MANIFESTASI DAN PEMANFAATAN LANGSUNG (DIRECT USE) PANAS BUMI DI PROVINSI BANTEN


Oleh: Maulana Chaidir Malik, ST.

 

PEMANFAATAN LANGSUNG

Pernahkan anda melakukan terapi ataupun relaksasi di tempat pemandian air panas?


Tubuh akan terasa segar dan pikiran menjadi tenang setelah beberapa lama berendam di kolam yang panasnya masih dapat ditoleransi oleh tubuh sambil menikmati pemandangan alam di sekelilingnya. Tempat pemandian seperti ini adalah pemanfaatan langsung (direct use) dari panas bumi yang berada di daerah itu.

Gambar 1 Contoh pemanfaatan langsung panas bumi.

“Pemanfaatan Langsung” panas bumi adalah kegiatan usaha pemanfaatan energi dan/atau fluida panas bumi untuk keperluan non-listrik, baik untuk kepentingan umum maupun untuk kepentingan sendiri(1). Atau secara ringkasnya memanfaatkan energi panas bumi untuk keperluan selain pembangkitan listrik yang disesuaikan dengan temperatur yang dibutuhkan. Potensi pemanfaatan langsung sangat bergantung kepada karakteristik sumber reservoir dan kondisi alam di sekitarnya.

Pada umumnya karakteristik sumber energi panas bumi di Indonesia terletak di sekitar wilayah pegunungan yang dikelilingi oleh area pertanian, perkebunan, hutan, peternakan, perikanan, dan tempat wisata air. Di daerah-daerah seperti ini, seperti halnya di Provinsi Banten dan Jawa Barat, energi panas bumi dapat dimanfaatkan langsung untuk proses pengawetan dan pengeringan produk pertanian, sterilisasi media tanam, pasteurisasi produk peternakan, pemanas ruangan, pemandian air panas, penyamakan kulit, penghangatan tanah, peningkatan biogas, pembuatan gula tebu, dan lain-lain(2).  

PANAS BUMI ADALAH ENERGI BERSIH DAN TERBARUKAN

Panas bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan(3).

Energi panas bumi bersifat ramah lingkungan bila dibandingkan dengan jenis energi lainnya sehingga dikatakan sebagai energi bersih yang bila dikembangkan secara masif akan mengurangi bahaya efek rumah kaca yang saat ini menyebabkan pemanasan global. Sumber energi panas bumi bersifat terbarukan (renewable) karena cenderung tidak akan habis, dimana proses pembentukannya yang terus menerus selama kondisi lingkungannya (geologi dan hidrologi) dapat terjaga keseimbangannya.

Indonesia sesungguhnya beruntung karena memiliki kurang lebih 30% potensi energi panas bumi yang ada di dunia. Hingga saat ini di Indonesia telah teridentifikasi 265 lokasi sumber energi panas bumi dengan potensi mencapai sekitar 28,1 GWe atau setara dengan 12 (duabelas) milyar barel minyak bumi untuk masa pengoperasian 30 tahun.

BAGAIMANA TERJADINYA PANAS BUMI DI BANTEN

Potensi energi panas bumi yang besar tersebut disebabkan oleh posisi kepulauan Indonesia yang terletak pada pertemuan antara tiga lempeng besar yaitu Eurasia, Hindia Australia dan Pasifik. Hal ini menjadikannya memiliki tatanan tektonik yang kompleks. Subduksi antar lempeng benua dan samudra menghasilkan suatu proses peleburan magma dalam bentuk partial melting batuan mantel dan magma mengalami diferensiasi pada saat perjalanan ke permukaan proses tersebut membentuk kantong – kantong magma yang berperan dalam pembentukan jalur gunung api yang dikenal sebagai lingkaran api(ring of fire). Munculnya rentetan gunung api Pasifik di sebagian wilayah Indonesia beserta aktivitas tektoniknya dijadikan sebagai model konseptual pembentukan sistem panas bumi Indonesia.

Untuk wilayah admistratif Provinsi Banten, morfologi atau fisiografinya secara umum terdiri dari pegunungan dan menjadi bagian dari geologi regional yang ternyata merentang dari barat di Provinsi Banten ke timur hingga Provinsi Jawa Barat. Oleh karena itu tinjauan terhadap di Provinsi Banten tidak dapat dilakukan berdasarkan wilayah administratif yang telah ditetapkan pemerintah, tetapi harus ditinjau secara utuh sebagai bagian dari kesatuan geologi regional yang terbagi dalam enam zona fisiografis.

Fisiografi daerah di Provinsi Banten dan Jawa Barat(4) adalah :

  1. Zona Pegunungan Selatan
  2. Pungggungan Zona Depresi Tengah
  3. Zona Depresi Tengah
  4. Zona Bogor
  5. Zona Dataran Pantai Jakarta, dan
  6. Zona Gunung Api Kuarter

Gambar 2 - Fisiografi Daerah provinsi Jawa Barat dan Banten (modifikasi Van Bemmelen, 1949).

 

SISTEM PANAS BUMI

Berdasarkan tatanan geologi, sistem panas bumi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu : 

  1. vulkanik,
  2. vulkano – tektonik
  3. Non-vulkanik

Sistem panas bumi vulkanik adalah sistem panas bumi yang berasosiasi dengan gunung api api Kuarter yang umumnya terletak pada busur Vulkanik Kuarter yang memanjang dari Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, sebagian Maluku dan Sulawesi Utara.

Sistem panas bumi yang ada di Banten termasuk ke dalam tipe vulkanik (gunung api) atau memiliki sumber panas yang berasal dari magma di bawah gunung api. Dengan demikian, daerah panas bumi di Banten termasuk ke dalam wilayah pegunungan dan berbukit-bukit.

Pembentukan sistem panas bumi ini biasanya tersusun oleh batuan vulkanik menengah (andesit-basaltik) hingga  asam dan umumnya memiliki karakteristik reservoir pada kedalaman 1,5 km dengan temperature reservoir tinggi ekivalen 250°  hingga 370°C. Berdasarkan pada jenis fluida produksi dan jenis kandungan fluida utamanya, sistim panas bumi dibedakan menjadi dua, yaitu sistim satu fasa atau sistim dua fasa.

Sistim dua fasa dapat merupakan sistem dominasi air atau sistem dominasi uap. Sistim dominasi uap merupakan sistim yang sangat jarang dijumpai dimana reservoir panas buminya mempunyai kandungan fasa uap yang lebih dominan dibandingkan dengan fasa airnya. Rekahan umumnya terisi oleh uap dan pori‐pori batuan masih menyimpan air. Reservoir air panasnya umumnya terletak jauh di kedalaman di bawah reservoir dominasi uapnya. Sistim dominasi air merupakan sistim panas bumi yang umum terdapat di dunia dimana reservoirnya mempunyai kandungan air yang sangat dominan walaupun “boiling” sering terjadi pada bagian atas reservoir membentuk lapisan penudung uap yang mempunyai temperatur dan tekanan tinggi. Dibandingkan dengan temperatur reservoir minyak, temperatur reservoir panas bumi relatif sangat tinggi, bisa mencapai 3500°C.

Berdasarkan pada besarnya temperatur(5), membedakan sistem panas bumi menjadi tiga, yaitu:

  1. Sistim panas bumi bertemperatur rendah

Sistim mempunyai karakteristik reservoirnya mengandung fluida dengan temperatur lebih kecil dari 125°C.

  1. Sistim/reservoir bertemperatur sedang

Sistim mempunyai karakteristik reservoirnya mengandung fluida bertemperatur antara 125°C dan 225°C.

  1. Sistim/reservoir bertemperatur tinggi

Sistim mempunyai karakteristik reservoirnya mengandung fluida bertemperatur diatas 225°C.

 

Sistim panas bumi seringkali juga diklasifikasikan berdasarkan entalpi fluida yaitu sistim entalpi rendah, sedang dan tinggi. Kriteria yang digunakan sebagai dasar klasifikasi pada kenyataannya tidak berdasarkan pada harga entalphi, akan tetapi berdasarkan pada temperatur mengingat entalphi adalah fungsi dari temperatur. Pada Tabel dibawah ini  ditunjukkan klasifikasi sistim panas bumi yang biasa digunakan.

 

Tabel 1. Klasifikasi Sistem Panas Bumi

 

Klasifikasi

Muffer &

Cataldi (1978)

Benderiter &

Cormy (1990)

Haenel, Rybach &

Stegna (1988)

Hochestein

(1990)

Sistim panas bumi

entalphi rendah

<90°C

<100°C

<150°C

<125°C

Sistim panas bumi

entalphi sedang

90‐150°C

100‐200°C

125‐225°C

Sistim panas bumi

entalphi tinggi

>150°C

>200°C

>150°C

>225°C

 

APA ITU MANIFESTASI PANAS BUMI?

Bagi pembaca yang belum mengenal ilmu geologi atau panas bumi mungkin akan bertanya-tanya apa itu manifestasi panas bumi?

Manifestasi panas bumi adalah air atau uap serta gas panas yang muncul di permukaan tanah setelah secara alami menerobos dan mengalir melalui bagian yang peremaebilitasnya kecil atau yang berporositas besar. Manifestasi panas bumi dapat berupa mata air panas, mata air hangat, kolam lumpur, tanah beruap, tanah hangat, fumarola, solfatara, rembesan sungai, dan geyser.

Komposisi senyawa kimia terlarut dalam air atau uap, serta gas pada manifestasi panas bumi dapat merupakan produk hasil reaksi yang terjadi antara gas-gas tersebut dengan oksigen (reaksi oksidasi-reduksi) atau hasil interaksi antara fluida panas dengan mineral tertentu yang terkandung pada batuan.

Manifestasi yang umumnya dijumpai di Indonesia, khususnya Banten adalah berupa mata air panas, hangat, kolam lumpur, tanah beruap dan fumarola. 

 

JENIS-JENIS MATA AIR PANAS

Berdasarkan kemunculannya, mata air panas dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis sebagai berikut :

  1. Mata Air Panas Klorida

    Mata air panas klorida adalah mata air panas, dengan pH netral atau mendekati netral (pH 6-7). Mata air ini di asosiasikan sebagai fluida yang keluar langsung dari reservoir bersistem temperatur tinggi dan kemunculannya mengandung gas terlarut utama ada CO2 dan H2S. Mata air mineral alami ini kaya klorida ini memiliki jumlah klorida antara 0,5-3%.

 

  1. Mata Air Panas Asam Bikarbonat

    Mata air panas jenis ini mengandung banyak CO2 yang merupakan produk dari hasil kondensasi uap dan gas dengan air bawah tanah yang dingin. Fluida ini mempunyai pH mendekati netral karena CO2dari HCO3 hilang karena proses pelarutan.

  1. Mata Air Panas Asam Sulfat

    Mata air panas asam sulfat terbentuk dari hasil kondensasi gas H2S dekat permukaan yang kehilangan oksigen/teroksidasi dengan air tanah di zona bawah permukaan di atas muka air tanah pada kedalaman < 100 m. Fluida jenis ini akan muncul pada jenis manifestasi kolam lumpur dan mata air panas lumpur.

   

MANFAAT TERAPI DENGAN MATA AIR PANAS

Hasil beberapa penelitian mineral menunjukkan bahwa mandi air panas dapat menjadi terapi untuk beberapa gangguan kesehatan. Manfaat mandi dengan masing-masing mata air panas dapat dilihat pada tabel berikut.

Jenis Mata Air Panas

Manfaat

1.

Mata Air Panas Klorida

  1. Rematik
  2. Arthritis
  3. Kondisi sistem saraf pusat
  4. Gangguan pasca trauma
  5. Gangguan pasca operasi
  6. Penyakit ortopedi
  7. Penyakit ginekologi

2.

Mata Air Panas Asam Bikarbonat

 

  1. Membuka pembuluh darah perifer Arthritis
  2. Mampu mengatasi hipertensi dan aterosklerosis ringan (optimal dilakukan pada air dengan temperatur 30oC-38oC)
  3. Membantu mengatasi penyakit jantung Penyakit ortopedi
  4. Membantu mengatasi ketidakseimbangan sistem saraf

3.

Mata Air Panas Asam Sulfat

 

  1. Membantu mengatasi infeksi kulit
  2. Membantu mengatasi gangguan pernafasan
  3. Membantu mengatasi permasalahan radang kulit
  4. Membantu mengatasi permasalahan hati dan gastrointestinal
  5. Membantu mengatasi beberapa permasalahan pernapasan dengan terapi inhalasi

 

MANIFESTASI PANAS BUMI DI BANTEN

Di Provinsi Banten, manifestasi panas bumi hanya terdapat di tiga kabupaten, yaitu di Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Distamben Provinsi Banten pada tahun 2013 telah melaksanakan identifikasi dan survey lapangan titik-titik manifestasi panas bumi di ketiga wilayah tersebut dengan kesimpulan sebagai berikut :

  1. Titik mata air panas berjumlah : 65 titik terdiri :
    1. Kabupaten Serang   : 36 titik tersebar di 5 kecamatan
    2. Kabupaten Pandeglang     : 19 titik tersebar di 6 kecamatan
    3. Kabupaten Lebak    : 10 titik tersebar di 5 kecamatan
  2. Mata air panas yang di temukan di daerah penyelidikan umumnya bersuhu :
  1. Manifestasi air panas di Kabupaten Serang    : 29oC - 56oC.
  2. Manifestasi air panas di Kabupaten Pandeglang        : 31oC - 63oC.
  3. Manifestasi air panas di Kabupaten Lebak      : 31oC - 63oC.
  1. Derajat keasaman (pH) air panas di ketiga wilayah tersebut umumnya netral, yaitu  antara 6 - 8.
  2. Berdasarkan hasil analisa kimia menunjukan kandungan bikarbonat pada air panas  lebih tinggi dibandingkan dengan klorida dan sulfat
  3. Berdasarkan geologi lokasi manifestasi mata air panas umumnya berada pada batuan gunung api muda yang dikontrol oleh struktur.
  4. Potensi mata air panas di wilayah Provinsi Banten baik yang berada di Kabupaten Serang, Pandeglang, maupun Kabupaten Lebak belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal. Saat ini potensi air panas hanya digunakan oleh masyarakat atau penduduk setempat untuk keperluan sehari-hari saja.

 

MANIFESTASI PANAS BUMI DI KABUPATEN SERANG

Manifestasi panas bumi di wilayah Kabupaten Serang secara umum terkumpul di sekitar Cidanau. Hasil pendataan di lapangan menyimpulkan terdapat kurang lebih 36 lokasi atau titik mata air panas, di lima kecamatan yaitu :

  1. Kecamatan Padarincang    : 24 titik lokasi mata air panas
  2. Kecamatan Cinangka    : 7 titik lokasi mata air panas
  3. Kecamatan Anyer         : 2 lokasi mata air panas
  4. Kecamatan Mancak      : 2 lokasi mata air panas
  5. Kecamatan Taktakan :      1 lokasi mata air panas

 

 

Mata air panas di Kabupaten Serang secara umum suhunya berada dibawah titik didih. Ada beberapa penyebab turunnya suhu mata air panas ini saat muncul di permukaan, antara lain memang suhu fluida panas ini tidak tinggi sejak dari sumbernya. Kemungkinan lain adalah mata air tersebut letaknya jauh dari sumber sehingga terjadi penurunan suhu dalam perjalanan menuju permukaan. Dan dimungkinkan juga terjadi pengenceran oleh air dingin sebelum mencapai permukaan.

 

Kecamatan Padarincang adalah daerah dengan lokasi mata air panas terbanyak di Kabupaten Serang. Lokasi-lakasi mata air di kecamatan ini umumnya terkumpul di Desa Citasuk dimana terdapat 17 lokasi mata air panas dengan suhu antara 35o - 50oC.

 

Desa Batukuwung memiliki dua lokasi mata air panas dengan suhu tertinggi antara 55o - 56oC. Dari hasil pengukuran pH rata-rata berada pada rentang antara pH 6 - 8, tetapi umumnya berkisar antara pH 7 - 8, atau cenderung  netral.  Nilai pH yang variatif antara 6 - 8 menggambarkan bahwa pH daerah penyelidikan bersifat sedikit asam hingga basa lemah.  Sifat asam atau basa mata air panas dapat dipengaruhi oleh jenis batuan reservoirnya(6)

 

Nilai keasaman atau kebasaan suatu mata air panas secara tidak langsung juga dapat menggambarkan tipe mata air panas. Mata air panas asam termasuk kedalam tipe mata air panas sulfat, sedangkan yang pH netral cenderung pada tipe mata air panas bikarbonat. Di ketiga wilayah kabupaten yang disurvey, umumnya pH mata air panas bersifat netral dan dari hasil analisa kimia menunjukan kandungan bikarbonat (HCO3) yang lebih tinggi dibanding unsur klorida dan sulfat sehingga cenderung bertipe bikarbonat.

 

Meskipun demikian, asal dan temperatur kedua reservoar ini adalah  sama, yaitu berasal dari air meteorik hasil pemanasan proses volkanomagmatik dengan temperatur berkisar antara 180 dan 280°C. Selanjutnya, air panas bumi yang berasal dari reservoar mengalir ke atas. Di bagian lain di daerah penyelidikan, air panas mengalir secara lateral dan bercampur dengan air HCO3 dan SO4 yang terbentuk di dekat permukaan karena proses steam heating.

 

Alterasi hidrotermal yang terbentuk di permukaan dapat dijumpai di sekitar mata air Batukuwung  dan Gunung Tangkuang. Di manifestasi panas bumi lain, yaitu di Anyer, Sadatani dan Cipanas Hilir tidak dijumpai alterasi permukaan. Alterasi hidrotermal didominasi oleh kehadiran endapan travertin yang bertekstur khas impure micritic travertine(8). Alterasi permukaan lain yang terbentuk adalah sinter silika yang memperlihatkan tekstur palisade microfacies yang terdiri dari sekitar 0,2 mm struktur micropillar yang tidak menerus tetapi bersifat kompak. Alterasi ini terbentuk di Batukuwung. Sinter silika juga hadir di sekitar. Di sini, sinter silika berasosiasi dengan oksida besi, smektit dan kaolinit(9).

 

Karakteristik alterasi batuan di sekitar beberapa mata air panas menunjukkan, bahwa mineral penyusun endapan sinter telah mengalami perubahan dari bentuk amorf ke mikrokristalin. Sesuai dengan Herdianita et al. (2000) dalam Herdianita, Jurnal Geoaplikasi Vol 2, No.3 Tahun 2007,  yang menyebutkan tentang aging endapan sinter silika, aktivitas panasbumi di daerah penelitian diperkirakan telah berlangsung lebih dari 10 ribu tahun. Selama waktu tersebut, aktivitas panas bumi di daerah penelitian juga telah mengalami pendinginan. Hal ini ditunjukkan oleh kehadiran fosil endapan travertin dan sinter silika di beberapa mataair panas di daerah penelitian, seperti di Kareos dan Batukuwung, yang kini tidak terbentuk lagi.

 

Di wilayah Kabupaten Serang ini terdapat sekitar 5 titik lagi yang belum diidentifikasi. Kelima titik ini tidak termasuk 36 titik yang telah jelaskan di atas. Jadi total potensi manifestasi panas bumi di Kabupaten Serang adalah 41 titik. Informasi tentang hal ini berdasarkan keterangan dari petugas BKSDA, namun kelima titik tersebut tidak dilakukan survey dan penelitian sehubungan berada di kawasan konservasi yang tertutup untuk segala macam aktivitas termasuk dalam rangka penelitian.

 

Galeri Foto Manifestasi Panas Bumi - Kabupaten Serang

 

Titik manifestasi panas bumi di Desa Batukuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang.

 

Manifestasi ini sudah dimanfaatkan menjadi Objek Wisata Pemandian Air Panas.

 

Salah satu titik manifestasi panas bumi lainnya yang ada di Desa Batukuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang

 

Titik manifestasi panas bumi di Kp. Batuceper, Desa Citasuk, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang.

 

Manifestasi ini berbentuk kolam dan belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat sekitar.

 

Titik manifestasi panas bumi di Kp. Batuceper, Desa Citasuk, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang.

 

Manifestasi ini berada di pinggir kebun salak milik penduduk setempat.

 

Titik manifestasi panas bumi di Kp. Ciraab, Desa Cikolelet, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang.

 

dijumpai di bagian utara kawasan Manifestasi ini Rawa Danau.

Titik manifestasi panas bumi di yang berada di Kp. Ciraab, Desa Cikolelet, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang

 

Manifestasi ini mulai dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pemandian.

Titik manifestasi panas bumi di Kp. Cipanas Balekambang, Desa Citasuk, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang.

 

Mata air ini digunakan sebagai sarana tempat wudhu bagi yang ingin menjalankan ibadah sholat di masjid.

Titik manifestasi panas bumi di Kp. Cipanas, Desa Cipasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang.

 

Manifestasi ini merupakan satu–satunya titik air panas yang berada di wilayah ini.

Titik manifestasi panas bumi di Kp. Citasuk Bendungan, Desa Citasuk, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang.

 

Titik ini merupakan bagian dari manifestasi panas bumi di wilayah ini yang digunakan sebagai lokasi pemandian.

Titik manifestasi panas bumi di Kp. Jumpari, Desa Cikedung, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang.

 

Manifestasi ini menjadi sumber mata air bagi penduduk sekitar pada musim kamarau.

Titik manifestasi panas bumi di Kp. Kareo, Desa Sindang Karya, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang.

 

Manifestasi ini berada di tengah–tengah sawah dan banyak dikunjungi oleh masyarakat Anyer untuk dimanfaatkan sebagai sarana kolam pemandian.

Titik manifestasi panas bumi di Kp. Sedatani, Desa Kubang Baros, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang.

 

Manifestasi ini kurang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

Titik manifestasi panas bumi di Kp. Wangon, Desa Kalumpang, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang.

 

Manifestasi ini mempunyai ciri khas bau belerang yang cukup menyengat dan keluar melalui celah–celah batuan.

Sumber foto : Hasil Pengamatan Lapangan, Laporan Identifikasi Manifestasi Panas Bumi Provinsi Banten, 2013

 

Manifestasi Panas Bumi di Kabupaten Pandeglang

Kabupaten Pandeglang memiliki 16 titik manifestasi panas bumi yang umumnya dijumpai berupa mata air panas. Lokasi mata air panas tersebut tersebar di 6 kecamatan, yaitu :

  1. Kecamatan Cisata    :       2 lokasi yang keduanya berada di Desa Palembang
  2. Kecamatan Pulosari  :       1 lokasi di Desa Cilentung
  3. Kecamatan Banjar    :       2 lokasi di Desa Cibodas dan Desa Citalahab
  4. Kecamatan Kaduhejo        :         7 lokasi di Desa Sukamanah
  5. Kecamatan Carita    :       4 lokasi di Desa Sukarame dan Desa Sukanegera
  6. Kecamatan Cigeulis :       1 lokasi di Desa Ciseureuheun

Manifestasi panas bumi di wilayah Pandeglang dijumpai di sekitar daerah Gunung Karang, Gunung Aseupan, Gunung Pulosari hingga di tepi pantai daerah Carita. Di Gunung Karang dan Gunung Pulosari masih dijumpai adanya kawah yang sudah tidak aktif lagi. Kumpulan gunung-gunung ini diperkirakan merupakan  gunung api muda yang muncul setelah pembentukan daerah depresi. Di beberapa tempat terdapat asap yang mengepul sebagai fumarola dan mata air panas.

Suhu rata-rata sumber mata air panas di lokasi-lokasi ini berkisar antara 32oC - 63oC. Suhu mata air tertinggi tercatat 42oC – 63oC yang terdapat di mata air panas Cisolong di Desa Sukamanah, Kecamatan Kaduhejo. Di lokasi ini terdapat 7 (tujuh) sumber mata air panas dan telah dimanfaatkan sebagai tempat daerah wisata pemandian air panas.

Gambar 3 – Titik Manifestasi Panas Bumi Cisolong dikelola oleh Disbudpar Kab. Pandeglang

Pertamina pernah melakukan pemboran dalam dengan kedalaman 2.500 m di daerah utara lokasi Cisolong, namun tidak menghasilkan uap panas dan suhu yang sesuai harapan sehingga titik pemboran ini ditutup. Saat ini bekas lokasi ini masih dapat terlihat jelas disana.

 

Galeri Foto Manifestasi Panas Bumi - Kabupaten Pandeglang

 

Titik Eks Pemboran Panas Bumi yang pernah dilakukan Pertamina di Kecamatan Kaduhejo

Titik Manifestasi di Kp. Bulagor (LP1) Desa Palembang, Kecamatan Cisata

Satu – satunya Titik Manifestasi Panas Bumi di Kp. Cilentung Desa Cilentung, Kecamatan Pulosari Kabupaten Pandeglang.

Manifestasi ini mempunyai ciri khas bau belerang yang cukup menyengat.

Titik Manifestasi Panas Bumi di Kp. Cibiuk Desa Cibodas, Kecamatan Banjar.

Manifestasi ini terbentuk karena adanya proses struktur geologi.

Titik Manifestasi Panas Bumi di Kp. Sumur, Desa Citalahab, Kecamatan Banjar.

 

Manifestasi ini berada di tengah–tengah sawah dan masih belum diketahui  proses tebentuknya.

 

Titik Manifestasi Panas Bumi di Kp. Cisolong, Desa Sukamanah, Kecamatan Kaduhejo

Manifestasi ini merupakan bagian dari blok mata air panas Cisolong.

Titik Manifestasi Panas Bumi di Kp. Cisolong, Desa Sukamanah, Kecamatan Kaduhejo

Manifestasi inilah yang mempunyai titik suhu air panas tertinggi diantara Titik Manifestasi Panas Bumi di wilayah ini

Aliran air panas yang bersumber dari beberapa titik manifestasi di Kp. Cisolong, Desa Sukamanah, Kecamatan Kaduhejo.

Titik Manifestasi di Cisolong yang berada di tepi sawah milik masyarakat

Titik manifestasi panas bumi di sekitar Pantai Carita.

Saat ini sudah menjadi Objek Wisata Sunda Datu berupa Pemandian Air Panas.

Pemandian Air Panas di Kawasan Wisata Carita (Saung Akang) yang memanfaatkan Pemandian Air Panas Saung Akang di Kawasan Wisata Carita.

Obyek wisata ini memanfaatkan potensi manifestasi panas bumi yang muncul di sekitar Pantai Carita.

Manifestasi Panas Bumi di Komplek Vila Adrian di sekitar Pantai Carita.

Manifestasi ini muncul karena hasil pengeboran.

 

MANIFESTASI PANAS BUMI DI KABUPATEN LEBAK

Kabupaten Lebak memiliki 9 (sembilan) titik lokasi mata air panas di 4 (empat) kecamatan, yaitu :

  1. Kecamatan Sobang :   4 titik
  2. Kecamatan Cibeber     :   3 titik
  3. Kecamatan Malingping      :         2 titik
  4. Kecamatan Cipanas     :   1 titik

Manifestasi mata air panas di wilayah Sobang dan Cipanas diperkirakan merupakan mata air panas yang berasal dari blok yang sama yaitu Gunung Endut sedangkan Malingping dan Cibeber berasal dari sumber yang berbeda.

a. Panas Bumi Blok Gunung Endut

Panas bumi di blok Gunung Endut saat ini telah ditetapkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjadi Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi Gunung Endut pada tanggal 21 April 2011.

Manifestasi atau gejala panas bumi di permukaaan yang dijumpai di daerah Gunung Endut berupa mata air panas dan batuan ubahan. Beberapa mata air panas muncul di daerah ini dengan temperatur berkisar antara 53°C hingga 80 °C.  Selain itu juga dijumpai lokasi-lokasi yang mengalami ubahan (alterasi) pada batuan akibat kegiatan hidrotermal.

Batuan ubahan/ alterasi ditemukan di sekitar manifestasi Cikawah terdiri dari silicified brecciated andesite, lempung argilik (argilic clay) yang kaya mineral opal (opaline silica), dan setempat ditemukan chlorite dominan. Batuan ubahan tersebut berwarna abu-abu keputih-putihan, merah dan kekuningan. Warna-warna tersebut umumnya dipengaruhi oleh proses oksidasi, hematisasi dan sulfida yang terkandung di dalam batuan ubahan tersebut. Di daerah Handeuleum umumnya berupa lempung argilik (argilic clay), sementara didaerah Citoko dan Cibarani diduga sebagai fosil hidrotermal berupa ubahan argilik.

 

Singkapan lava Gunung Endut

Alterasi batuan tuf di dekat pemunculan manifestasi air panas

 

Air panas Cikawah 1 mempunyai pH  netral (pH = 7,98), temperaturnya 88 oC, daya hantar listrik 860 μS/cm, dengan debit 5 l/detik terletak Desa Sobang di bagian tengah pada daerah G. Endut  6 km ke bagian barat dari G. Endut. Bualan air panas terdapat pada batuan andesit tersilisifikasi pada air sungai Cikawah.

Air panas Cikawah 2, muncul 50 meter di sebelah barat dari lokasi Air panas Cikawah 1, menunjukkan temperatur 53 oC, dengan pH netral (7,74), daya hantar listrik 510 μS/cm.

Air panas Handeuleum, muncul 2 km ke arah barat dari lokasi Ap. Cikawah atau 8 km kearah barat dari G. Endut, menunjukkan temperatur 57 oC, dengan pH netral (7.70), dengan  daya hantar listrik 585 μS/cm.

Air panas Gajrug, muncul  di luar lokasi 15 km ke arah barat dari G. Endut atau 10 km ke arah timur laut dari lokasi Ap. Cikawah, menunjukkan temperatur 61.5 oC, dengan pH netral (6.74), dengan daya hantar listrik 515 μS/cm.

Temperatur mata air panas Gn. Endut di permukaan berkisar antara  53oC - 80oC, dengan pH netral. Mata air panas di Cikawah 1, memiliki temperatur tertinggi (88 oC), pH netral (pH = 7,98), di lokasi tersebut juga terdapat silika sinter. Mata air panas ini bertipe air panas klorida, karena memiliki kadar klorida yang tinggi  dan didukung dengan dijumpainya sinter silika pada batuan andesit di sekitar pemunculan air panasnya. Fluida uap panas berhubungan dengan sumber panas bumi yang berinteraksi dengan batuan di sekitarnya dan terjadi pencampuran dengan  air permukaan membentuk pemunculan mata air panas bersifat  netral (pH = 7.98).

Sedangkan mata air panas Cikawah 2, mata air panas Handeuleum dan Air panas Gajrug bertipe air panas bikarbonat, dengan perbandingan konsentrasi sulfat dan kloridanya hampir sama dengan konsentrasi bikarbonat.

Berdasarkan persamaan geotermometer SiOdan NaK diperoleh nilai temperatur 162oC dan 181oC, maka temperatur bawah permukaan di daerah G. Endut G. Endut adalah sekitar 180oC yang termasuk kedalam tipe temperatur sedang (Tim Survey Terpadu, 2011).

 

Mata air panas Cikawah sebagai manifestasi potensi panas bumi Gunung Endut

Mata air panas Handeuleum di sekitar Kp. Handeuleum

Mata air panas sebagai manifestasi potensi panas bumi di pinggir jalan raya

Pemunculan mata air panas di kolam pemandian

 

b. Panas Bumi Blok Cibeber dan Malingping

Di daerah Malingping  terdapat 2 (dua) lokasi manifestasi panas bumi berupa mata air panas di Desa Senag Hati, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak. Kedua lokasi tersebut terletak di kampung Citando yaitu Citando 1 dan Citando 2.

Panas bumi blok Cibeber terletak di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Lokasinya meliputi daerah aliran Sungai Cipamancalan, Desa Sukamulya, Kecamatan Cibeber. Di blok Cibeber atau dikenal dengan nama lokasi Pamancalan karena berada pada aliran sungai Cipamancalan terdapat 3 (tiga) sumber mata air panas yaitu Cipamancalan 1, Cipamancalan 2 dan Cipamancalan 3.

Berdasarkan hasil analisis kimia air panas maka air panas Pamancalan termasuk pada tipe sulfat - bikarbonat. Dalam air panas Pamancalan adanya bikarbonat berasosiasi dengan naiknya fluida panas bumi yang mengandung gas CO2 dan terkondensasi pada akuifer dangkal. Tipe air panas bikarbonat terbentuk di bawah muka air tanah. Tipe air panas sulfat bikarbonat dengan pH netral diperkirakan terjadi karena adanya netralisasi dengan terlepasnya unsur CO2 dan adanya pengenceran oleh air tanah pada fluida asal ketika dalam perjalanan ke permukaan.

Air panas Pamancalan berada pada immature water sebagai indikasi manifestasi yang muncul kepermukaan dipengaruhi oleh interaksi antara fluida dengan batuan dalam keadaan panas, juga bercampur dengan air permukaan (meteoric water) bila di plot dalam diagram segitiga Na-K dan K-Mg maka termasuk kedalam temperatur sedang (160oC). Berdasarkan pada perhitungan potensi dengan luas daerah prospek (+ 3 km2)  dan pendugaan temperatur geothermometer air 160oC dengan asumsi ketebalan reservoir 1,5 km maka diperoleh total potensi kelas sumber daya hipotetik sebesar 20 Mwe.

 

Mata air panas sebagai manifestasi potensi panas bumi Senang Hati

Manifestasi panas bumi di Kp. Citando, Desa Senang Hati, Kecamatan Malingping

Pemunculan mata air panas pada batupasir

Mata air panas Cipamancalan sebagai manifestasi potensi panas bumi Pamancalan  di Sungai Cipamancalan

Mata air panas Cipamancalan sebagai manifestasi potensi panas bumi Pamancalan  di Sungai Cipamancalan

Titik-titik manifestasi panas bumi yang telah diidentifikasi ini dapat dikembangkan sebagai kawasan  wisata dan memerlukan koordinasi antar lembaga pemerintahan seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, Dinas Kehutanan, Badan Pertanahan Nasional, Dinas Perindustrian, dan Dinas Lingkungan Hidup.

Pemanfaatan langsung manifestasi panas bumi di wilayah Provinsi Banten hampir seluruhnya berupa tempat pemandian air panas. Pemandian air panas ini dapat dikategorikan ke dalam sektor pariwisata. Untuk dapat beroperasi, kegiatan pemanfaatan langung panas bumi tersebut harus mempunyai payung hukum yang jelas agar dapat bersinergi dan tidak ada selisih hukum antara kepentingan akan energi dan sektor lainnya. Selanjutnya dalam tahapan pengembangan manifestasi panas bumi secara langsung perlu dilakukan sosialisasi (social mapping) agar masyarakat di sekitar daerah potensi panas bumi dapat ikut berpartisipasi.

Kabupaten Serang memiliki potensi untuk mengembangkan sarana dan prasarana wilayah skala kabupaten, pengembangan pemukiman, pengembangan pertanian lahan kering dan pertanian lahan basah, pengembangan ternak besar, ternak kecil, dan unggas, pengembangan industri pengelolaan air bersih, dan pengembangan perikanan air tawar, padi dan sayuran.

Kabupaten Pandeglang memiliki potensi untuk menunjang kegiatan sektor-sektor strategis/unggulan.

Kabupaten Lebak memiliki potensi untuk menjadi kawasan pusat koleksi-distribusi hasil pertanian.

 

Footnote :

  1. UU Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi
  2. Iskandar (1992)
  3. UU Nomor 27 tahun 2003 Pasal 1
  4. Modifikasi Van Bemmelen (1949)
  5. Hochstein (1990)
  6. Asdak (2004)
  7. Kusnadi (2006)
  8. klasifikasi Sant’Anna et al. (2004)
  9. Herdianita (2007)

Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan