Briket Batubara sebagai Energi Alternatif yang Ekonomis dan Terjangkau


Akhir-akhir ini harga bahan bakar minyak dunia meningkat pesat yang berdampak pada meningkatnya harga jual bahan bakar minyak termasuk Minyak Tanah di Indonesia. Minyak Tanah di Indonesia yang selama ini di subsidi menjadi beban yang sangat berat bagi pemerintah Indonesia karena nilai subsidinya meningkat pesat menjadi lebih dari 49 trilun rupiah per tahun dengan penggunaan lebih kurang 10 juta kilo liter per tahun. Untuk mengurangi beban subsidi tersebut maka pemerintah berusaha mengurangi subsidi yang ada dialihkan menjadi subsidi langsung kepada masyarakat miskin. Namun untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM dalam hal ini Minyak Tanah diperlukan bahan bakar alternatif yang murah dan mudah didapat.

Sampai pertengahan tahun 2007, rata-rata pemakaian minyak tanah di Indonesia sangat dominan, khususnya oleh rumah tangga yaitu sekitar 9.9juta kilo liter atau setara dengan subsidi pemerintah sebesar 4 miliar USD per tahun.

Strategi pemerintah yang dilakukan untuk menanggapi meningkatnya harga minyak dunia ini yaitu dengan menjalankan program konversi minyak tanah ke LPG, yaitu untuk mengurangi beban subsidi pemerintah terhadap minyak tanah, mengalokasikan kembali minyak tanah menjadi produk avtur yang bernilai ekonomis lebih tinggi. LPG dianggap sebagai energy alternative yang aman bagi kesehatan, dan ramah lingkungan.

Dalam pelaksanaannya ternyata program ini masih menghadapi banyak kendala di lapangan. Hal-hal yang yang menjadi perhatian masyarakat dalam menggunakan LPG, diantaranya adalah factor harga, factor ketahanan tabung (keamanan), dan factor ketersediaan tabung LPG 3kg di pasaran. Factor harga LPG 3kg di pasaran yang cenderung tidak stabil sangat mempengaruhi perilaku konsumen untuk tetap menggunakan LPG atau beralih kembali ke minyak tanah. Selain itu karena target pasar dari program konversi minyak tanah ke LPG 3kg ini adalah kalangan ekonomi menengah ke bawah, maka factor harga menjadi hal yang sangat sensitive dan berpengaruh. Beberapa kalangan masyarakat menengah ke bawah yang belum memahami tehnik penggunaan LPG 3kg yang benar, beranggapan bahwa penggunaan LPG 3kg lebih berbahaya dibandingkan minyak tanah karena factor ketahanan dan keamanan tabung LPG yang belum baik. Factor ketersediaan LPG 3kg di pasaran sangat mempengaruhi perilaku konsumen dalam proses alih energy tersebut karena ketersediaan LPG 3kg di pasaran sangat mempengaruhi stabilitas harga dan kemudahan konsumen dalam memperoleh LPG 3kg tersebut.

Dalam situasi seperti ini masyarakat masih memiliki alternative penggunaan energy lain yang cukup ekonomis dan mudah diperoleh yakni briket batubara.

Briket Batubara merupakan bahan bakar padat yang terbuat dari Batubara, bahan bakar padat ini murupakan bahan bakar alternatif atau merupakan pengganti Minyak Tanah yang paling murah dan dimungkinkan untuk dikembangkan secara masal dalam waktu yang relatif singkat mengingat teknologi dan peralatan yang digunakan relatif sederhana.

Briket Batubara adalah bahan bakar padat yang terbuat dari Batubara dengan sedikit campuran seperti tanah liat dan tapioka. Briket Batubara mampu menggantikan sebagian dari kegunaan Minyak Tanah sepeti untuk : Pengolahan Makanan, Pengeringan, Pembakaran dan Pemanasan. Bahan baku utama Briket Batubara adalah Batubara yang sumbernya berlimpah di Indonesia dan mempunyai cadangan untuk selama lebih kurang 150 tahun. Teknologi pembuatan Briket tidaklah terlalu rumit dan dapat dikembangkan oleh masyarakat maupun pihak swasta dalam waktu singkat. Sebetulnya di Indonesia telah mengembangkan Briket Batubara sejak tahun 1994 namun tidak dapat berkembang dengan baik mengingat Minyak Tanah masih disubsidi sehingga harganya masih sangat murah, sehingga masyarakat lebih memilih Minyak Tanah untuk bahan bakar sehari-hari. Namun dengan kenaikan harga BBM per 1 Oktober 2005, mau tidak mau masyarakat harus berpaling pada bahan bakar alternatif yang lebih murah seperti Briket Batubara.

Batubara yang merupakan bahan baku pembuatan briket batubara ini banyak ditemukan di cekungan tersier yang terletak di Paparan Sunda. Potensi endapan batubara di pulau jawa tersebar secara luas di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tetapi potensi cadangan yang cukup besar hanya terdapat di kabupaten Lebak dengan cadangan yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar industry menengah dan industry kecil di dalam negeri.

Potensi sumber daya batu bara di Banten sekitar 13,3 juta ton, dalam bentuk sumber daya tersebar di Kabupaten Lebak, wilayah Banten bagian selatan. Class Sub Bituminous Coal dengan hasil analisa nilai kalori berkisar 4500 s/d 5800 cal/gr (adb) terdapat di Kec. Bojongmanik, Leuwidamar, Muncang, Sajira dan Cipanas. Sedangkan Class Bituminus – Semiantrasit dengan hasil analisa nilai kalori berkisar antara 5500 s/d 7000 cal/gram tersebar di Kec. Bayah, Panggarangan, Cihara & Cilograng [Data Distamben lebak, 2008]. Secara umum Bayah memiliki cadangan pertambangan berkapasitas 10,975,000 ton. Cadangan ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Selama ini penggunaan hanya sebatas penjualan bahan mentah ke konsumen.

Mengingat cadangan sumber energy fosil (minyak dan gas bumi) di dunia semakin menipis, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Kebijakan  Energi Nasional (KEN) maka pemerintah mencanangkan sampai akhir tahun 2025 pemanfaatan batubara sebagai sumber energy akan meningkat sampai 33%.

Walaupun cadangan batubara di Indonesia relatif besar, sebagian besar sumber daya batubara tersebut merupakan batubara berperingkat rendah yang berkadar air tinggi. Batubara berperingkat rendah akan cocok untuk berbagai kebutuhan rumah tangga dan industri kecil, misalnya memasak. Oleh karena itu, bentuk briket merupakan bentuk paling cocok sebagai sumber energi alternatif memasak di kegiatan rumah tangga.

Briket perlu mendapat perhatian cukup serius dalam  pengembangan verifikasi energy di provinsi Banten karena makin menipisnya cadangan minyak bumi, potensi dan kualitas batubaranya cukup tersedia dan dapat menghasilkan briket yang memenuhi persyaratan , tersedianya teknologi sederhana yang memungkinkan batubara dapat dibentuk menjadi briket, dapat menggantikan penggunaan kayu bakar yang sangat meningkat konsumsinya dan berpotensi merusak ekologi hutan. Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten telah berupaya dalam melakukan kajian dna pembinaan kepada masyarakat terutama pengusaha kecil guna pembuatan dan penggunaan briket dari batubara ini, sehingga diharapkan dapat dijadikan bahan bakar atau energy alternative yang dimungkinkan dapat dikembangkan secara massal, aman dan murah.

Sumber :

  1. Dimas Putra Paramajaya, 2011, “Pemanfaatan Briket Batubara sebagai Sumber Energi Alternatif  untuk  Industri Kecil dan Rumah Tangga
  2. Distamben Kab. Lebak
  3. Distamben Prov. Banten
  4. http://www.tekmira.esdm.go.id/HasilLitbang/?p=577#more-577http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2011/10/05/penggunaan-briket-batubara-sebagai-sumber-energi-alternatif/

Twitter


Facebook