang antar butir kedalaman akuifer 4,5 mbmt, MAS = 2,8 – 3,6 mbmt, K = 0,122 – 0,724 m/jam, T= 0,55-1,19 m2/jam, Q = 0,21 – 0,57 liter/detik.

Airtanah dalam, airtanah dengan aliran melalui ruang antar butir dan rekahan,  akui­fer antara 63 - 70 m, Q/s = 0,2 l/detik/m dengan TKA = -8,4 m akuifer pada kedalaman 69-72 m, 115 - 118 m dan 142 - 145 m menghasilkan Q/s = 0,3 1/detik/m dengan TKA = - 20 m.

C. Airtanah dengan potensi setempat sedang pada akuifer dangkal dan langka pada akuifer dalam.

Wilayah airtanah ini menempati daerah bagian tenggara daerah penyelidikan.

Airtanah bebasAirtanah bebas, airtanah dengan aliran melalui ruang antar butir kedalaman akuifer 4,5 mbmt, MAS = 2,8 – 3,6 mbmt, K = 0,122 – 0,724 m/jam, T= 0,55-1,19 m2/jam, Q = 0,21 – 0,57 liter/detik.

Airtanah tertekan, airtanah dengan aliran melalui ruang antar butir dan rekahan,  dan terdiri dari batuan lempung

  1. Kualitas Airtanah

Kualitas airtanah diukur mengacu kepada sifat tingkat kualitas air (PP No . 82 Tahun 2001 dalam Siregar, 2004) :

  1. Warna     

Air murni tidak berwarna, dibagi menjadi warna sejati ditimbulkan koloid organik atau zat terlarut, dan warna semu ditimbulkan suspensi partikel penyebab kekeruhan. Warna air umumnya bening.

  1. Temperatur (Suhu)

Temperatur air bersih maksimum dibolehkan sama dengan temperatur udara. Temperatur adalah suatu ukuran bagaimana dingin atau bagaimana panasnya air, dinyatakan derajat Celcius (0C). Temperatur merupakan parameter kualitas air kritis, karena langsung mempengaruhi jumlah oksigen terlarut (DO) dalam air.

Hubungan antara temperatur airtanah dan mataair dengan elevasi ketinggian oleh Sakura (1992) merupakan hubungan regresi yaitu makin tinggi elevasi maka makin rendah temperatur. Hubungan antara tipe luahan, temperatur dan daya hantar listrik terlihat pada Tabel. Temperatur airtanah di daerah Tangerang selatan hampir sama dengan temperatur udara yaitu  26 – 28,2 0C dengan 31 0 C

Tabel 4.  Hubungan temperatur, daya hantar listrik dan sistem aliran airtanah            (Sakura, 1992).

Tipe Discharge (lepasan)

Temperatur

Daya hantar listrik

Sistem aliran rekahan

Rendah ( < 200 C)

Rendah (=150µS/cm)

Sistem aliran lokal

Hampir sama

Menengah

Sistem aliran menengah & regional

Tinggi (240 – 250 C)

Tinggi (500-600µS/cm)

 

 

  1. Konduktivitas

Konduktivitas atau daya hantar listrik (DHL) yaitu kemampuan menghantarkan arus listrik  dan secara tidak langsung untuk mengukur konsentrasi ion. Semakin banyak  ion – ion yang terdapat di dalam air maka semakin banyak banyak juga arus listrik yang dapat dihantarkan oleh air itu. Besar konduktivitas fluida dinyatakan dalam microsiemens per centimeter (uS/cm) pada 250 C. Besarnya konduktivitas cairan dipengaruhi tinggi rendahnya temperatur fluida.. Konduktivitas di daerah Tangerang selatan sangat rendah yaitu <150µS/cm.

  1. Bau dan Rasa

Bau berasal dari proses dan penguraian zat organik oleh mikroorganisme. Air minum tidak boleh berasa. Rasa dalam air umumnya disebabkan oleh klor, klorida, phenol dan senyawa organik kompleks. Bau dan rasa di daerah Tangerang selatan tidak ada

  1. Kekeruhan

Kekeruhan atau turbidity dalam air disebabkan oleh pasir, zat organik dan anorganik yang tersuspensi, serta mikroorganisme. Kekeruhan adalah berkurangnya kejernihan suatu cairan akibat adanya partikel – partikel yang tidak terlarut berwujud mineral atau senyawa organik. Semakin banyak partikel yang tidak terlarut dalam air maka air tersebut terlihat tidak jernih atau berlumpur (muddy).

  1. Total solid

Total solid atau zat padat tinggi dapat mengakibatkan kerak. Total padatan terlarut atau Total Dissolved Solids (TDS ) adalah suatu ukuran jumlah partikel padat terlarut dalam cairan. Ini indikator permasalahan sumber polusi air. Pengukuran TDS dengan konduktivitas meter dan dinyatakan dalam ( mg / L ).

Perbedaan TDS telah dipengaruhi oleh pelarutan berbagai tipe batuan yaitu karbonat, plutonik, volkanik dan  klastiksilika. Pada umumnya batuan klastiksilika/plutonik mempunyai airtanah dengan TDS rendah (<200 mg/L) rata-rata 171 mg/L. TDS pada airtanah di batuan volkanik lebih tinggi dengan rata-rata 228 mg/L. Sedangkan dari batuan karbonat mempunyai TDS lebih tinggi dengan rata-rata 466 mg/L. TDS di daerah Tangerang Selatan adalah rendah yaitu dari 21 hingga 531 mg/L (Tabel 5.3)

 

 

No

Lokasi

Letak

Sumber Air

Elevasi

Suhu udara

Suhu

DHL Insitu

TDS

Warna

Ph

Lintang

Bujur

(m)

⁰C

⁰C

uS/cm

Ppm

1

Ds. Jombang

06⁰18'10,8"

106⁰42'29,8"

Sumur Bor

24

31,3

28,6

0,142

95

Bening

6,5

2

Ds. Jombang

06⁰17'47,5"

106⁰42'00,2"

Sumur Gali

40

31,5

28,2

0,055

45

Bening

6,4

3

Ds.Sawah Baru

06⁰17'49,7"

106⁰42'52,7

Sumur Gali

40

32,1

27

0,021

132

Bening

6,4

4

Ds. Pondok Ranji

06⁰16'36,2"

106⁰43'08,1"

Sumur Gali

35

31,7

27,8

0,018

28

Bening

6

5

Ds. Serua Indah

06⁰19'05,1"

106⁰43,05,1"

Sumur Gali

46

32,4

27,8

0,085

76

Bening

6,2

6

Ds. Serua

06⁰18'31,4"

106⁰24'34,7"

Sumur Gali

45

31,8

28,9

0,085

21

Bening

6,5

7

Ds. Serua

06⁰18'30,8"

106⁰24'35,3"

Sumur Gali

41

31,6

28,6

0,079

26

Bening

6,4

8

Ds.Jombang

06⁰17'03,1"

106⁰42'08,9"

Sumur Gali

35

31,3

28

0,018

86

Bening

6,4

9

Ds. Sawah baru

06⁰18'12,7"

106⁰42'52,3"

Sumur Gali

40

31,6

26

0,017

312

Bening

6,2

10

Ds. Sarua Indah

06⁰19'22,3"

106⁰42'38,2"

Sumur Gali

45

32,1

26,8

0,337

190

Bening

6,2

11

Ds. Sarua Indah

06⁰19'03,3'

106⁰42'02,8"

Sumur Gali

45

31,9

28

0,049

32

Bening

6,3

12

Ds. Jombang

06⁰18'11,8"

106⁰42'14,8"

Sumur Gali

45

31,5

26,6

0,018

57

Bening

6,6

13

Ds. Jombang

06⁰17'29,1"

106⁰42'27,5"

Sumur Gali

40

32,2

26

 

312

Bening

6,5

14

Ds. Pamulang

06⁰20'04,1"

106⁰44'19,7"

Sumur Bor

16

32,8

28,8

0,011

8

Bening

6,1

15

Ds.Bambu Apus

06⁰19'08,4"

106⁰43'57,3"

Sumur Gali

25

31,1

29,1

0,141

95

Bening

5,9

16

Ds. Pondok Benda

06⁰20'45,1"

106⁰42'52,7"

Sumur Gali

40

32,4

27,2

0,085

93

Bening

6,4

17

Ds. Pondok Bnd Barat

06⁰20'14,9"

106⁰42'42,4"

Sumur Gali

50

31,3

26,4

0,142

187

Bening

6,4

18

Ds. Pondok Bnd Barat

06⁰19'50,8"

106⁰42'21,7"

Sumur Gali

51

31,2

28,2

0,205

22

Bening

6,2

19

Ds. Pondok Benda

06⁰21'31,7"

106⁰42'50,6"

Sumur Gali

50

31,1

27,7

0,338

17

Bening

6,1

20

Ds. Pondok Benda

06⁰20'51,7"

106⁰42'16,4"

Sumur Gali

40

31,2

28,6

0,018

37

Bening

6,7

21

Ds. Pondok Benda

06⁰20'41,4"

106⁰42'27,5"

Sumur Gali

50

31,1

28

0,085

29

Bening

6,4

22

Ds. Pondok Benda

06⁰21'14,5"

106⁰42'13,3"

Sumur Gali

45

31,5

27,2

0,085

48

Bening

6,3

23

Ds. Buaran

06⁰20'29,5"

106⁰41,34,5"

Sumur Gali

46,6

32,2

27,2

0,258

91

Bening

6,5

24

Ds. Ciater

06⁰18'27,9"

106⁰40'48,1"

Sumur Gali

38

31,7

27,7

0,358

44

Bening

6,4

25

Ds.Lengkong Gudang

06⁰17'50,8'

106⁰39'28,5"

Sumur Gali

36

32,4

27,5

0,079

46

Bening

6,1

 

 

Tabel 5. Kondisi Beberapa Parameter Kualitas Airtanah di Tangerang Selatan 
 
 

No

Lokasi

Letak

Sumber Air

Elevasi

Suhu udara

Suhu

DHL Insitu

TDS

Warna

Ph

Lintang

Bujur

(m)

⁰C

⁰C

uS/cm

Ppm

26

Ds. Jelupang

06⁰16'01,6"

106⁰39'12,1"

Sumur Gali

27

31

28,1

0,055

373

Bening

7,2

27

Ds. Lengkong Wetan

06⁰16'52,4"

106⁰38'53,7"

Sumur Gali

20

31,5

27,4

0,021

351

Bening

6,6

28

Ds. Lengkong Wetan

06⁰16'45,7"

106⁰39'38,2"

Sumur Gali

34

31,2

27,7

0,018

67

Bening

6,4

29

Ds. Jelubang

06⁰16'20,3"

106⁰40'12,7"

Sumur Gali

40

31,9

27,6

0,085

146

Bening

6,1

30

Ds. Jelubang

06⁰16'20,3"

106⁰40'12,7"

Sumur Gali

40

31,9

27,6

0,085

146

Bening

6,1

31

Ds. Lengkong Gudang

06⁰17'31,8"

106⁰39'59,1"

Sumur Gali

35

32,3

27,2

0,085

50

Bening

6,3

32

Ds. Lengkong Gudang

06⁰16'51,5"

106⁰40'59,9"

Sumur Gali

26

32,1

27,9

0,354

64

Bening

6,7

33

Ds. Lengkong Gdg Timur

06⁰17'54,1"

106⁰40'47,6"

Sumur Gali

40

32,3

27,7

0,05

78

Bening

6,1

34

Ds. Lengkong Gdg Timur

06⁰17'54,3"

106⁰40'47,8"

Sumur Gali

40

32,3

27,6

0,09

86

Bening

6,3

35

Ds. Cilenggang

06⁰18'27,7"

106⁰39'40,8"

Sumur Gali

40

31,5

27

0,104

531

Bening

6,3

36

Ds. Cilenggang

06⁰18'26’9"

106⁰39'41,1"

Sumur Gali

42

31,4

26,8

0,195

491

Bening

6,2

37

Ds. Serpong

06⁰19'05,1"

106⁰40'05,4"

Sumur Gali

40

31,3

27,6

0,373

146

Bening

6,5

38

Ds. Serpong

06⁰19'05,4"

106⁰40'05,6"

Sumur Gali

40

31,3

27,5

0,473

149

Bening

6,5

39

Ds. Rawa Buntu

06⁰19'24,2"

106⁰40'58,5"

Sumur Gali

47

31,1

27,7

0,421

39

Bening

6,4

40

Ds. Rawa Buntu

06⁰19'24,9"

106⁰40'57,9"

Sumur Gali

44

31

28,1,

0,440

37

Bening

6,3

41

Ds. Rawa Mekar Jaya

06⁰18'47,4"

106⁰41'29,1"

Sumur Gali

45

32,1

27,9

0,305

25

Bening

6,2

42

Ds. Rawa Mekar Jaya

06⁰18'47,1"

106⁰41'29,0"

Sumur Gali

45

32,1

28,0

0,335

25

Bening

6,2

43

Ds. Ciater

06⁰19'54,1"

106⁰41'34,6"

Sumur Gali

45

31,1

27,8

0,398

78

Bening

6,3

44

Ds. Buaran

06⁰20'29,5"

106⁰41,34,5"

Sumur Gali

46,6

32,2

27,2

0,258

91

Bening

6

45

Ds. Ciater

06⁰18'27,9"

106⁰40'48,1"

Sumur Gali

38

31,4

27,7

0,358

44

Bening

6,4

46

Ds. Ciater

06⁰18'27,6"

106⁰40'48,4"

Sumur Gali

38

31,2

27,8

0,368

48

Bening

6,6

47

Ds.Lengkong Gudang

06⁰17'50,8'

106⁰39'28,5"

Sumur Gali

36

32

27,5

0,088

46

Bening

6,3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

KESIMPULAN

  1. Survey  dan  pemetaan   air tanah  dapat  mengetahui  tatanan  secara vertikal dan horizontal   air di wilayah ini baik secara kuantitas maupun kualitas. Untuk mendapatkan data geologi   bawah   permukaan berupa struktur perlapisan batuan yang berkaitan dengan cekungan air tanah.
  2. Secara umum rancangan pekerjaan yang dilaksanakan oleh konsultan untuk melaksanakan pekerjaan penelitian potensi sumber daya air tanah. Koordinasi Pendahuluan, Survey Pendahuluan berupa pengumpulan data sekunder dan pengamatan lapangan lokasi survey. Tahap Survey Lapangan, Survey Potensi Air Tanah dan Pendugaan Geolistrik, dan Metode Pemetaan,  Pengambilan Contoh Air Tanah.
  3. Ruang lingkup pekerjaan yang menjadi fokus dalam kegiatan survey dan Pemetaan Air Tanah di Kota Tangerang Selatan dan sebagian Kabupaten Lebak: Kecamatan Maja, Muncang dan Cibeber Provinsi Banten.
  4. Morfologi  Kecamatan Serpong, Pamulang dan Ciputat Kota Tangerang Selatan menjadi 3 (tiga) Dataran Kipas Aluvium, Morfologi Dataran Vulkanik dan Morfologi Dataran Aluvial Sungai. Litologi    dipisahkan Formasi Bojongmanik, tuf ber­batuapung, batupasir tufaan, konglomerat, breksi andesit dan.sisipanlempung tufaan. Tuf Banten tuf, breksi batu-apung dan batupasir tufaan. Formasi Serpong (Tpss), Endapan Kipas Aluvium (Qav) dan Endapan Aluvium Sungai (Qa).
  5. Tahanan jenis di Kota Tangerang Selatan adalah: Tanah penutup, tahanan jenis 100 - 300  Ohm-meter tebal 2-10 mater. Lapisan tahanan jenis 30 - 116 Ohm-meter, tebal 5-20 meter, diduga tu­fa pasiran/pasir tufaan/pasir kasar – kerikil tahanan jenis 5-15 Ohm-meter, tebal 10 - 60 meter, diduga tufa lempungan. Lapisan tahanan jenis 20 - 73 Ohm-meter, tebal 20 - 35 meter, diduga pasir tufaan atau tufa pasiran. Lapisan tahanan jenis 1,8 - 5 Ohm-meter, diduga sebagai lapisan lempung dan merupakan lapisan terbawah.
  6. Kota Tangerang Selatan dibedakan menjadi 3 (tiga) wilayah penyebaran potensi airtanah sebagai berikut: Airtanah dengan potensi rendah pada akuifer bebas dan sedang pada akuifer tertekan. Airtanah dengan potensi rendah pada akuifer bebas dan akuifer   tertekan. Airtanah dengan potensi setempat sedang pada akuifer dangkal dan langka pada akuifer dalam.
  7. Kualitas Air Tanah Temperatur air tanah di Tangerang selatan hampir sama dengan temperatur udara 26 – 28,2 0C dengan 31 0 C. . Bau dan rasa tidak ada. TDS rendah yaitu dari 21 hingga 531 mg/L.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Twitter


Facebook