MENGAPA DI KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN BANYAK DITEMUKAN FOSIL KAYU


MENGAPA DI KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN BANYAK DITEMUKAN FOSIL KAYU

(oleh : Tata Henda)

 

Fosil kayu adalah jejak kayu berumur jutaan tahun yang terawetkan dalam lapisan lapisan batuan tertentu dengan kondisi fisika dan kimia tertentu. Material fosil kayu umumnya sudah mengalami perubahan dari material organik menjadi bukan organik kecuali fosil kayu yang terdapat dalam batubara yang tersusun oleh karbon (C). Material bukan organik penyusun fosil kayu biasanya terdiri atas silika (SiO2) yang berasal dari sekitarnya. Material silika yang terdapat dalam sedimen yang menutupi kayu terlarut dalam air tanah, kemudian mengalir dan mengisi rongga-rongga dalam tanah, diantaranya kemudian  menggantikan material penyusun kayu atau lignin, hingga terubah secara total menjadi mineral silika yang terdiri atas senyawa SiO2 dan unsur-unsur lainnya.  Namun demikian,  tekstur kayu secara utuh tetap terlihat dengan sangat jelas (Gambar 1).

Gambar 1. Contoh penampakan fosil kayu sebagai kayu terkersikkan, tampak tekstur kayu masih sempurna, sedangkan material kayu sudah tergantikan oleh silica (SiO2).

Di dalam material silika penyusun fosil kayu, tentu saja terdapat unsur-unsur lain yang berasal dari batuan sekitarnya sehingga warna fosil kayu bisa beraneka tergantung jenis unsur pengotornya, seperti :

  1. Putih atau tidak berwarna, bila silika tanpa pengotor atau sedikit sekali unsur lain (murni SiO2);
  2. Hitam, bila banyak mengandung karbon ( C ) ;
  3. Merah, coklat atau kuning, bila terdapat banyak oksida besi (Fe);
  4. Biru dan hijau, bila mengandung tembaga (Cu);
  5. Pink, bila mengandung oksida mangan (Mn); dan lain-lain.

Di Indonesia, fosil kayu dikenal di banyak wilayah dan karena banyaknya pula, maka untuk beberapa daerah memiliki nama tersendiri sesuai dengan bahasa setempat. Sebagai contoh di  beberapa daerah di Sumatera fosil kayu disebut sebagai batu sungkai, di Kalimantan disebut sebagai batu ulin sedangkan di Banten dan daerah Kabupaten Bogor Jawa Barat disebut sebagai batu sempur. Nama tersebut diambil dari nama jenis kayu (pohon kayu) yang terkenal atau umum dijumpai di masing-masing daerah. Tentunya hal ini tidak terlepas dari penampakannya pada saat pertama kali fosil kayu dikenali atau ditemukan.

Di wilayah Provinsi Banten fosil kayu atau batu sempur, tersebar di Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang bagian selatan, sebagian wilayah bagian selatan Kabupaten Serang, hingga bagian selatan Kabupaten Tangerang. Tetapi wilayah yang mempunyai penyebaran fosil kayu sangat luas adalah di Kabupaten Lebak (Gambar 2).

Sebaran fosil kayu  di Kabupaten Lebak meliputi:

  • Beberapa kecamatan di bagian utara, seperti Rangkasbitung, Cimarga, Cibadak, Sajira, Curugbitung, Maja dan Cipanas;
  • Di bagian barat di Kecamatan Gunung Kencana, Cijaku, Bojongmanik dan sekitarnya;
  • Di bagian selatan dengan sebaran setempat-setempat seperti di sekitar Cibareno, Kecamatan Cilograng, pantai Bayah dan beberapa tempat di Kecamatan Cihara.

Gambar 2. Peta sebaran fosil kayu di wilayah Provinsi Banten (lingkaran kuning)

Dari seluruh Kabupaten Lebak, sebaran fosil kayu paling luas terdapat di wilayah bagian utara, hampir merata dalam jumlah yang sangat banyak serta variasi ukuran kecil hingga sangat besar, dari yang berupa ranting hingga batangan fosil kayu berupa pohon dengan panjang hingga puluhan meter. Selain itu fosil kayu yang memiliki nama daerah sebagai batu sempur ini tingkat silisifikasinya sangat beragam dari yang kurang sempurna hingga sangat sempurna. Hal inilah yang menjadi sangat menarik sehingga perlu diungkap proses geologi apa yang terjadi pada batuan yang mengandung banyak fosil kayu tersebut.

 

Beberapa formasi batuan yang mengandung fosil kayu di Kabupaten Lebak

Seperti sudah disebutkan bahwa di Kabupaten Lebak, fosil kayu ditemukan di dalam lapisan batuan di banyak wilayah. Menurut  peta geologi bersistem regional skala 1 : 100.000 yang di buat oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G) Bandung, keterdapatan fosil kayu di Kabupaten Lebak tergambarkan secara jelas pada:

  1. Peta Geologi Lembar Leuwidamar (Sujatmiko, 1991);
  2. Peta Geologi Lembar Serang (Rusmana K., dkk., 1991).

  Keterdapatan fosil kayu berada terutama pada beberapa formasi batuan berumur Miosen Tengah – Atas (20 juta hingga 7 atau 6 juta tahun yang lalu), formasi batuan berumur Pliosen (sekitar 5 – 2 juta tahun yang lalu). Akan tetapi untuk beberapa kasus, fosil kayu ditemukan pada batuan tertua di wilayah Banten, yaitu batuan yang berumur Eosen atau sekitar 50 juta tahun yang lalu, yaitu dalam Formasi Bayah (Teb) namun contoh fosil yang ditemukan berada dalam lapisan batubara sebagaimana terlihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Fosil kayu dalam lapisan batubara di Cihara.

Pada batuan berumur Miosen fosil kayu meskipun tidak begitu banyak ditemukan diantaranya dalam kelompok batuan yang diberinama secara geologi sebagai Formasi Cimapag yang penyebarannya meliputi Kabupaten Lebak bagian selatan dan bagian barat.

Formasi Cimapag adalah kelompok batuan yang secara umum tersusun oleh sedimen yang banyak terpengaruh oleh aktivitas vulkanik, litologinya tersusun oleh breksi dan konglomerat aneka bahan, tuf, lava, batuan terubah dan mengandung fosil kayu tersersikkan (Sudjatmiko, 1991). Penyebaran batuan dari formasi ini cukup luas meliputi sebagaian wilayah Kabupaten Lebak dan sebagian wilayah Kabupaten Pandeglang. Di Kabupaten Lebak tersebar di wilayah Kecamatan Cilograng, Bayah, Cibeber, Cigemblong, Lebakgedong, Leuwidamar, Bojongmanik,  Cijaku dan Banjarsari. Sedangkan di Kabupaten Pandeglang tersebar di wilayah sekitar pesisir Kecamatan Sumur. Fosil kayu yang terdapat pada formasi batuan ini dijumpai berupa penggalan-penggalan berukuran diameter hingga 50 cm dan lebih banyak dijumpai dalam kepingan-kepingan berukuran kecil dibawah 10 cm. Sebaran fosil kayu ini terutama biasa dijumpai sebagai hanyutan (float) di daerah aliran sungai yang melintasi batuan dari formasi ini.

Gambar 4. Fosil kayu yang ditemukan di pantai Cibareno, diduga berasal dari kelompok batuan Formasi Cimapag).

Fosil kayu dalam jumlah sangat banyak terdapat dalam kelompok batuan berumur Pliosen atau sekitar 5 juta tahun yang lalu, nama formasi batuan yang mengadung banyak fosil kayu ini disebut sebagai Formasi Genteng yang secara litologi tersusun oleh tuf batuapung batupasir tufan, batulempung tufan, breksi, konglomerat napal dan kayu terkersikkan (Sudjatmiko,1991). Selain terdapat fosil kayu terkersikkan, dalam formasi batuan ini juga terdapat mineralisasi opal primer yang menghasilkan batu permata opal yang disebut sebagai kalimaya. Namun sebaran kalimaya terbatas di empat Kecamatan, masing-masing Maja, Cimarga, Sajira dan Curugbitung.

Pada kelompok batuan ini fosil kayu ditemukan sudah sejak lama dalam jumlah yang melimpah terutama di daerah Kecamatan Cimarga, Sajira, Maja dan Curugbitung. Sejak lebih dari 25 tahun diambil baik dari sungai, sawah atau dari bawah tanah dalam beraneka ukuran mulai dari yang berbentuk penggalan kecil hingga berbentuk layaknya batang pohon utuh dengan panjang hingga belasan, bahkan puluhan meter. Sayangnya pada awal penggalian besar-besaran fosil kayu dijual dalam bentuk “raw material” dan kemudian diekspor ke beberapa Negara dan di tempat barunya dijadikan berbagai jenis komoditas yang sangat berharga. Baru setelah tahun 1990, fosil kayu diolah didalam negeri terutama di daerah Sukabumi dan Bogor. Dan di Kabupaten Lebak sendiri mulai diolah setelah tahun 2000 dan makin marak setelah ada penyuluhan dan pelatihan oleh Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten sejak tahun 2001.

Gambar 5. Fosil kayu berdiameter sekitar 100 cm dengan panjang sekitar 20 meter di Sajira.

Dari sebaran fosil kayu dan keadaan litologi batuan tempat kedudukannya, maka sangat jelas ada kaitannya dengan proses aktivitas gunung api yang didominasi oleh endapan tufa atau abu gunung api. Tidak hanya itu, dengan ditemukannya fragmen batu apung yang seringkali ditemukan berupa lapisan yang cukup tebal, letusan gunung api seperti itu dihasilkan oleh gunung api tipe kaldera, yakni tipe gunung api yang setelah fasa erupsinya menghasilkan kawah berdiameter lebih dari 2 km.

 

Proses pembentukan fosil kayu di Kabupaten Lebak

Dari uraian diatas maka jelas bahwa ada beberapa hal kunci dari proses pembentukan fosil kayu di Kabupaten Lebak, terutama di wilayah bagian utara yaitu :

  • Jumlah fosil kayu yang melimpah
  • Jenis pemosilannya adalah silisifikasi, material pembentuknya adalah silika
  • Tempat kedudukan fosil kayu berada pada endapan abu vulkanik
  • Berasosiasi dengan batu apung
  • Memiliki tingkat silisifikasi yang berragam

 

Dengan demikian dapat diuraikan proses pembentukan fosil kayu di Kabupaten Lebak bagian utara adalah sebagai berikut :

Pada Kala Pliosen atau sekitar 5 juta tahun yang lalu wilayah ini merupakan dataran rendah lingkungan fluviatil yang ditumbuhi oleh aneka flora yang sangat padat atau berupa hutan tropis yang luas. Sepanjang waktu berjalan pohon-pohon besar tumbuh dan mati pada daerah tersebut dan keadaan cuaca tropis dengan peristiwa banjir,  hujan badai dan petir tidak jarang menumbangkan dan mengubur pohon-pohon besar tersebut. Sementara di dekatnya terdapat aktivitas vulkanik yang sangat besar dan berlangsung lama menghasilkan letusan gunung api berulang kali. Dan ketika terjadi letusan gunung api yang sangat besar, maka hutan ini terkubur seluruhnya oleh material yang terlontar oleh letusan tersebut, terutama yang berupa abu dan pasir gunung api yang kemudian membentuk endapan tuf dan lapilli yang sangat kaya dengan material silika.

Pada endapan tuf halus, sisa kayu yang terkubur dapat terhindar dari proses pembusukan yang cepat karena kurangnya oksigen dan tidak adanya organisme. Selanjutnya terjadi proses pelarutan material silika dalam air tanah yang kemudian menembus sedimen dan sebagiannya mengisi dan menggantikan ruang yang ditempati zat kayu (lignin) secara perlahan-lahan sehingga seluruh bagian sisa  tumbuhan tergantikan oleh material silika dan unsur-unsur lainnya sebagai pengotor seperti besi (Fe) dan unsur lainnya. Adanya unsur-unsur pengotor ini mengakibatkan fosil kayu berwarna-warni.

Dari tingkat silisifikasi, fosil kayu yang ditemukan sangat bervariasi dari rendah, sedang hingga sangat tinggi. Ini dapat diketahui dari penampakan fisiknya diantaranya dari kepadatan, kilap dan trasparansi. Karakteristik fisik ini sangat jelas terlihat ketika sudah di poles, dengan klasifikasi tingkat silisifikasi sebagai berikut:

  1. Silisifikasi rendah dicirikan oleh penampakan yang kusam, kepadatan yang kurang meskipun sudah di poles;
  2. Silisifikasi sedang dicirikan oleh penampakan mengkilap setelah dipoles;
  3. Silisifikasi tinggi dicirikan oleh penampakan mengkilap setelah dipoles dan sebagian trasparan;
  4. Silisifikasi sangat tinggi dicirikan oleh penampakan mengkilap dan seluruh bagiannya transparan.

Sebagian dari jenis fosil kayu dengan silisifikasi sangat tinggi mempunyai penampakan bening hampir seperti Kristal. Untuk jenis fosil kayu ini diyakini mempunyai genesa yang berbeda, yaitu adanya pengaruh larutan hidrotermal yang naik ke permukaaan, kemudian mengisi di ruang yang ditinggalkan oleh zat kayu.

Penutup

Dari uraian tentang keterdapatan dan proses terbentuknya fosil kayu di wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten sebagaimana disebutkan diatas dan dari sumber tulisan lain sebelumnya, fosil kayu di wilayah ini memiliki keragaman yang luar biasa unik mulai dari bentuk, ukuran dan keterjadian. Padahal keterdapatannya sudah semakin langka disebabkan adanya penggalian terus menerus dalam jumlah besar. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah konservasi untuk menjaga kelestariannya sehingga keunikannya dapat dinikmati secara berkelanjutan, selain itu menjadi bahan yang sangat menarik untuk penelitian khususnya dalam pengembangan pengetahuan kebumian lebih khusus dalam hal sejarah geologi di wilayah keterdapatan fosil kayu dan sekitarnya. Salah satu langkah pelestarian yang bisa dilakukan dalam waktu dekat dan dengan cara tidak rumit adalah dengan membuat sebuah taman wisata batu di lokasi sekitar temoat keterdapatan batusempur, misalnya di daerah Kawasan Penunjang Bendungan Karian, Sajira, Kabupaten Lebak.

 

Literatur

  • Tata Henda, 2018, Prospek pengembangan geowisata melalui pembangunan taman batu, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Banten
  • Tata Henda, 2015 Mengenal Batusempur dan Kalimaya, Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten.
  • Sutikno Bronto, 2012, Publikasi Khusus, Geologi Gunung Api Purba, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral;
  • Ansori, 2010, Model Mineralisasi Pembentukan Opal Banten, Jurnal Geologi Indonesia Vol 5, No. 3, Spetember 2010;
  • Abidin, HZ., 2008, Fosil Kayu, Indikasi Kehidupan Prasejarah di Kubah Bayah, Warta Geologi vol 3, no.2, Badan Geologi Bandung;
  • Sujatmiko dan S. Santosa, 1992, Peta Geologi Lembar Leuwidamar, Jawa, skala 1 : 100.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi,
  • E. Rusmana, K. Suwitodirdjo dan Suharsono, 1991, Peta Geologi Lembar Serang, Jawa, skala 1 : 100.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi,
  • Annibale Mottana dkk, 1977, Simon & Schusters Guide to Rocks & Minerals;
  • Whitten, D.G.A., with Brooks, J.R.V., 1972, The Penguin Dictionary of Geology, Middlesex, England;

 

 

 

 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan