PANTAI BARAT BANTEN 1883


 

 

 PANTAI BARAT BANTEN 1883

( oleh : Tata Henda )

Abad ke 19 bisa disebutkan sebagai puncaknya kejayaan pemerintahan Hindia Belanda yang menguasai hampir seluruh kepulauan nusantara termasuk di wilayah Banten dimana kekuasaan Kasultanan Banten yang berjaya pada sejak abad ke 16 berhasil dirampas oleh negara darI benua Eropa tersebut. Pada abad ini banyak dibangun infrastruktur besar, salah satu contohnya adalah pembangunan jalan yang saat itu dikenal sebagai jala raya pos yang menghubungkan ujung barat hingga ujung timur pulau jawa yaitu dari Anyer hingga Panarukan. Begitupun pembangunan sarana transportasi laut seperti pelabuhan-pelabuhan (Pelabuhan Anyer di utara, dan Pelabuhan Teluklada di selatan) berikut sarana untuk memandu pelayaran seperti menara suar (mercusuar).

Menurut sejarah, menara suar pertama di Cikoneng Anyer, dibangun pada tahun 1806, untuk mengantisipasi ramainya pelayaran di Selat Sunda sejak abad ke 18 yang terutama dilintasi oleh kapal-kapal perniagaan besar dari Eropa ke Timur Jauh atau sebaliknya. Mercusuar itu dibangun ntuk membantu navigasi dan pemandu alur pelayaran. Pada waktu itu di pesisir barat Banten sudah ada 2 menara suar yaitu di Tanjunglayar, Ujungkulon yang merupakan titik masuk Selat Sunda dari arah Samudera Hindia, saat itu dikenal dengan nama “Java Head” dan menara suar Anyer yang dikenal orang-orang kapal sebagai “Forth Point”.

Pada waktu itu Pelabuhan Anyer cukup ramai, banyak disinggahi oleh kapal-kapal besar, namun merupakan pelabuhan yang bersih dan tidak terkesan kumuh karena merupakan pelabuhan transit yang tidak melakukan bongkar muat secara besar-besaran. Fungsi penting pelabuhan ini diantaranya adalah menyampaikan pesan-pesan atau paket-paket dari dan ke pusat pemerintahan Hindia Belanda di Batavia (Jakarta) yang dibawa oleh kapal-kapal internasional. Dengan fungsi itu maka Anyer menjelma menjadi kota kecil yang ramai, dihuni oleh banyak petugas pemerintahan dan perusahaan yang mewakili banyak urusan; ada kantor urusan pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Asisten Residen, kantor pelabuhan, kantor perwakilan pelayaran internasional, bahkan ada kantor telegraf dll. Kemudian karena keindahan panorama pantainya dan sudah terakses jalan raya yang dikenal sebagai Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan (titik nol berada di lokasi menara suar) maka Anyer merupakan merupakan tempat pekerja pemerintah terpavorit pada masa itu. Mereka para ekspatriat atau pekerja pemerintahan Hindia Belanda hidup nyaman di rumah-rumah tembok berlabur putih, sementara rakyat setempat hidup di gubuk-gubuk berdinding bambu yang bahkan tidak melindungi mereka dari terpaan angin laut, tapi mereka semua melewati hidup dengan relatif tenteram dalam keseharian, terutama pada akhir pekan dimana para pekerja menikmati liburan, sampai kemudian  tiba tahun 1883.

Gambar 1. Sebuah lokasi di pantai Anyer, menunjukkan bangunan pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1880an

 

Menjelang pertengahan tahun 1883, ada yang tidak biasa di tengah-tengah Selat Sunda yang berjarak sekitar 40 kilometer ke daratan. Di pesisir Banten bahkan hingga Batavia, terasa bumi bergetar di waktu menjelang siang pada minggu pertama bulan Mei. Kemudian seminggu berikutnya diketahui bahwa getaran tersebut terjadi akibat aktivitas gunung api di pulau vulkanik Krakatau yang memiliki 3 puncak, yang bernama Rakata, Danan dan Perboewatan. Saat itu salah satu puncak pulau tersebut yaitu puncak Perboewatan mengeluarkan asap putih membubung tinggi berbentuk tiang setinggi 2 atau 3 km ke angkasa. Dan seminggu kemudian terjadilah ledakan yang cukup besar dari puncak Perboewatan dan puncak Danan. Pulau Krakatau dan pulau-pulau lain serta perairan disekitarnya dihujani batu dan pasir panas, sementara abu vulkanik menyebar sampai pesisir Banten barat dan Lampung selatan. Letusan tersebut hanya menimbulkan kerusakan pada hutan di sekitar pulau. Pohon-pohon sebagian besar terbakar menjadi arang, namun tidak ada laporan korban jiwa akibat letusan itu.

Gambar 2. Letusan Gunung Krakatau pada bulan Mei 1883

Masyarakat pesisir yang sempat khawatir menjadi tenang kembali, kegiatan sehari-hari normal kembali, kecuali sebuah pesantren di Caringin oleh pimpinannya yang bernama Syeh Asnawi dipindahkan kegiatannya ke Kampung Muruy (sekarang termasuk Desa Muruy, Kecamatan 

Menes, Kabupaten Pandeglang) yang lokasinya jauh dari pantai di ketinggian sekitar 70 meter diatas permukaan laut.

Pelayaran pada saat itu juga tidak terganggu, tetap ramai. Malah muncul ide kegiatan pariwisata ke pulau vulkanik tersebut. Kegiatan itupun ditawarkan dan ternyata mendapat sambutan yang sangat antusias terutama dari warga pendatang dari Eropa. Maka sebuah kapal pesiar berkapasitas 86 penumpang bernama “Gouverneur Generaal Loudon” yang dinakhodai Kapten Lindeman memulai petulangan atraktifnya membawa wisatawan ke gunung api yang sedang bergolak tersebut (mungkin ini kegiatan geowisata ke gunung api pertama di tanah Indonesia), sebuah kegiatan pariwisata sangat unik dan bernyali yang ternyata hanya berlangsung selama 3 bulan.

Sejak letusan terakhir pada bulan Mei, hingga awal bulan Agustus 1883, Gunung Krakatau masih bisa didekati bahkan didatangi, sekalipun masih terjadi letusan-letusan kecil dan gempa vulkanik. Tim dari pemerintah Hindia Belanda masih sempat mengunjungi Krakatau untuk memantau keadaan dan melakukan investigasi, sehingga seorang perwira angkatan darat Kerajaan Belanda bernama Capten H.J.G. Ferzenaar berhasil membuat peta pulau Krakatau dengan cukup detil pada tanggal 11 Agustus 1883. Peta tersebut adalah sebuah karya luar biasa yang dikemudian hari menjadi sangat penting untuk menggambarkan aktivitas dan rekonstruksi Gunung Krakatau.

Dari kondisi kawah-kawah yang dijelajahi saat itu, Sang Kapten merasakan bahwa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi dengan gunung api tersebut, akan tetapi hampir semua orang tidak menyadari. Dan kemudian apa yang dikhawatirkan Capten Ferzenaar yang juga menjadi kekhawatirn Sang Kyai Caringin (Syeh Asnawi yang telah memindahkan pesantrennya) menjadi kenyataan.

Gambar 3. Peta Pulau Rakata dan sekitarnya, yang dibuat oleh Capten Ferzenaar pada 11 Agustus 1883.

Pada hari minggu jam 13.06 tanggal 26 Agustus 1883, tiba-tiba terdengar suara ledakan sangat keras menggelegar yang berasal dari tengah-tengah Selat Sunda, disertai dengan munculnya asap menjulang tinggi ke angkasa bagaikan sebuah tiang raksasa. Kolom asap itu terlihat jelas dari Anyer sehingga membuat semua orang terpana, namun tidak ada yang mengangka akan bahaya maut dari ledakan yang bersumber dari tempat sejauh 40 kilometer dari pantai tersebut. Ledakan pertama membuat Selat Sunda bergejolak. Gelombang tinggi menggulung, dan semakin tinggi seiring dengan dentuman tiada henti dari pulau vulkanik yang ternyata sedang menghancurkan diri itu.

Pada jam 15 Anyer menjadi gelap gulita dihujani abu gunung api, bahkan dua jam berikutnya kegelapan juga melanda Batavia. Dentuman terus menerus terjadi hingga dini hari, dan gelombang laut makin menggila, dikarenakan gelombang kejut akibat ledakan luar biasa itu dan ambruknya sebagian tubuh gunung ke dasar laut. Tidak banyak informasi tentang apa yang 

terjadi pada masyarakat Anyer dan pesisir lainnya ketika alam membuat terror yang begitu mengerikan hingga kemudian agak mereda menjelang pagi hari. Tapi tidak berlangsung lama, seakan-akan gunung itu menarik nafas sesaat untuk kemudian berteriak sekuatnya.

Pada jam 10.02 hari Senin tanggal 27 Agustus 1883 terjadilah sebuah letusan gunung api terdahsyat yang pernah disaksikan manusia modern. Sebuah ledakan gunung api berskala 6 VEI (Volcanic Eruption Index) dengan daya ledak setara 10.000 kali ledakan bom atom Hiroshima. Konon ledakannya terdengar hingga Kepulauan Rodriguez dekat perairan Afrika yang berjarak hampir 5.000 kilometer dari Krakatau.

Menyusul ledakan tersebut, Krakatau  benar-benar hancur. Sebagian terlontar ke angkasa, membentuk kolom asap menjulang tinggi mencapai ketinggian 38 kilometer, lontaran batu dan pasir menghujani wilayah dalam radius puluhan kilometer sehingga Selat Sunda dipenuhi batu putih yang mengambang di atas air (batu apung/pumice), abunya sampai di Batavia, Sementara sebagian tubuh gunung runtuh ke dasar laut.

Letusan Krakatau Senin pagi tanggal 27 Agustus 1883 jam 10.02 itu, yang menghancurkan sebagian besar pulau vulkanik itu, melontarkan sebagian dan meneggelamkan sebagian lainnya (menurut sebuah riwayat juga mengirim awan panas hingga ke pesisir Lampung selatan), sudah tentu memberikan tekanan luar biasa pada laut Selat Sunda. Gelombang tinggi yang terbentuk sejak letusan pertama makin menjadi-jadi , memicu gelombang tsunami yang lebih besar, tingginya berbanding terbalik terhadap kedalaman laut, di laut dalam tidak seberapa tinggi, namun makin ke pantai bertambah tinggi. Dalam kecepatan luar biasa, gelombang tersebut menjalar ke pesisir.

Gelombang setinggi 20 meter di pantai Caringin dan Carita yang terjadi 15 menit setelah letusan terakhir, meluluhlantakkan seluruh kota kecil pusat pemerintahan kewedanaan, menghancurkan semua yang menghalangi yaitu semua bangunan pemerintahan yang berada di pantai, tidak terkecuali Masjid Caringin yang kemudian ceritanya melegenda. Terbilang setidaknya 10.000 orang penduduk yang ada di Caringin tewas pada peristiwa itu.

Di Merak yang lebih jauh, gelombang tsunami datang setinggi 40 meter, kabarnya tidak menyisakan penduduk perkampungan yang ada di pedataran pantai yang sempit, bahkan buruh penggali batu yang hampir seluruhnya dari etnik Tionghoa semua menjadi korban pada saat bekerja mencungkil batu andesit di ketinggian 30 meter.

Di Anyer gelombang datang laksana dinding air setinggi 30 meter, lalu menghancurkan segala yang ada di dekat pantai dimana terdapat pelabuhan, bangunan pemerintahan, kantor dan pemukiman. Gelombang setinggi itu konon mengangkat dan menghempaskan batu karang seberat 600 ton, lalu membenturkannya ke bangunan menara suar hingga roboh. Pada peristiwa itu hanya ada beberapa orang yang diceritakan selamat dari bencana, Asisten Residen Anyer berkebangsaan Belanda yang dikenal baik hati turut menjadi korban terhempas tsunami. 

Gambar 4. Foto batu karang seberat 600 ton tang terangkat oleh gelombang tsunami akibat letusan Krakatau, kemudian menghancurkan Menara Suar Anyer pada 27 Agustus 1883.

Bencana Krakatau 1883 menelan korban jiwa tidak kurang dari 36.470 orang. Mungkin hanya ratusan orang yang menjadi korban dari letusan seperti tertimpa lontaran material lontaran gunung api atau terpapar awan panas, sementara lebih dari 36.000 orang adalah korban yang terlanda gelombang tsunami. Mereka adalah yang kebetulan berada di daerah pesisir barat Banten dan pesisir selatan Lampung. Suatu jumlah korban yang tidak terkira untuk saat itu.

Gambar 5. Tapak menara suar lama yang hancur pada 27 Agustus 1883 sebelum dan sesudah dipugar yang juga sebagai tugu Km 0 Jalan Raya Anyer – Panarukan (atas), lokasi ditemukannya puing menara suar lama di sungai Cikoneng sekitar 400 meter dari muara (kiri bawah), dan menara suar pengganti yang selesai dibangun pada tahun 1885 (kanan bawah).

Gambar 9. Peta Selat Sunda yang menunjukkan landaan tsunami Krakatau pada tahun 1883 (Van Verbeek)

Letusan Krakatau hanya menyisakan sebagian kecil daratan yaitu yang disebut Pulau Rakata sekarang. Jadi ada 3 pulau melingkar, yaitu P. Sertung, P. Panjang dan P. Rakata. Selanjutnya di tengah-tengah muncul Sang Putra  pada tahun 1927, meletup-letup, tumbuh dengan pesat, membangun kerucut yang puncaknya hingga tahun 2018 mencapai ketinggian lebih dari 300 meter diatas permukaan laut. Gunung api bernama Gunung Anak Krakatau itu pada Desember 2018 kembali meletus cukup dahsyat menimbulkan bencana tsunami di sekitar Pantai Sumur, Carita dan Anyer dengan korban jiwa lebih dari 500 orang. Demikianlah Gunung Anak Krakatau akan selalu tumbuh membesar, tinggi dan mungkin pada suatu saat nanti akan menyapa dunia kembali.

 

Literatur

  1. Dinas ESDM Provinsi Banten, 2017, Studi Kegeologian dalam rangka Mendukung Persiapan Pembangunan Museum Krakatau di Banten
  2. John Joseph Stockdale, The Island of Java (Manuskrip Tertua, Pertama Terbit Tahun 1811); Terjemahan oleh Ira Puspitorini dan An Ismanto, 2014, dengan judul, Sejarah Tanah Jawa, Penerbit Indoliterasi;
  3. Sutikno Bronto, 2013, Geologi Gunung Api Purba, Badan Geologi Bandung;
  4. Badan Geologi, 2011, Hidup di Atas Tiga Lempeng; Gunung Api dan Bencana Geologi;
  5. Simon Winchester, 2010, , Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883,  Krakatoa;
  6. Peta Geologi Lembar Anyer, skala 1 : 100.000, disusun oleh S. Santosa tahun 1991 Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung;

Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan