GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

 

 

  1. KONDISI UMUM
  1. Kondisi Administratif dan Letak Geografis

Banten merupakan Provinsi ke 30 yang berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten, secara administratif terbagi atas 4 kabupaten dan 4 kota, yaitu : Kab. Serang, Kab. Pandeglang, Kab. Lebak, Kab. Tangerang, Kota Tangerang, Kota Cilegon, Kota Serang dan Kota Tangerang Selatan.

Provinsi Banten secara geografis berada pada batas astronomi 5º 7’ 50” - 7º 1’ 1” Lintang Selatan dan 105º 1’ 11” - 106º 7’ 12” Bujur Timur dan mempunyai luas wilayah 9.662,92 km² (sumber : Banten dalam Angka 2011, BPS Provinsi Banten), dengan rincian luas wilayah per Kabupaten/Kota sebagai berikut, yaitu :

 

Tabel 7. Rincian Luas Wilayah Banten

Kab/Kota

Ibukota

Jumlah Kecamatan dan Desa/Kelurahan

Luas Wilayah (Km2)

%

Kecamatan

Desa+Kelurahan

Kabupaten Pandeglang

Pandeglang

35

322+13 = 335

2.746,89

28,43

Kabupaten Lebak

Rangkasbitung

28

340+5 = 345

3.426,56

35,46

Kabupaten Tangerang

Tiga Raksa

29

246+28=274

1.011,86

10,47

Kabupaten Serang

Ciruas

28

314+0=314

1.734,28

17,95

Kota Tangerang

Tangerang

13

0+104=104

153,93

1,59

Kota Cilegon

Purwakarta

8

0+43=43

175,50

1,82

Kota Serang

Serang

6

46+20=66

266,71

2,76

Kota Tangerang Selatan

Pamulang

7

5+49=54

147,19

1,52

Jumlah

154

1.273+262=1.535

9.662,92

100

Sumber : BPS Provinsi Banten (Banten dalam Angka 2011)

 

Provinsi Banten dibatasi oleh Laut Jawa di utara, DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat di timur, Samudra Indonesia di selatan dan Selat Sunda di barat.  Selat Sunda adalah salah satu jalur international kapal laut yang menghubungkan Australia dan Selandia Baru di selatan dengan Singapura, Malaysia, Jepang dan negara-negara benua Asia lainnya di utara.

Populasi penduduk Banten sampai dengan  tahun 2010 adalah sebesar 9.782.779 jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2.382.430, dimana mayoritas menetap di wilayah Banten bagian utara.

 

Tabel 8. Rincian Jumlah Penduduk di Provinsi Banten

Kab/Kota

Jumlah Penduduk

Jumlah Rumah Tangga

Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

Kabupaten Pandeglang

589.056

560.554

1.149.610

272.937

Kabupaten Lebak

619.052

585.043

1.204.095

294.780

Kabupaten Tangerang

1.454.956

1.379.420

2.834.376

690.042

Kabupaten Serang

713.694

689.124

1.402.818

318.873

Kota Tangerang

921.043

877.558

1.798.601

475.302

Kota Cilegon

191.879

182.680

374.559

89.754

Kota Serang

297.187

280.598

557.785

126.008

Kota Tangerang Selatan

652.281

638.041

1.290.322

328.926

Jumlah

5.439.281

5.193.018

10.632.166

2.596.622

Sumber : BPS Provinsi Banten (Banten dalam Angka 2011)

 

Posisi Banten yang terletak di ujung barat Pulau Jawa dan menghubungkan dua pulau besar di Indonesia dengan jumlah kota dan penduduk paling padat, yaitu Sumatra dan Jawa, Banten mempunyai peran penting sebagai jembatan dalam pertumbuhan ekonomi di kedua pulau tersebut.

 

  1. Kondisi Indikator Ekonomi Makro
  1. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE)

Kinerja pembangunan pada aspek kesejahteraan masyarakat ditunjukkan oleh meningkatnya pertumbuhan perekonomian dengan indikatornya, yaitu Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE). Berikut adalah LPE Provinsi Banten pada 3 (tiga) tahun terakhir, 2009, 2010 dan 2011.

Tabel 9.  Capaian LPE Provinsi Banten Tahun 2009-2011 dan Perbandingannya

dengan LPE Nasional

 

Uraian

Capaian LPE

2009

2010

2011

Provinsi Banten

4,69

6,08

6,43

Nasional

4,58

6,10

6,50

Sumber: RPJMD Provinsi Banten Tahun 2007-2012

 

 

  1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Perkembangan perbaikan dan peningkatan kondisi perekonomian daerah diindikasikan pula oleh meningkatnya nilai produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Berikut adalah PDRB atas dasar Harga Berlaku pada periode tahun 2007-2011 sebagaimana terlihat pada gambar 3.

 

Gambar 3.  Grafik Perkembangan Nilai PDRB Banten

Atas Dasar Tahun 2007-2011 (Rp. Trilyun)

 

 Sumber: RPJMD Provinsi Banten Tahun 2007-2012

 

 

Dalam hal ini, struktur perekonomian Provinsi Banten sebagian besar kontribusi dari sektor sekunder (sektor industri pengolahan; sektor bangunan; sektor listrik, gas dan air bersih) sebesar 54,80%, kemudian sebesar 37,14% dari sektor tersier (sektor perdagangan, hotel dan restoran; sektor pengangkutan dan komunikasi; sektor keuangan,persewaan dan jasa perusahaan; sektor jasa-jasa). Sementara itu sebesar 8,06% berasal dari sektor primer (sektor pertanian; sektor pertambangan dan penggalian).

  1. Laju Inflasi

Sedangkan untuk laju inflasi di Provinsi Banten selama periode tahun 2007-2011 mengalami fluktuasi sesuai dengan kondisi perekonomian nasional maupun global, sebagaimana terlihat pada gambar 3. Dalam hal ini, kondisi inflasi pada level yang rendah didorong oleh relatif stabilnya kondisi pasokan komoditas bahan makanan dan makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau serta harga-harga komoditas yang ditetapkan oleh pemerintah.

 

 

Gambar 4.  Grafik Perkembangan Laju Inflasi

di Provinsi Banten ahun 2007-2011 (%)


 

Sumber: RPJMD Provinsi Banten Tahun 2007-2012

 

 

  1. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Realisasi Pendapatan Asli Daerah Provinsi Banten selama kurun waktu tahun 2007-2011, terus mengalami peningkatan sebagaimana tertera pada  Tabel 10. Berdasarkan tabel tersebut, rata-rata realisasi pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah selama 5 tahun terakhir (2007-2011) sebesar 22,96% per tahun. Jenis PAD yang mengalami rata-rata pertumbuhan tertinggi terjadi pada Pajak Daerah sebesar 22,86% per tahun, sedangkan yang paling rendah adalah Retribusi Daerah sebesar 5,94% per tahun.

 

 

Tabel10.                 Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Provinsi Banten Tahun 2007-2011 (Rp. Juta)

 

NO

URAIAN

2007

2008

2009

2010

2011 *)

1

Pendapatan Asli Daerah

1.298.365

1.661.169

1.687.751

2.321.749

2.895.570

1.1

Pajak Daerah

1.246.281

1.601.611

1.617.822

2.208.083

2.769.882

1.2

Retribusi Daerah

3.052

3.184

2.921

3.195

3.780

1.3

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

17.835

21.479

29.415

37.874

31.533

1.4

Lain-lain PAD yang Sah

31.197

34.895

37.592

72.595

90.374

 

 

 

 

 

  1. KONDISI DAN POTENSI PERTAMBANGAN DAN ENERGI DI PROVINSI BANTEN
  1. Potensi Sumber Daya Mineral, Air Tanah, Batubara, dan Panas Bumi

 

  1. Potensi Sumber Daya Mineral

Provinsi Banten mempunyai bentang alam wilayah terdiri atas pedataran sebagaimana yang terbentang antara Tangerang dan Serang, perbukitan sedang (antara Serang – Pandeglang – Cibaliung) dan perbukitan terjal yang tersebar di Bagian Selatan dengan puncak-puncak G. Sanggabuana, G. Halimun, G. Endut dan G. Nyungcung.

Keadaan bentuk bentang alam ini sangat berkaitan erat dengan kondisi geologi regional daerah Banten yang merupakan bagian dari jalur/busur magmatik berumur Tersier-Kuarter yang membentang dari ujung utara Pulau Sumatera sampai Nusa Tenggara yang dikenal sebagai Busur Magmatik Sunda-Banda (Sunda-Banda Magmatic Arc). Di daerah Banten busur ini membentuk kubah, pematang dan kerucut gunungapi yang aktif.(Lihat Gambar 2).

Kondisi geologi seperti tersebut diatas menghasilkan potensi sumber daya mineral dan  geowisata yang cukup melimpah. Daerah berbatuan gunung api tua yang diterobos oleh batuan intrusif yang lebih muda, merupakan tempat kedudukan mineralisasi logam dasar dan logam mulia seperti timbal, besi dan emas.

Sedangkan daerah berbatuan gunung api lebih muda merupakan daerah prospek untuk bahan galian industri seperti batu pasir kuarsa, batu gunung, bentonit, zeolit, lempung, toseki dan tras. Selain itu daerah berbatuan sedimen tua dan muda sangat erat kaitannya dengan keterdapatan batubara dan batu gamping. 

Sedangkan untuk potensi geowisata, bekas tambang emas Cikotok dapat dijadikan salah satu potensi unggulan yang dapat menghasilkan PAD bagi Propinsi Banten. Tambang emas Cikotok ini merupakan salah satu tambang tertua di kawasan Asia Tenggara yang masih terawat baik sehingga bisa dimanfaatkan untuk obyek pendidikan dan wisata geologi. Tempat ini bisa juga dijadikan sebagai pusat pendidikan pertambangan bagi aparatur Pemerintahan baik dari Propinsi Banten ataupun dari Propinsi lainnya. Selain itu tambang emas di Cikotok bisa juga dijadikan sebagai laboratorium alam yang akan sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan ilmu kebumian.

 

Gambar 5. Jalur Tektonik di Indonesia

Pengembangan dan peningkatan usaha bahan galian industri akan bermanfaat tidak hanya untuk meningkatkan kegiatan industri, tetapi juga akan memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah dan penggerak pengembangan wilayah khususnya perluasan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Potensi bahan galian tambang di Provinsi Banten dapat diklasifikasikan menjadi dua klasifikasi, yaitu  :

  1. Bahan galian tambang mineral logam dan
  2. Bahan galian tambang bukan logam.

 

Tabel 11.  Potensi Bahan Galian Tambang

Nama Bahan Galian

Manfaat

Lokasi Sebaran

BAHAN GALIAN LOGAM

Emas

  • Perhiasan

Kab.Lebak : Kec. Cikotok, Kec. Cikidang, Kec. Bayah(G.Endut), Kec. Kancana

 

  • Mata Uang

 

  • Bidang kedokteran untuk logam anti karat

Kab. Pandeglang : Kec. Cibaliung

 

 

Kab.Serang : Kec. Padarincang

 

 

 

Perak

Perhiasan

Kab.Lebak :Kec. Cikotok, Kec. Cikidang, Kec. Bayah(G.Endut)

 

 

 

 

Kab. Pandeglang :Kec. Cibaliung

 

 

Kab.Serang : Kec. Padarincang

 

 

 

Timah Hitam

Bahan baku campuran besi baja tahan karat

Kab. Lebak : Kec. Cikotok,  Kec. Panganggaran

 

 

 

Pasir Besi

Bahan baku besi baja

Kab. Pandeglang : Kec. Cikeusik

 

 

 

Batubesi

Bahan baku besi baja

Kab. Lebak : Kec. Cijaku, Kec. Panganggaran

 

 

 

   

BAHAN GALIAN NON LOGAM

Bentonit

  • Bahan penghisap atau zat-zat pembersih

Kab. Lebak : Kec. Bojongmanik Kec. Maja Kec. Cipanas

 

  • Bahan campuran untuk zat pemisah dalam

 

  • penyulingan minyak

Kab. Pandeglang :

 

  • Zat Pemutih

Kec.Cigeulis (desaCigeulis), Kec. Cikeusik (desa Cikondang), Kec. Pagelaran (DesaSukadanu)

 

  • Bahan katalisator

 

 

Lempung

  • Bahan campuran dalam industri semen

Kab. Lebak : Kec. Bayah, Kec. Cirompang

 

  • Bahan pembuatan batubata

 

 

Kab. Pandeglang :

 

 

Kec. Munjul (desaGunungbatu, desaBojongmanik, desa Dukuh), Kec. Bojong (desa Cijakar), Kec. Banjar (desa Cibodas), Kec. Saketi (desa Sukabungan), Kec. Cigeulis (desa Karagsambung), Kec. Cibaliung

 

 

Kab. Serang : Kec. Kragilan

 

 

Kab. Tangerang : Kec. Balaraja

 

 

Kota Serang : Kec. Tulakan

 

 

 

Zeolit

  • Bahan pembuatan bata, campuran beton, batu hias dan blok-blok pembuat dinding bangunan.

Kab. Lebak : Kec. Bayah, Kec. Gunung Kencana, Kec. Cilograng (DesaCibareno), Kec. Cibeber (Desa Cibeber)

 

  • Bidang Pertanian, tepung zeolit dari jenis klinoptiolit pada tanah dan sawah dapat meningkatkan pertumbuhan serta hasil tanaman.

 

  • Bidang peternakan, dapat dimanfaatkan sebagai bahan penambah makanan ternak

 

 

  • Bidang perikanan, sebagai pengontrol/ penyerap amonium yang dikeluarkan oleh ikan, sehingga pemeliharaan ikan dapatlebih banyak.

 

 

  • Bidang lingkungan,zeolit dapat dimanfaatkan sebagai bahan penghilang bau, penangkap ion Ca2, penyerap gas N2, O2 dan CO2, mengikat logam-logam berat.

 

 

  • Bidang industri, zeolit dapat dipakai sebagai bahan penjernih minyak kelapa sawit, untuk menyerap zat warna. Dalam Industri kertas zeolit dapat berfungsi sebagai bahan pengisi dan akan memberikan sifat yang lebih baik terhadap kertas.

 

 

 

 

Kaolin

keramik, industri elektronik, industri kosmetik, industri kertas, serta pembuatan bahan-bahan bangunan, misalnya batubata, bata yang beremail  dan sebagai refraktor untuk bata tahan api.

Kab. Lebak : Kec. Bajnarsari, Kec. Bayah

 

 

 

Opal

assesoris atau barang hiasan dinding sebagai variasi barang - barang pajangan/perhiasan

Kab. Lebak : Kec. Sajira, Kec. Maja

 

   

Kalsit

  • Alat optik, terutama untuk prisma polarisasi

Kab. Lebak : Kec.Bayah (desa BayahTimur)

 

  • Iindustri kimia sebagai bahan campuranpupuk,

 

  • untuk kosmetik,
 

 

  • Iindustri keramik, barang seni, meja marmer.

 

 

  • Bidang kedokteran dan farmasi.

 

     

Batupasir kuarsa

  • Campuran dalam industri keramik

Kab. Lebak : Kec. Bayah(Desa Bayah Barat dan Desa Bayah Timur), Kec. Panggarangan,  Kec. Banjarsari (Desa Keusik), Kec. Cimarga, Kec. Nameng

 

  • Campuran dalam industri semen portland

 

  • Bahan campuran pada industri gelas, bahan bangunan, batu asahan.

 

 

 

 

Batugamping

  • Digunakan dalam siklus industri kimia teknik, seperti pabrik gula, pabrik kapur, kalsium karbida

Kab. Lebak : Ke. Bayah (Desa Bayah Timur dan Desa Sawarna), Ke. Bojongmanik (DesaBojongmanik dan DesaParakanbeusi)

 

  • Bahan campuran keramik

 

  • Bahan baku industri kertas

 

  • Bahan baku semen porland
 

 

  • Bahan baku soda abu
 

 

  • Bahan baku pupuk fosfat

 

 

 

 

Batapung

  • Bahan-bahan poles logam dan lain-lain

Kab. Lebak : Kec. Bojongmanik, Kec. Ciregos, Kec. Maja, Kec. Panggarangan, Kec. Bayah (Desa Bayah Barat), Kec. Cimarga, Kec. Leuwidamar

 

  • Bahan campuran beton, norfar membuat bata ringan, batubata tahan api, bahan asah, plester,filter, pasta gigi, filter pada aspal

 

  • Industri Keramik

 

 

Kab. Pandeglang : Kec. Cimanggu (Desa Cimanggu)

 

 

Kota Cilegon : Kec. Ciwandan (Desa Tegalratu)

 

 

 

Batugunung (andesit - basalt)

  • Pondasi bangunan, jalan raya, jembatan dan sebagainya

Kab. Lebak : Kec. Ciawitalib(Intrusi-intrusi seperti Gunugn Bedil, Baluhbuh, Jayagempu), Kec.Sajira (G.Pango)

 

  • Bahan campuran pembuatan keramik dan bahan bangunan
     

 

 

Kab. Pandeglang :

 

 

Kec. Mandalawngi (desa Pr kondang)

 

 

Kec. Cadasari (desa Ciinjuk, desa Cadasari, desa Cikoneng)

 

 

Kec. Pandeglang (Kel. Pagarbatu, Kel. Cuhud, Kel. Pr Petemi,Kel. Kalapasan, Kel. Jaliti)

 

 

Kec. Menes (desa Sukamana, desa Munjul, desa Banjarwangi)

 

 

Kec. Cigeulis (desa Cigeulis, desa Karyabuana, desa Sinarjaya)

 

 

Kec. Cibaliung  (desa Mahendra, desa Cibaliung,

 

 

Kec. Sumur (desa Kertajaya)

 

 

 

 

 

Kab. Serang : Kec. Bojonegoro, Kec. Sajira, Kec. Pulomerak, Kec. Anyer

 

 

 

 

 

Kota Cilegon : Kec. Lebakgede, Kec. Puloampel, Kec. Purwakarta, Kec. Pabean

 

 

 

Obsidian

  • Bahan batu hias

Kab Lebak : Kec. Panggarangan

 

  • Campuran bahan bangunan kontruksi ringan
 

 

  • Bahan isolator panas dan dingin

 

 

  • Bahan peredam suara

 

 

  • Bahan penggosok

 

 

 

 

 

 

Fosfat

Pupuk

Kab. Lebak : Kec. Bayah

 

 

 

Tras

  • Bahan semen alam, bahan pembuatan batako,

Kab. Lebak : Kec. Bojongmanik, Kec. Ciregos, Kec. Maja, Kec. Panggarangan, Kec. Bayah (Desa BayahBarat), Kec. Cimarga, Kec. Leuwidamar, Kec. Cibadak

 

  • Campuran bahan bangunan

 

 

 

 

 

Jasper

Ornamen

Kab. Lebak : Kec. Bayah

 

 

 

Fosil kayu

Ornamen

Kab. Lebak : Kec. Sajira, Kec.Cipanas, Kec. Cimarga

 

 

Kab. Tangerang : Kec. Curug

 

 

 

Feldspar

Fluks dalam industri keramik, gelas dan kaca

Kab. Lebak : Kec. Cipanas

 

 

 

 

 

 Kab. Pandeglang : Kec. Banjarsari (desa Kertajaya), kec. Banjar (desa Cibodas)

 

 

 

Krisopras dan Krisokola

Bahan bangunan dan bahan campuran beton

Endapan di sepanjang sungai (ciujung, Cisadane, Liman, Binuangeun dan sungai yang lainnya)

 

 

Endapan di lereng gunung sebagai hasil endapan lahar masa(G. Gede, G. Karang)

 

 

 

Batupasir

Bahan bangunan , jalan raya, jembatan dan bahan konstruksi lainnya

Kab. Serang : Kec. Baros

 

Kota Cilegon : Kec. Bagendung

 

 

Kab. Tangerang : Kec. Cisauk, Kec. Legok, Kec. Pagedangan

 

 

 

 

 

Kota Serang : Kec. Curug

 

 

 

 

                               

 

Untuk potensi sumber daya mineral, baik logam maupun non logam sebagaimana tersebut diatas, di Propinsi Banten ada beberapa potensi sumber daya mineral yang menjadi unggulan, antara lain pasir kuarsa, bentonit, trass, zeolit, emas, batu gamping, batuapung, batubara dan kaolin dengan besar cadangan sebagaimana terlihat pada gambar 3 dibawah ini :

 

 

Gambar 6. Potensi Sumber Daya Mineral di Provinsi Banten

Gambar 7. Peta Potensi Sumber Daya Mineral di Provinsi Banten

Selain itu, Provinsi Banten juga memiliki potensi sumber daya alam yang khas yang merupakan bahan tambang, yaitu batu sempur atau fosil kayu. Kekhasan yang dimiliki adalah karena kelangkaannya yang merupakan hasil proses geologi yang sangat jarang dijumpai di belahan bumi manapun.

Batusempur tersebar di Kecamatan Sajira, Maja, Leuwidamar dan Cipanas Kab. Lebak. Sedangkan Batumulia tersebar di Kecamatan Maja, Sajira dan Cipanas Kabupaten Lebak serta Kecamatan Cibaliung dan Cimanggu Kabupaten Pandeglang.

Bahan galian ini merupakan fosil kayu yang telah membatu dengan komposisi mineral silica (SiO2) yang dibeberapa lokasi di Kabupaten Lebak berukuran luar biasa dengan panjang mencapai puluhan meter dan diameter sekitar 1,5 meter.

Dalam beberapa tahun terakhir batusempur telah diperjualbelikan dalam bentuk raw material dengan harga yang sangat murah, bahkan telah diekspor dalam jumlah cukup besar. Kemudian ada pelarangan ekspor bahan fosil kayu dalam keadaan belum diolah melalui Kepmen Perindustrian dan Perdagangan No. 385/MPP/KEP/6/2004.

Pemerintah Provinsi Banten telah memberikan pembinaan terhadap pengelolaan fosil kayu ini melalui pemberian pelatihan pengolahan batumulia, sejak tahun 2003 serta membentuk workshop pengolahan batumulia di Sajira Kabupaten Lebak.

Dalam tahun 2006 ada rencana untuk pembangunan Taman Batu di daerah Sajira, Kabupaten Lebak digagas oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, namun hingga saat ini belum dapat terealisasi.

 

  1. Potensi Air Tanah

Air merupakan kebutuhan pokok vital manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan yang tingkat kebutuhannya semakin meningkat karena bertambahnya jumlah penduduk dan bertambahnya aktivitas yang memerlukan air. Potensi air atau sumberdaya air dapat dibedakan menjadi dua, yaitu potensi  air permukaan dan potensi air tanah.

Dalam memenuhi kebutuhan terhadap air tersebut, pemanfaatan air tanah merupakan pilihan pertama karena dianggap mudah, murah dan umumnya memenuhi syarat dari segi kualitas.

Berdasarkan hasil penelitian, keberadaan air tanah di Provinsi Banten dapat diklasifikasikan menjadi 5 (lima) satuan Cekungan Air Tanah (CAT) yang telah diidentifikasi bersifat lintas kabupaten maupun kota, antara lain CAT Labuan, CAT Rawadano dan CAT Malingping dan lintas propinsi, meliputi CAT Serang-Tangerang dan CAT Jakarta.

Data selengkapnya berkenaan dengan Cekungan Air Tanah di Provinsi Banten tersebut dapat dilihat pada table 11 dibawah ini :

 

 

Tabel 12.  Pembagian Cekungan Air Tanah di Provinsi Banten

No.

Cekungan Air Tanah

Wil Administrasi

Jumlah Air tanah

Nama

Luas (km2)

Bebas

Tertekan

1.

Labuan

734

Kab. Pandeglang

Kab. Lebak

836

27

 

 

 

 

 

 

2.

Rawadano

375

Kab. Serang

Kab. Pandeglang

180

13

 

 

 

 

 

 

3.

Serang-Tangerang *

2.822

Kota Serang

Kab. Serang

Kota Cilegon

Kab. Pandeglang

Kota Tangerang

Kab. Tangerang

Kab. Bogor

180

18

4 .

Malingping

707

Kab. Pandeglang

Kab. Lebak

384

2

5.

Jakarta *

1.439

DKI Jakarta

Kota Tangerang

Kota Depok

Kab. Tangerang

Kab. Bogor

Kab. Bekasi

803

40

 

Total

6.077

 

3.278

100

* Cekungan lintas Provinsi

Sumber : Lampiran Kepmen ESDM Nomor 716K/40/MEM/2003

 

 

  1. Potensi  Batubara

Potensi Batubara di Provinsi Banten keterdapatan dan cadangannya adalah sebagai berikut :

  1. Jenis bituminous dengan kalori 6000-7000 kal/kg, tersebar di Kecamatan Panggarangan, Bayah dan Cilograng, Kab. Lebak
  2. Jenis sub-bituminuos dengan kalori 4000 – 5500 kal/kg, tersebar di Kecamatan Bojongmanik Kab. Lebak.
  3. Cadangan untuk potensi 2 jenis batu bara tersebut diatas adalah terukur 13,8 juta ton; terduga 22,1 juta ton; terreka 30,4 juta ton.

 

 

 

  1. Potensi Panas Bumi

Provinsi Banten memiliki potensi panas bumi di beberapa tempat, seperti di Batukuwung, G. Karang, G. Pulosari, dan G. Endut.

Saat ini terdapat 2 (dua) WKP Panas Bumi yang berada di           Provinsi Banten,  yaitu WKP Kaldera Danau Banten dan WKP Gunung Endut.

 

  1. WKP Kaldera Danau Banten

Lokasi potensi Panas Bumi Bt. Kuwung, G. Karang dan G. Pulosari telah ditetapkan dalam satu Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi yaitu WKP Kaldera Danau Banten melalui SK. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 0026/K/30/MEM/2009 tanggal 15 Januari 2009 tentang Penetapan Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi di Daerah Kaldera Danau Banten, Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten, dengan potensi berdasarkan tingkat penyelidikan rinci sebesar 115 MWe.

 

Gambar 8. Potensi Panas Bumi di Provinsi Banten

 

Kemudian WKP ini ditetapkan sebagai bagian dari Program Percepatan Pembangunan Pembangkit 10.000 MW tahap II melalui Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 02 tahun 2010 tentang Daftar Proyek-Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas serta Transmisi Terkait.

Menindaklanjuti 2 (dua) Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral diatas, telah dilaksanakan pelelangan terhadap WKP Panas Bumi di Daerah Kaldera Danau Banten Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten pada bulan Mei-Desember 2010 dengan koordinasi dan pelaksanaan pelelangan oleh Panitia Lelang WKP yang dibentuk melalui Keputusan Gubernur Banten Nomor 540.05/Kep.228-Huk/2010 tanggal 06 Mei 2010.

Hasil proses pelelangan menetapkan KONSORSIUM PT. BANTEN GLOBAL SYNERGI DAN PT. SINTESA GREEN ENERGY  sebagai pemenang dengan harga penawaran 8,39 USDc/KWh melalui Keputusan Gubernur Banten Nomor 540/Kep.734-Huk/2010 tanggal 14 Desember 2010. Eksplorasi dilaksanakan mulai tahun 2011 di wilayah WKP seluas 104.200 km2.

 

Gambar 9. WKP Panasbumi Kaldera Danau Banten

 

Progres eksplorasi Panas Bumi Kaldera Danau Banten saat ini telah dilakukan survey geofisika, geokimia dan survey geologi dalam rangka rangkaian kegiatan untuk pengembangan panasbumi tahap 1 yaitu Pembangunan PLTP Rawa Dano 1 x 110 mW yang diupayakan bisa COD tahun 2016. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) tahap 2 di areal WKP Kaldera Danau Banten sebagai pengembangan dengan kapasitas 2 x 55 MW, diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2020.

 

 

  1. Potensi Panas Bumi G. Endut

Pada tahun 2011 telah ditetapkan penetapan wilayah kerja pertambangan panas bumi (WKP Panas Bumi) oleh Menteri ESDM, melalui  Keputusan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 1154k/30/Mem/2011, tentang Penetapan Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi Gunung Endut, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

 

 

  1. Potensi Minyak dan Gas (MIGAS)

Potensi MIGAS di Provinsi Banten saat ini tercakup dalam 5 wilayah blok migas masing-masing :

  1. Blok Migas Rangkasbitung

Dalam tahap evaluasi setelah melakukan survey seismik 2D oleh PT. LUNDIN RANGKAS.

  1. Blok Migas Ujungkulon

Dalam tahap persiapan pemboran eksplorasi lepas pantai oleh PT. M3NERGY BERHAD.

  1. Blok Migas Sunda Strait I

Saat ini telah selesai penandatangannan kontraknya yang dimenangkan oleh Konsorsium Komodo Energy LLC dan Niko Resources (Overseas XI LTD) dan persiapan untuk explorasi.

  1. Blok Migas Sunda Strait 2 dan 3

Saat ini masih dalam proses lelang oleh Dirjen Migas Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)

Gambar 10. Peta Lokasi Potensi MIGAS di Provinsi Banten

  1. Potensi Energi Baru Terbarukan

Potensi Energi terbarukan cukup besar di Provinsi Banten, seperti Energi Biomasaa, Energi Mikro Hidro, Energi Gelombang, Energi Angin, dan Energi Surya, yang kesemuanya apabila dikembangkan sebagai energi primer untuk membangkitkan tenaga listrik maka selain akan mendatangkan Devisa bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah juga akan membantu pemerintah dalam program Diversifikasi Energi.

  1. Potensi Energi Biomasa
  1. Potensi Biomasa di Kabupaten Lebak

Potensi Biomasa di Kab. Lebak terdapat di Kec. Bojongmanik, Leuwidamar, Cipanas, Muncang, Cileles, an Gunung Kencana. Potensi Biomasaa sebagai EBT yang dapat dikonverensikan menjadi energi panas/listrik antara 283 KW sampai 5.274 KW.Potensi limbah pertanian terutama berasal dari limbah padi dengan potensi terbesar berada di kecamatan bojong manik(5.274kw) dan kecamatan leudirama (2.854kw).

  1. Potensi Biomasa di Pandeglang

Potensi Biomasa di Pandeglang terdapat di desa ciletung, kecamatan cisata yang berpotensi menghasilkan sumber Biomasaa dari padi yaitu sebesar 215 ton limbah padi/tahun atau akivalen dengan 109kw).

 

  1. Potensi Biomasa di Serang

Survey di Kabupaten Serang dilakukan di empat kecamatan dan meliputi 12 desa. Di empat kecamatan tersebut,yaitu Tanara,Tirtayasa,Ciomas dan Padarincang,  memiliki potensi Biomasa yang cukup besar yang berasal dari limbah pertanian, perternakan dan perkebunan. Potensi total yang dapat teridentifikasi sebesar 6.590 kw dengan nilai kalor yang berkisar ntara 22 s.d. 1294 kw.Potensi Energi yang berasal dari limbah perkebunan kelapa terdapat di kawasan batu  kuwung dengan nilai kalor sebesar 4.205 kw, Sedangkan total Energi yang di hasilkan dari limbah perternakan sebesar 2.359 kw dengan potensi masing-masing berkisar antara 17-497 kw. Potensi terbesar berada di desa Barugbug.

 

 

Tabel 13. Potensi Energi Biomassa di Provinsi Banten

Kabupaten

Padi

(terra joule/tahun)

Kelapa Sawit

(terra joule/tahun)

Kelapa

(terra joule/tahun)

Lebak

1.283,13

241,74

93,73

Pandeglang

1.778,99

5.491,69

188,50

Serang

1.591,33

-

167,32

Total

4.653,44

5.733,43

449,55

 

 

 

  1. Potensi Energi Mikrohidro
  1. Potensi Energi Mikrohidro di Lebak

Identifikasi pada beberapa desa di Kabupaten Lebak menunjukan bahwa potensi mikrohidro dengan adanya air terjun dan sungai, sebagaimana terlihat pada tabel 10,yang dapat menghasilkan/membangkitkan daya listrik yang relatif cukup besar antara 225-3.375 Kw.

Tabel 14. Potensi Energi Mikrohidro di Kab. Lebak

 

KECAMATAN/DESA

POTENSI

HEAD

DEBIT (m3/det)

KECEPATAN ARUS SUNGAI (m/det)

DAYA (KW)

G. Kencana/Cimanyangray

Air terjun

15

6

4

883

G. Kencana/Kramatjaya

Air terjun

15

8

5

1.000

Bayah/Cikotok

Air terjun

15

2

-

225

Muncang/Ciminyak

Sungai

30

1.5

-

3.375

Sajira/Satipa

Sungai

40

4.5

-

1.350

Leuwidamar/Herang

Sungai

70

3

-

1.575

Sumber : Inventarisasi EBT, DISTAMBEN Prov. Banten, Tahun 2007

 

 

  1. Potensi Energi Mikrohidro di Kab. Pandeglang

Potensi mikrihidro terletak di desa Tegalwangi dan Cilentung, di desa Tegal Wangi tedapat DAM yang jaraknya 30 meter dari air terjun dengan kedalaman sungai di bawah air terjun sekitar 2,88 meter yang dapat membangkitkan daya sebesar 200 kw sedangkan di desa Ciletung terdapat air terjun yang dapat membangkitkan daya sebesar 2.500 kw.

 

Tabel 15. Potensi Energi Mikrohidro di Kab. Pandeglang

 

KECAMATAN/DESA

POTENSI

HEAD

DEBIT (m3/det)

KECEPATAN ARUS SUNGAI (m/det)

DAYA (KW)

Menes/Tegalwangi

Air terjun

2.88

7.15

0.7

200

Cisata/Cilentung

Air terjun

19.88

14

1.67

2500

Sumber : Inventarisasi EBT, DISTAMBEN Prov. Banten, Tahun 2007

 

 

  1. Potensi Energi Mikrihidro di Serang

Potensi  pada daya yang dapat di bangkitkan bervariasi dari yang terbesar 3000 Kw hingga ke skala yang lebih kecil, 0,8 kw. Lokasi air terjun dan sungai di Serang antara lain di Kec, Ciomas, Tanara, Tirtayasa, dan Padarincang. Potensi yang ada terlihat pada tabel dibawah ini :

 

Tabel 16. Potensi Energi Mikrohidro di Serang

 

 

 

 

 

Gambar 11. Peta Potensi Energi Terbarukan (Mikro Hidro) di Provinsi Banten

 

  1. Potensi Energi Angin

Beberap daerah yang disurvei memiliki kecepatan angin sesaat yang cukup tinggi yang dapat ditindak lanjuti dengan pengukuran lebih detail dan lama guna memperoleh data yang dapat digunakan sebagai dasar perancangan sistem. Daerah pesisir / pantai pada umumnya memiliki potensi angin yang cukup tinggi, seperti di sepanjang pantai selatan kabupaten Lebak dan Pandeglang, pesisir barat Pandeglang dan pesisir Utara Serang, dengan kecepatan angin berkisar 3-13 m/s..

 

  1. Potensi Energi Gelombang

Dari berbagai referensi, potensi sumberdaya energi gelombang untuk daerah pesisir selatan Provinsi Banten, terlihat bahwa potensi energi gelombang yag teridentifikasi cukup besar, yaitu potensinya berkisar antara 15 s/d. 25 kW/m. Dari data yang didapatkan dari berbagai sumber, ternyata tidak semua lokasi atau daerah yang terdapat di pesisir selatan propinsi banten mempunyai data tentang potensi energi gelombang. Daerah yang terdapat dievaluasi adalah hanya pada empat lokasi, yaitu untuk daerah Cikayung, Muara Binangeun, Malingping, dan daerah sekitar Bayah. Kecepatan angin pada keempat lokasi tersebut berkisar masing-masing 3,10; 3,30; dan 2,75 m/detik, dengan arah yang dominan pada lima penjuru mata angin yakni, Barat Daya, Barat, Barat Laut, Tenggara, dan Selatan. Tinggi gelombang signifikan berdasarkan spektrum berkisar antara 0,219 meter dan 0,254 meter. Fetch Efektif bervariasi antara 401,49 Km dan 879 Km. Potensi energi yang dapat dimanfaatkan cukup tinggi, berkisar antara 1.177,60 MWh/m/tahun dan 2.821,92 MWh/m/tahun.

 

 

  1. Energi Surya

Besar Radiasi matahari rata-rata tahunanberdasarkan referensi data sekunder untuk Daerah Banten yaitu berkisar antara 3,5 kWh/m2/hari.

Sampai dengan tahun 2011 Dinas Pertambangan dan energi melaui dana yang bersumber dari APBD Provinsi Banten telah membangun 835 unit PLTS yang tersebar di Kabupaten Lebak, Pandeglang dan Serang dengan target lokasi untuk daerah-daerah yang sukar terjangkau oleh aliran listrik jaringan PLN.

 

  1. Potensi Geowisata

 

Kondisi geologi wilayah Provinsi Banten memungkinkan berkembangnya usaha geowisata yang sesuai dengan karakteristik wilayah yang ada. Potensi geowisata yang ada sampai saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal, hal ini berkaitan dengan sarana dan prasarana pendukung serta promosi yang harus lebih ditingkatkan, sehingga pada gilirannya potensi geowisata ini dapat menjadi andalan untuk meningkatkan PAD provinsi Banten.

Data potensi geowisata di Provinsi Banten, dapat dilihat pada tabel 18 di bawah ini,yaitu :

 

Tabel 17. Potensi Unggulan Geowisata di Provinsi Banten

Sumber : Profil Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten, Tahun 2011

 

  1. Kondisi Ketenagalistrikan

 

Provinsi Banten saat ini merupakan salah satu daerah dengan jumlah pembangkit tenaga listrik terbanyakyang memasok tenaga listrik untuk keperluan listrik Pulau Jawa Madura dan Bali.

Kapasitas terpasang pembangkit yang sudah ada saat ini yang tersambung ke jaringan transmisi interkoneksi Jawa-Madura dan Bali sebesar 6.310 MW, dengan rincian pembangkit sebagai berikut, yaitu :

  1. PLTU Suralaya                          :      3.400   MW
  2. PLTU Suralaya Perluasan   :          625   MW  
  3. PLTU Labuan 1 dan 2           :          600   MW  
  4. PLTU Lontar                               :          945   MW  
  5. PLTGU Bojonegara                 :          740   MW

 

Selain pembangkit yang sudah tersambung ke jaringan transmisi interkoneksi Jawa-Madura dan Bali tersebut diatas, terdapat pula pembangkit Captive beberapa perusahaan untuk keperluan sendiri (industri), yaitu :

  1. PLTGU KDL                               :          400   MW (100 MW on Grid)
  2. PLTU Tifico                                  :             47   MW  
  3. PLTU Indah Kiat                       :          132   MW  
  4. PLTU Nicomas                          :               8   MW  
  5. PLTU Chandra Asri                 :               8   MW
  6. PLTD Pulau Panjang             :          125   kW (untuk keperluan masyarakat)

 

PLTU Suralaya, Labuan, dan Lontar sebagaimana tersebut diatas merupakan bagian dari proyek percepatan pembangkit tenaga listrik berbahan bakar batubara berdasarkan pada PERPRES RI No 71 Tahun 2006 tanggal 05 Juli 2006. PERPRES ini menjadi dasar bagi pembangunan 10 PLTU di Jawa (termasuk 3 di Banten) yang dikenal dengan nama : Proyek percepatan 10.000 MW Tahap I.

Dengan adanya penambahan listrik dari 10 PLTU di Jawa, maka diharapkan kebutuhan listrik di Provinsi Banten, khususnya dalam beberapa tahun kedepan dapat dipenuhi dari proyek percepatan PLTU 10.000 MW ini. Setelah proyek percepatan PLTU 10.000 MW tahap pertama ini selesai, pemerintah akan mulai dengn proyek percepatan PLTU 10.000 MW tahap II dimana 3.000 MW (30%) nya akan berasal dari panas bumi.

  1. Listrik Perdesaan

 

Meskipun wilayah Provinsi Banten merupakan lokasi kedudukan pembangkit listrik yang sangat besar seperti disebutkan diatas,namun hingga saat ini (keadaan akhir 2011) rasio elektrifikasi di Provinsi Banten baru mencapai 78,93%. Keberadaan Rumah Tangga perdesaan yang belum berlistrik itu pada umumnya berada di wilayah Banten bagian selatan yang merupakan warga kurang mampu di daerah-daerah dimana jaringan listrik PLN belum memadai.

Walaupun demikian, Rasio Elektrifikasi tersebut dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, terlebih setelah terbentuknya Provinsi Banten. Dalam tahun 2002 rasio elektrifikasi wilayah Banten baru 59 % sedangkan sampai tahun 2011 sudah meningkat menjadi 78,93 %. Peningkatan prosentase Rasio Elektrifikasi tersebut sebagian merupakan hasil yang diperoleh dari program pembangunan bidang ketenagalistrikan yang dilakukan oleh Dinas Pertambangan dan Energi melalui dana APBD dalam kurun waktu antara Tahun 2003 sampai dengan 2011, khususnya melalui Kegiatan Pembangunan Listrik Perdesaan 78,93 % (Gambar 12).

 

Gambar 12. Peningkatan Ratio Elektrifikasi

Provinsi Banten

 

 

Sebagai perbandingan, berikut adalah data ratio elektrifikasi untuk Provinsi Banten dan Nasional :

  1. Provinsi Banten

 

    2002

   2003

    2007

     2008

    2009

    2010

   2011

   Target 2012

     59,0

   59,6

     71,3

     72,59

      74,7

     76,81

    78,93

         81,0

 

 

  1. Nasional

 

   2002

   2006

     2007

     2008

    2009

    2010

    2011

T   arget 2012

-

   63,0

      64,3

     65,10

    66,3

    67,2

    72,95

       75,9

 

 

Dalam upaya meningkatkan pelayanan infrastruktur ketenagalistrikan dan ratio elektrifikasi di Provinsi Banten telah dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Melaksanakan Kegiatan Pembangunan Listrik Perdesaan berupa bantuan pemasangan Instalasi Rumah dan Sambungan Rumah sampai tahun 2011 sebanyak 120.986 SS.
  2. Melaksanakan Pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebanyak 835 unit sampai tahun 2011.
  3. Kerjasama pembangunan  Gardu Induk Saketi antara Pemerintah Provinsi dengan PT. PLN (Persero).
  4. Pada tahun 2012 direncanakan melakukan Pembangunan Listrik Perdesaan sebanyak 21.000 SS (Satuan Sambungan) dan Pemasangan 268 unit PLTS.

 

Dalam rangka mendukung Pembangunan Listrik Perdesaan di Provinsi Banten diharapkan Pemerintah Pusat dapat mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk Pembangunan Gardu Induk baru, terutama di wilayah Banten Selatan (Pandeglang dan Lebak) dan perluasan jaringan Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM)serta Saluran Udara TeganganRendah (SUTR).

 

 

 

 

 




Twitter


Facebook