• Wednesday, 22 January 2020
  • Jejak Sejarah Jalur Timah di indonesia


     

    Jejak Sejarah Jalur Timah di indonesia

     

    Oleh:

    Ahmad Saepullah, ST

     

    Selama berabad-abad lamanya Indonesia telah dikenal sebagai negara penghasil timah. Keterdapatan timah di Indonesia berada pada pulau-pulau yang terletak di sebelah timur Pulau Sumatra, mulai dari Pulau Kundur di utara, menerus ke Pulau Singkep di selatan, Pulau Bangka, hingga Pulau Belitung. Bukan suatu kebetulan jika pulau-pulau yang membentang teratur dari utara hingga selatan tersebut merupakan pulau-pulau penghasil timah, latar belakang sejarah geologilah yang membentuk kesamaan itu. Bahkan para ahli mengungkapkan bahwa sejarah geologi terbentuknya pulau-pulau tersebut bersamaan dengan pembentukan Semenanjung Malaysia, Thailand kemudian menerus ke utara hingga ke Myanmar. Karena kesamaan sejarah geologi inilah, para ahli menyebut wilayah ini sebagai Jalur Timah Asia Tenggara (Gambar 1). Oleh karenanya menelusuri jejak sejarah geologi daerah ini, sama artinya dengan mengungkap asal muasal dan keberadaan timahnya.

     

     

    Gambar 1. Jalur Timah Asia Tenggara (M. P. Searle, dkk, 2012)

     

    Produksi Timah Terbesar

    Jalur timah Indonesia merupakan bagian dari Jalur Timah Asia Tenggara atau Southeast Asian Tin Belt. Istilah ini merupakan sebuah sebutan untuk deposit timah primer yang memanjang berarah utara-selatan dari Myanmar (Burma), Thailand, Semenajung Malaysia, hingga daerah Kepulauan Penghasil Timah di Indonesia, mulai dari Pulau Kundur di Riau hingga Kepulauan Bangka Belitung. Jalur Timah Asia Tenggara memiliki panjang sekitar 2.800 km dengan lebar mencapai 400 km, diperkirakan memiliki cadangan timah hingga 9,6 juta ton yang dengan jumlah tersebut menyumbang kebutuhan timah dunia sekitar 54% (Schwartz, 1995).

     

    Indonesia sendiri merupakan produsen timah terbesar kedua setelah China dengan total produksi timah mencapai 52.000 ton (Gambar 2). Sementara cadangan timah Indonesia mencapai 800.000 ton atau sekitar 17% dari total cadangan timah di seluruh dunia (Gambar 3).

    Gambar 2. Negara-negara produsen timah terbesar di dunia (sumber: USGS, 2017)

    Gambar 3. Persentase Cadangan Timah Seluruh Dunia (sumber: USGS, 2017)

     

    Bermula dari Tumbukan lempeng

    Pembentukan Jalur Timah di Indonesia mulai daerah Kepulauan Riau hingga Kepulauan Bangka Belitung tidak dapat dipisahkan dari tatanan tektonik Asia Tenggara khususnya Myanmar, Thailand dan Malaysia, hal ini dikarenakan daerah-daerah tersebut terbentuk melalui proses geologi dan periode tektonisme yang sama. Terbentuknya jalur timah Indonesia disebabkan oleh tumbukan (kolisi) antara Lempeng Sibumasu dengan Lempeng Indochina. Selama proses tumbukan inilah terjadinya pengkayaan timah.

     

    Mula-mula sebelum terjadinya tumbukan, posisi Lempeng Sibumasu dan Lempeng Indochina dipisahkan oleh Paleo-Tethys (lempeng samudera). Pada Permian tengah hingga Permian akhir, Lempeng Sibumasu bergerak mendekati Lempeng Indochina (Gambar 4), seiring pergerakan lempeng tersebut terjadi subduksi Paleo-Tethys terhadap Lempeng Indochina. Proses subduksi ini terus berlangsung hingga Permian akhir, akibatnya luasan Paleo-Tethys semakin berkurang dan Lempeng sibumasu bergerak makin mendekati Lempeng Indochina. Pada akhirnya proses subduksi berubah menjadi kolisi (tumbukan) Lempeng Sibumasu terhadap Lempeng Indochina (Gambar 5).

    Gambar 4. Lempeng Sibumasu dipisahkan oleh paleo Thetys. (Barber, 2005)

    Gambar 5. Tumbukan antara Lempeng Sibumasu dan Lempeng Indochina (Barber, 2005)

     

    Menurut Setijadji (2014) pada saat proses tumbukan, pulau-pulau penghasil timah di Indonesia berada pada sepanjang  Zona Suture Bentong-Raub. Zona Suture Bentong-Raub adalah salah satu sisa-sisa deformasi yang paling dikenal dari kompleks akresi yang membentang di sepanjang Semenanjung Melayu melalui pulau timah Indonesia, terkait dengan subduksi dan penutupan Paleo-Tethys, diikuti oleh tabrakan benua selama Trias Jura Awal (Barber, 2005).

    Gambar 6. Pembagian Terranca Pulau Sumatra. P. Bangka masuk ke Zona Akresi (Barber, 2005)

     

    Granit sebagai Jejak

    Proses Tumbukan Lempeng Sibumasu dan Indochina menghasilkan magma yang bersifat asam, yaitu magma dengan kandungan silika yang tinggi (lebih dari 65%). Magma ini kemudian menerobos dan membeku menjadi batuan granit. Selama penerobosan inilah aktivitas magma tersebut banyak merubah komposisi batuan disekitarnya sehingga terbentuk endapan mineral yang kaya akan timah. Hal ini menjelaskan bahwa seiring pembekuan magma menjadi granit, terbentuk pulalah endapan mineral yang kaya akan timah. Dengan kata lain batuan granit merupakan Jejak utama penanda terdapatnya mineralisasi timah, khususnya di Jalur timah Indonesia dan Asia Tenggara.

    Gambar 7. Pulau Sumatra. P. Bangka masuk ke Zona Akresi (Barber, 2005)

     

    Keterdapatan Granit memang merupakan salah satu keunikan wilayah Kepulauan Bangka-Belitung dan Kepulauan Riau. Singkapan batuan granit banyak dijumpai sebagai bukit-bukit raksasa yang menjulang tinggi atau terhampar sebagai bongkah-bongkah. Bahkan bukit-bukit batuan granit yang banyak tersebar di daerah pantai merupakan tujuan wisata yang paling banyak diminati oleh para wisatawan bahkan hanya untuk sekedar berswafoto diantara batu-batu granitnya. Namun selain keindahannya, batuan granit juga menyimpan jejak sejarah pembentukan timah, karenaya para ahli menyebut batuan Granit ini sebagai batuan pembawa timah (Host Rock).

    Gambar 8. Pantai dengan pemandangan Batuan Granit di Pulau Bangka (Sumber: wisataku.id)

     

     

    Jenis Endapan Timah

    Timah dalam bentuk endapan dijumpai dalam dua tipe, yaitu endapan bijih timah primer dan sekunder. Endapan timah primer merupakan endapan bijih timah yang masih berada pada batuan pembawa timah atau batuan tempat bijih timah terbentuk, sedangkan endapan timah sekunder adalah jenis endapan timah yang sudah bergeser dari batuan sumbernya dan terendapkan di tempat yang baru akibat proses perlapukan, transportasai dan pengendapan kembali.

     

    Endapan timah primer terbentuk bersamaan dengan proses pembekuan batuan granit. Batuan granit itu sendiri awal mulanya merupakan magma asam yang menerobos batuan-batuan di daerah Kepulauan Riau dan Bangka Belitung. Pembentukan endapan timah primer itu sendiri terbentuk pada saat-saat akhir pembentukan batuan, yaitu pada suhu sekitar 800o s.d 400 o celcius, pada suhu tersebut kondisi magma banyak mengandung gas sebagai larutan sisa, yang diantarannya adalah senyawa SnF4. Senyawa tersebut  kemudian bereaksi dengan air (H2O) yang lalu membentuk senyawa SnO2 (Casiterite) dan HF. Mineral kasiterite inilah sebagai mineral pembawa endapan timah primer di Indonesia.

     

     

    SnF4 + H2O -> SnO2 + HF2

     

     

     

     

     

    Dengan demikian keterdapatan endapan timah primer berada di bagian atas tubuh batuan granit, di celah-celah retakan dan rongga batuan yang berada di atasnya.

    Gambar 9. Intrusi Batuan Granit (Reed, 1986)

     

    Batuan-batuan Granit ini kemudian mengalami proses tektonik berupa pengangkatan, bahkan beberapa mengalami pematahan dan peretakan. Akibat dari proses tektonik tersebut, batu granit yang tadinya berasal jauh di bawah permukaan Bumi akhirnya muncul ke permukaan Bumi. Selama proses pengangkatan granit dari bawah Bumi, tubuh granit mengalami retak-retak atau deformasi. Ketika tubuh granit yang retak-retak ini muncul di permukaan Bumi, proses pelapukan dan erosi atau abrasi mengikis endapan Timah Primer yang telah ada. Proses oksidasi dan pengaruh sirkulasi air yang terjadi pada endapan timah primer pada atau dekat permukaan menyebabkan terurainya penyusun bijih timah primer. Proses pelapukan, erosi, transportasi dan sedimentasi yang terjadi terhadap cebakan bijih timah pimer tersebut menghasilkan endapan timah sekunder, yang dapat berada pada tanah residu maupun letakan sebagai endapan koluvial, kipas aluvial, aluvial sungai maupun aluvial lepas pantai.

    Gambar 10. Ilustrasi cara kerja kapal keruk yang digunakan untuk ekploitasi timah sekunder di lepas pantai (Sumber: Detik.com)

     

     

     

     

    Referensi:

     

    Firdausi, dkk. 2018. Geologi Dan Persebaran Mineralisasi Timah, Unsur Radioaktif dan Unsur Tanah Jarang Di Blok Lembah Jambu, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Proceeding, Seminar Nasional Kebumian Ke-11.

     

    Hutchison, Charles. 2014. Tectonic evolution of Southeast Asia. Bulletin of the Geological Society of Malaysia.

     

    Searle, M.P. 2012. Tectonic evolution of the Sibumasu-Indochina terrane collision zone in Thailand and Malaysia: constraints from new U -Pb zircon chronology of SE Asian tin granitoids. London: Journal of the Geological Society:

     

    http://www.timah.com/v3/ina/operasi-eksplorasi/