Budaya Hemat Energi; Mulai dari Kita, Mulai dari Sekarang


Pemerintah mencanangkan penghematan energi secara nasional. Gerakan penghematan energi tersebut secara resmi mulai berlaku 1 Juni 2012. Tujuan dari gerakan penghematan energy tersebut agar gerakan penghematan energi nasional dilakukan serentak, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Pencanangan penghematan energi yang dibuat oleh pemerintah tersebut merupakan bagian dari lima kebijakan hemat energi. Pertama, larangan pemakaian premium bersubsidi untuk mobil dinas pemerintah pusat dan daerah di wilayah Jabodetabek, Jawa dan Bali. Kedua, mobil barang yang digunakan bagi kegiatan perkebunan dan pertambangan dilarang menggunakan jenis BBM bersubsidi berupa solar. Ketiga, percepatan program konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG) yang dimulai di Jawa. Keempat, kampanye gerakan hemat energi dimulai dari gedung pemerintah. Kelima, PLN diminta tak lagi membangun pembangkit listrik bertenaga BBM.

Kebijakan hemat energi yang kembali dilakukan pemerintah tersebut idealnya bukanlah gerakan basa-basi. Jika sekedar basa basi, hanya akan menimbulkan antipati dan kebijakannya dianggap tidak pasti. Tentu saja, pemerintah dan rakyat lah yang akan rugi. Kebijakannya dari hulu hingga hilir, termasuk pengamanannya harus dipastikan terkendali dan terprogram semuanya.

Bukan sekedar jam dan pola kerja, kantor pemerintahan dan seluruh peralatan dan perlengkapan birokrasi yang harus dihemat, sebenarnya hemat energi harus menjadi gerakan bersama rakyat Indonesia. Sementara, gerakan penghematan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi juga harus disertai pengawalan ekstra ketat karena rawan kebocoran. Sudah bukan rahasia lagi jika selama ini banyak terjadi penyimpangan dan kebocoran dalam distribusi BBM bersubsidi.

Tentu saja, di daerah pun, seharusnya Rancangan Umum Energi Daerah sebagaimana amanat oleh UU no 30/2007 tentang energi dalam pasal 18 harus sudah ada dan diterapkan. Jadi, bukan hanya pemerintah pusat, daerah pun harus bergerak bersama. Sinergi ini jika tercipta akan sangat indah, melahirkan budaya pemanfaatan energi secara hemat.

Tidak ada jalan lain, pemerintah, pengusaha dan masyarakat secara luas harus menjadikan hemat energi sebagai budaya bangsa. Bukankah nilai-nilai agama kita semua menyebut bahwa berhemat akan membahwa kepada pahala dan boros dekat dengan dosa. Hemat energi harus dapat dilakukan. Kita boros dan dimanjakan oleh BBM murah selama ini.

Indonesia adalah negara yang pemanfaatan energinya masih boros. Untuk setiap pertumbuhan ekonomi diperlukan energi yang lebih besar. Setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen, pemakaian energi tumbuh 1,84 persen. Bandingkan dengan Malaysia yang relatif lebih rendah (1,69), apalagi jika dibandingkan dengan Jepang yang hanya 0,10, Kanada 0,17 dan Singapura yang hanya 0,73.

Sementara, kebutuhan energi nasional sangat besar. Tahun 2010 saja, dibutuhkan sekitar 740 juta Setara Barel Minyak. Padahal Indonesia bukanlah negara yang memiliki kandungan minyak bumi yang besar. Ada anggapan keliru yang menyatakan  kita lebih banyak memiliki cadangan minyak bumi. Padahal yang benar adalah lebih banyak cadangan batubara, Bahan Bakar Nabati (BBN), CBM (coal bed methane), panas bumi, air dan sebagainya. Minyak bumi saja, cadangan terbuktinya 9,1 miliar barel, produksi per tahun 387 juta barel dengan rasio cadangan produksi 23 tahun. Batubara, sumber dayanya 58 miliar ton, produksinya 132 juta ton dan rasio cadangan produksi 146 tahun.

Kebutuhan akan energi , khususnya energi listrik, semakin bertambah dengan bertambahnya pertumbuhan penduduk. Konsumsi energi  listrik yang tidak diimbangi dengan penyediaan energi listrik yang memenuhi menyebabkan terjadinya krisis energi listrik. Di Indonesia, di proyeksikan pertumbuhan energi listrik sebesar 9,2% per tahun dengan rasio elektrifitas 64,3%. Penggunaan energi primer terbesar untuk pembangkitan energi listrik adalah batubara sebesar 41% kemudian BBM 34%, gas 14%, hidro 8% dan panas bumi 3% . Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penggunaan energi primer untuk pembangkitan berasal dari energi fosil. Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam yang melimpah. Salah satunya adalah banyaknya gunung berapi yang berpotensi besar untuk menghasilkan energi  panas bumi.

Kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Banten diperkirakan tumbuh dengan laju rata-rata 5,7% pertahun dengan asumsi pertumbuhan disetiap sektor bervariasi antara 5-7,7% per tahun, kebutuhan tenaga listrik sektor usaha (termasuk didalamnya untuk Pelabuhan Bojonegara), maka kebutuhan tenaga  listrik netto (pasokan Bruto) pada tahun 2020 mencapai 29,93. Dengan kata lain seluruh produksi PLTU Suralaya sudah tidak mencukupi lagi.

Dengan kondisi seperti ini Pemerintah juga harus fokus pada diversifikasi dan konservasi energi. Perpres nomor 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional harus implementatif benar. Rencana tahun 2025 peranan minyak bumi dalam memenuhi konsumsi energi nasional tinggal 20%, gas bumi 30%, batu bara 33%, batu bara yang dicairkan 2%, bahan bakar nabati 5%, panas bumi 5% dan energi baru dan terbarukan lainnya seperti biomassa, nuklir, tenaga air, tenaga surya dan tenaga angin peranannya menjadi lebih 5% harusnya dapat dilaksanakan sesuai target.

Sekali lagi, ini soal komitmen bersama. Membudayakan hemat energi perlu proses panjang. Bukan kebijakan yang dapat langsung jadi. Perlu proses panjang, wacana, edukasi dan pembiasaan pada generasi muda juga keteladanan dari orang tua. Selain itu, dukungan regulasi yang tegas dan tidak saling bertabrakan satu sama lain. Konsumsi BBM akan terus meningkat jika kepemilikan kendaraan tidak dibatasi. Ini hanya salah satu contoh saja, banyak sekali kebijakan di sektor lain yang kerap berlawanan dengan kebijakan hemat energi.

Meski demikian, kita semua harus terlibat dan bertindak nyata. Dengan begitu, kita akan siapkan energi untuk anak cucu kita nanti. Jangan sampai kita meninggalkan bencana kehabisan energi untuk generasi mendatang. Marilah kita bersama menjadikan hemat energi sebagai budaya. Mulai dari diri kita, mulai dari sekarang.

Sumber :

  1. Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten
  2. http://sandiaga-uno.com/mar-hemat-energi/
  3. http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-12852-Chapter1.pdf
  4. http://www.facebook.com/photo.php?fbid=339346789489995&set=a.339346786156662.79544.339329646158376&type=1&theater
  5. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/05/29/20365773/Ini.5.Kebijakan.SBY.soal.Hemat.Energi
  6. http://www.sindoweekly-magz.com/artikel/11/I/17-23_mei_2012/mailbox/29/mari_hemat_energi

Twitter


Facebook