KONSEP ENERGI PERDESAAN


Oleh : Ahmad Yani

 

 

Konsep Energi

Benda dapat bergerak atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain, karena ada gaya atau daya yang berkerja padanya, selama gaya tersebut bekerja, maka benda tersebut akan terus atau cenderung untuk bergerak sedangkan dalam ilmu fisika secara kuantitatif  pengertian dasar tentang gaya sangat erat hubungannya dengan energi. Sehingga, dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa benda bergerak karena memiliki energi atau bila diberi energi.

Kemudian, konsep fisika lainnya menyatakan bahwa setiap benda yang bergerak atau berpindah tempat dikatakan benda tersebut telah melakukan suatu usaha atau kerja. Ukuran kesanggupan atau kemampuan untuk melakukan usaha tadi dinyatakan sebagai energi. Di sini terlihat adanya hubungan yang erat antara pengertian tentang usaha dan pengertian energi, bahkan antara energi-gaya-benda (Sorens,1961). Hubungan usaha dan energi, secara sederhana dapat dinyatakan sebagai berikut: ‘untuk melakukan suatu kerja, akan diperlukan dengan jumlah energi yang besarnya sama dengan jumlah kerja yang dihasilkan’.

  1. Energi dapat ditinjau sebagai kemampuan atau kesanggupan untuk melakukan suatu usaha dan sebaliknya.
  2. Usaha dapat ditinjau sebagai banyaknya energi yang diubah dari bentuk yang satu menjadi bentuk yang lain.

 

Energi Dan Kehidupan

Energi memegang peranan penting dalam alam. Tiap-tiap benda di alam dunia ini mengandung energi, baik benda mati maupun benda hidup. Manusia bergerak, lari, jalan, berpikir karena memiliki energi. Pesawat, bisa terbang kemudian mendarat kembali ke bumi, dikarenakan padanya diberikan sejumlah energi. Manusia dapat berkomunikasi jarak jauh melalui radio, tv, telepon, hal ini dikarenakan dalam sistem komunikasi tersebut disupplai energi untuk mengoperasikan peralatan tadi.

Uraian di atas menggambarkan bahwa untuk hidup diperlukan energi. Pengertian tentang energi ini penting, tidak saja dalam ilmu alam, tetapi juga dalam ilmu hayat. Oleh karenanya manusia berusaha keras untuk mendapatkan memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupannya.

Sering kali kebutuhan akan energi dikaitkan pula, bahkan dijadikan ukuran untuk menilai taraf kehidupan, taraf kesejahteraan, atau taraf kemampuan seseorang, atau lebih luas lagi dalam kehidupan masyarakat dalam suatu negara. Makin maju negara tersebut, maka besar pula tingkat  kebutuhan (konsumsi) energi. Hal ini sebagian besar terutama dibutuhkan oleh negara-negara industri. Sebenarnya energi banyak ragamnya, dalam kehidupan kita sehari-hari dapat kita kenal pula energi tersebut dalam berbagai bentuk.

Manusia dapat berjalan karena adanya energi. Suatu saat manusia tersebut akan lelah, hal ini menunjukan bahwa energi yang dimilikinya mulai berkurang. Sehingga manusia tadi perlu menambahkannya dengan jalan makan dan minum, serta ditambah dengan istirahat agar kondisi badan siap untuk dapat berjalan kembali. Contoh lain adalah dalam hal mamasak. Kalau ibu rumah tangga memasak di dapur beliau membutuhkan bahan bakar (kayu, minyak tanah, listrik, gas atau lainnya). Bahan bakar ini  merupakan sumber energi. Kalau bahan bakarnya habis atau kurang maka nyala api akan kecil, bahka padam, sedangkan masakan belum matang. Untuk itu para ibu akan menambahkan sejumlah bahan bakar pada tungku atau kompornya. Atau sejumlah energi ditambahkan untuk dapat melanjutkan agar masakan menjadi masak. Masih banyak contoh lain masalah pemanfaatan energi yang dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, antara lain, dalam proses industri, transportasi, komunikasi dan lain sebagainya.

 

Sumber Energi

Energi mempunyai bentuk yang beraneka ragam, sumber energi ditemukan dalam berbagai macam. Beberapa sumber energi yang perlu kita ketahui, sebagai dasar dalam upaya mengelolanya menjadi sumber energi yang termanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan kita bersama, yaitu :

  • minyak bumi;
  • gas alam;
  • kayu, arang;
  • tenaga air;
  • tenaga surya;
  • tenaga angin;
  • biomasa, limbah pertanian;
  • panas bumi; atau
  • uranium (nuklir).

Sumber-sumber energi tersebut dapat diolah menjadi bentuk-bentuk energi sesuai dengan kebutuhan. Bentuk energi yang satu dapat diubah menjadi bentuk yang lain. Misalnya, sumber energi air diubah menjadi bentuk energi listrik. Energi listrik dapat diubah menjadi energi lainnya, seperti panas, mekanis, cahaya (penerangan), suara dan lain sebagainya.

 

POTENSI ENERGI DI INDONESIA

Indonesia dikarunia sumber-sumber daya alam yang merupakan sumber bahan baku energi, antara lain;

  • minyak bumi, gas bumi, batubara;
  • tenaga air, tenaga panas bumi;
  • tenaga surya, tenaga angin, tenaga air laut (gelombang, pasang surut);
  • kayu,  limbah (pertanian, industri, dan lainnya).

Untuk dapat memanfaatkan potensi-potensi tersebut di atas, kita harus menggalakan usaha-usaha eksplorasi sumber-sumber energi, dan menginventarisasinya secara baik dan teratur.

 

ENERGI PERDESAAN DAN PERMASALAHANNYA

Indonesia dengan sebagian besar ±85% penduduknya bermukim dan menggantungkan hidupnya di daerah perdesaan, merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan kebijaksanaan konsumsi energi nasional. Karena apa yang dibutuhkan oleh perdesaan, khususnya kebutuhan energi, akan menjadi suatu yang menentukan pula secara nasional. Sampai saat ini, kebutuhan akan energi untuk daerah perdesaan, khususnya di pulau jawa, bila dilihat dari sumbernya adalah sebagai berikut :

  1. bahan bakar kayu, arang
  2. massa bio, limbah pertanian
  3. surya, angin
  4. air
  5. sumber energi lainnnya dari luar, seperti: listrik, minyak tanah, dan gas

Bila  ditinjau dari sudut distribusi konsumsi energi, maka sebagian terbesar pertanian akan energi (energy demand) di rumah tangga perdesaan adalah untuk kebutuhan masak. Ditaksir berjumlah 4.18 x 106 joule/kepala keluarga (Amru hydari, 1979). Dan sebagian besar kebutuhan akan energi rumah tangga perdesaan tersebut berupa bahan bakar kayu.  

Kasus ini diungkapkan pula oleh Rachmatsyah, 1979, bahwa untuk daerah perdesaan Jawa Barat konsumsi energi untuk memasak, kebutuhan bahan bakar kayu mencapai  ± 83.41 % dari total energi yang digunakan, atau lebih dari 95 % energi yang diperlukan untuk memasak (Haeruman, 1977).

Selanjutnya, berdasarkan laporan Satyawati Hadi dan kawan-kawan, 1979, selama 8  tahun, dari 1970 sampai dengan 1978, produksi kayu bakar hanya meningkat sebanyak 4,5%, sedangkan konsumsi meningkat 106% (Koeswadji, 1980). Dari perbandingan kedua angka tersebut, menunjukan kecenderungan penurunan yang sangat besar dari cadangan kayu yang ada.

Dari ketiga data di atas menunjukan  bahwa :

  • sumber energi perdesaan saat ini, adalah sebagian besar berasal dari bahan bakar kayu.
  • penggunaan sumber energi kayu oleh masyarakat desa makin lama akan terus meningkat sesuai dengan perkembangan populasi penduduk dan tingkat sosial ekonomi budaya, seandainya mereka tidak mempunyai alternatip lain kecuali kayu.
  • peningkatan produksi kayu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan tidak seimbang, bahkan akan tertinggal dibelakang konsumsinya.
  • akibat konsumsi yang tidak seimbang dengan usaha produksinya (baca reboisasi, penghijauan, penanaman kembali) dapat menyebabkan timbulnya gangguan pada lingkungan.

Sehingga, kasus bahan bakar kayu ini dapat merupakan bencana disamping dibutuhkan oleh masyarakat perdesaan. Hal ini perlu mendapatkan perhatian.

Jenis energi perdesaan yang lain selain kayu bakar, masih banyak kita temukan. Antara lain : pemanfaatan energi limbah pertanian, gas, energi surya, energi arang dan lain sebagainya.

Pemakaian energi arang oleh masyarakat perdesaan jumlahnya jauh lebih kecil, bila dibandingkan dengan pemakaian energi kayu dan gas. Sedangkan pemakaian energi gas terbatas pada golongan tertentu.

Limbah pertanian sebagai bahan bakar di daerah perdesaan saat ini terutama sekam, digunakan selain untuk memasak, juga untuk bahan bakar industri rakyat seperti pembakaran batubata dan genteng.

Sejalan dengan program Pemerintah dalam usaha mengembangkan teknologi perdesaan, termasuk industri-industri kecil, untuk meningkatkan produksi dan produktivitas desa maka penggunaan limbah pertanian seperti sekam, jerami, ampas tahu, dan bio gas perlu mendapat perhatian. Bukan saja dalam meningkatkan produksi sumber energinya, tetapi juga dalam meningkatkan efisiensi penggunaannya.

Sedangkan penggunaan sumber energi minyak tanah oleh masyarakat perdesaan, terutama untuk penerangan. Minyak tanah dan gas sebagai bahan bakar untuk memasak, terutama dipakai oleh masyarakat desa dengan pendapatan rendah. Masih terbatasnya pemanfaatan minyak tanah dan gas sebagai sumber energi oleh masyarakat desa, tidak saja dikarenakan rendahnya daya beli masyarakat, tetapi juga disebabkan terbatasnya persediaan minyak tanah dan gas di desa-desa, terutama yang jauh dari pusat kemudahan untuk mendapatkannya.

Energi surya, sudah sejak lama dimanfaatkan oleh masyarakat perdesaan sebagai sumber energi. Selain untuk penerangan siang hari, terutama juga digunakan untuk mengeringkan atau mengawetkan beberapa hasil pertanian dan perikanan, seperti padi, kedelai, kopi, tembakau, hasil laut, dan lain sebagainya. Pemanfaatan energi surya lainnya sampai saat ini masih sering dijumpai. Namun dalam memanfaatkannya masih belum maksimal, artinya efisiensi penggunaan masih dapat ditingkatkan. Hal ini, pada umumnya, dikarenakan lambatnya perkembangan teknologi yang digunakan oleh masyarakat perdesaan. Biasanya mereka memanfaatkan energi surya hanya dengan menjemurnya langsung dibawah terik matahari. Secara teknologi, hal ini kurang efisien. Padahal bila ditinjau dari sumbernya sendiri, serta kedudukan geografis Indonesia yang terletak di pita khatulistiwa, potensi energi surya sungguh berlimpah dan abadi. Oleh karena itu sudah sewajarnya sumber energi surya dijadikan sumber energi perdesaan primer untuk meningkatkan produksi desa, sebagai upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan desa. Hal ini akan  dapat dicapai dengan cara mengembangkan teknologi pemanfaatan energi surya se efisien mungkin.

Disamping sumber energinya yang berlimpah dan abadi, keuntungan lain yang diperoleh bahwa pemanfaatannya tidak berakibat menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan hidup, juga termasuk jenis energi yang dapat diperbaharui (renewable energy).

Hal lain dari pemanfaatan energi surya tidak langsung, adalah energi angin, sebagai sumber energi yang masih terlihat sampai saat ini energi angin dimanfaatkan untuk pelayaran yakni menggerakan perahu-perahu layar sebagai alat transportasi. Pemanfaatan lainnya belum begitu terlihat berkembang seperti kincir angin sebagai penggerak pompa, atau lainnya.

Dengan melihat gambaran permasalahan energi perdesaan, seyogyanya sedini mungkin mulai diusahakan menyiapkan langkah-langkah penyediaan kebutuhan energi untuk perdesaan pada masa yang akan datang, serta usaha-usaha melestarikannya.


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan