ANALISA SEMBURAN GAS BERCAMPUR LUMPUR DI KAMPUNG ASTANA, DESA WALIKUKUN, KECAMATAN CARENANG KABUPATEN SERANG, PROVINSI


ANALISA SEMBURAN GAS BERCAMPUR LUMPUR DI KAMPUNG  ASTANA, DESA WALIKUKUN, KECAMATAN CARENANG KABUPATEN SERANG,  PROVINSI BANTEN

 

Oleh : H. Dharwanto Kurniawan, ST

 

Semburan gas di Kabupaten Serang telah menimbulkan keresahan terutama Kabupaten Serang. Survey geofisika dengan metoda magnetik telah dilakukan untuk mengetahui penyebaran daerah lemah di sekitar semburan gas berdasarkan pola anomali dan interpretasi peta magnetik. Untuk menghilangkan pengaruh inklinasi, maka peta anomali magnetik yang dihasilkan di reduksi ke ekutor. Delineasi posisi anomali dilakukan dengan penerapan turunan horisontal orde pertama. Peta hasil reduksi ke ekuator menunjukkan bahwa posisi kawah/ semburan gas pada daerah survey terletak  pada  nilai  anomali  magnetik  sedang  dan  rendah.  Aplikasi  turunan  horisontal  orde  pertama menunjukkan adanya kelurusan anomali magnetik pada arah timurlaut – baratdaya yang diinterpretasikan berhubungan dengan keberadaan stuktur.

Pendahuluan

Di  wilayah  Kabupaten  Serang,  Provinsi Banten terdapat 11 lokasi semburan dan tembusan gas (Zaenudin, 2010). Kondisi ini menimbulkan keresahan serta sempat menggemparkan masyarakat akibat semburan gas  yang  terjadi  di  Kampung  Astana, Desa Walikukun, Kecamatan Carenang Kabupaten Serang ditayangkan  oleh  salah  satu  televisi  swasta, yang menggambarkan seolah-olah kejadian ini merupakan cikal bakal semburan lumur yang menyerupai  semburan  lumpur  panas  di Sidoarjo.

Berbagai penelitian telah dilakukan, diantaranya penelitian geologi dan geokimia, untuk mengetahui penyebab dari semburan gas. Zaenudin (2010) menyatakan bahwa pada kelompok tembusan gas, munculnya gas melewati   suatu   zona   lemah   (sesar)   yang bergerak secara perlahan dan kontinyu menuju ke  atas  dan  akhirnya  muncul  di  permukaan. Pada kasus semburan gas, gas bergerak ke permukaan melewati sesar-sesar yang kemudian terakumulasi   pada   zona   sesar   yang   telah tertutupi   oleh   lapisan   penutup   (Zaenudin, 2010).

Pada Mei dan Agustus 2010 Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Goeologi melakukan penelitian geofisika dengan menggunakan metoda magnetik yang bertujuan untuk mengetahui kondisi bawah permukaan   serta   penyebaran   daerah-daerah lemah/tidak stabil di daerah sekitar tembusan dan  semburan  gas  berdasarkan  pola  anomali dan interpretasi peta magnetik.

 

Metoda

Survey  magnetik  yang  dilakukan merupakan survey magnetik rinci. Jarak antar titik ukur serapat mungkin untuk menghindari terlalu    banyaknya    interpolasi    pada    peta magnetik    yang    dihasilkan.    Peta    anomali magnetik yang dihasilkan masih dipengaruhi oleh arah inklinasi medan magnet bumi pada dearah penyelidikan sehingga maksimum profil anomali tidak berhubungan langsung dengan posisi sumber benda penyebab anomali. Untuk menghilangkan pengaruh sudut inklinasi magnetik maka dilakukan filter reduksi ke ekuator (Blakely, 1995).

Delineasi posisi anomali dilakukan dengan penerapan turunan horisontal (horizontal derivative) orde pertama. Turunan horisontal data medan potensial dapat langsung dihitung karena data diukur pada titik yang tersebar secara spasial (x, y). Turunan horizontal orde pertama  arah  x  dan  arah  y  dapat  dihitung melalui pendekatan berikut (Blakely, 1995),

Dimana i  dan j  masing-masing adalah indeks grid dalam arah x dan y. Dengan menggunakan sifat-sifat turunan pada transformasi Fourier, turunan horizontal dapat pula dituliskan sebagai berikut,

Dimana F(  ) adalah notasi transformasi Fourier dan  kx,  ky   adalah  bilangan  gelombang dalam arah x dan y. Pada proses penurunan, perkalian dengan  bilangan  gelombang  dapat  berakibat pada    amplifikasi    frekuensi    tinggi/    noise (Yudistira,   2004).   Amplifikasi   ini   semakin besar  dengan semakin besarnya orde  turunan (n).

 

 

Hasil

Survey  magnetik   yang   dilakukan merupakan survey magnetik rinci. Jarak antar titik ukur serapat mungkin untuk menghindari terlalu  banyaknya  interpolasi  pada  peta magnetik yang dihasilkan. Titik-titik amat yang diambil diusahakan tersebar merata dan adanya pengkonsentrasian di sekitar kawah pada daerah survey. Data yang diperoleh dilapangan disusun ke dalam tabel X (longitude), Y (latitude) dan Z (nilai medan magnetik terkoreksi variasi harian) yang kemudian diplot kedalam Peta Intensitas Magnet  Total  dengan  menggunakan  software Surfer.  Data  magnetik  pada  setiap  titik  ukur magnetik  merupakan  nilai  medan  magnetik total.

Data     medan     magnetik     total     hasil pengukuran di lapangan masih berbaur dengan pengaruh dari dalam dan dari luar bumi. Pengaruh medan yang berasal dari luar bumi dihilangkan dengan koreksi medan magnetik harian. Sedangkan medan magnet yang berasal dari dalam bumi yang dibangkitkan dari outer core disebut medan magnet utama dan medan magnet    yang    berasal    dari    kerak    bumi merupakan      target      survei      geomagnetik

Pengaruh  dari  medan  utama  pada  data  hasil pengukuran dihilangkan dengan koreksi medan utama   magnet   bumi   atau   koreksi   IGRF (International  Geomagnetic  Reference  Field). Data hasil koreksi variasi harian dan koreksi IGRF  ini  disebut  anomali  medan  magnetik residual (∆T), yaitu:

Berdasarkan data dari International Geomagnetik Reference Field (IGRF), dengan menggunakan software geomag60 dan titik acuan pada titik base station, harga medan magnetik regional (TIGRF/ F) di daerah survey berada pada harga 44864.4 nT. Nilai Deklinasi (D) pada daerah tersebut adalah 0040’ dan nilai Inklinasinya (I): -31018’. Harga magnetik residual ( ΔT ) kemudian diplot dengan menggunakan  software  Surfer  dan menghasilkan Peta Anomali Medan Magnetik Residual (Gambar 1).

Pembahasan

Anomali       yang       dihasilkan       masih dipengaruhi oleh arah inklinasi medan magnet bumi   pada   daerah   penyelidikan   sehingga maksimum profil anomali tidak berhubungan langsung  dengan  posisi  sumber  benda penyebab anomali. Inklinasi medan magnet bumi pada daerah survey yang berada di sekitar khatulistiwa merupakan kebalikan dari daerah kutub, dimana pada sekitar khatulistiwa posisi sumber berhubungan dengan minimum profil anomali. Untuk menghilangkan pengaruh sudut inklinasi   magnetik   maka   dilakukan   filter reduksi ke ekuator (Blakely, 1995). Data anomali medan magnetik di lokasi pengukuran ditransformasi  ke  ekuator  magnet  yang memiliki sudut inklinasi 0 (nol) derajat. Inklinasi medan magnet pada ekuator yang berarah horizontal (nol derajat) menjadikan minimum profil  anomali  berhubungan langsung  dengan  posisi  sumber  benda penyebab anomali (Gambar 2).

Gambar 1. Peta Anomali Magnetik Residual Survey Magnetik di Serang

 

Gambar 2. Peta Anomali Magnetik Residual Survey Hasil Reduksi ke Ekuator

Peta Anomali Magnetik Residual menunjukkan bahwa harga anomali magnet pada daerah  penyelidikan  berkisar  antara  - 650 s.d. 450 nT. Harga anomali magnet tersebut dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu:

•   Anomali magnet rendah mempunyai harga kurang dari -250 nT.

•   Anomali  magnet  sedang  dengan  harga antara -250 s.d. 100 nT

•   Anomali magnet tinggi mempunyai harga lebih besar dari 100 nT

 

Daerah survey didominasi oleh nilai magnetik sedang dan rendah. Nilai anomali magnetik tinggi  hanya  ada  di  bagian  timur  daerah survey, sebelah timur Kawah Cibeutik. Posisi Catih,  Gusalih, Bungkeureuk, Rancabala, Cikasap, Pematang, Mongpok, Cibeutik dan Astana Agung dan Pontang   berada   pada   dan   sekitar   klosur anomali magnetik rendah. Penulis menginterpretasikan bahwa keberadaan dari klosur anomali magnetik rendah berhubungan dengan keberadaan sumber.

Delineasi posisi anomali dilakukan dengan penerapan turunan horisontal (horizontal derivative) orde pertama (Blakely, 1995). Turunan horisontal data medan potensial dapat langsung  dihitung  karena  data  diukur  pada titik yang tersebar secara spasial (x, y). Aplikasi turunan horisontal orde pertama pada anomali magnetik daerah survey menunjukkan adanya kemenerusan anomali yang hampir diagonal pada arah timurlaut – baratdaya (Gambar 3)

Gambar 3. Turunan Horisontal Orde Pertama Anomali Magnetik Daerah Survey

 

Penerapan turunan horisontal orde pertama pada anomali magnetik daerah survey menunjukkan adanya kelurusan anomali magnetik pada arah timurlaut – baratdaya yang diinterpretasikan berhubungan dengan keberadaan stuktur. Pemunculan atau emisi gas ke permukaan dikontrol oleh permeabilitas akibat proses pembentukan dan aktivitas struktur

 

Kesimpulan

  • Posisi kawah – kawah/ semburan gas pada daerah survey terletak pada nilai anomali magnetik sedang dan rendah.
  • Keberadaan dari klosur anomali magnetik rendah  berhubungan  dengan  keberadaan sumber.
  • Pemunculan kawah – kawah/ semburan gas di    daerah    survey    dipengaruhi    oleh keberadaan  klosur  anomali  magnetik rendah dan keberadaan struktur. Emisi gas ke permukaan dikontrol oleh permeabilitas akibat proses pembentukan dan aktivitas struktur tersebut.

 

Daftar Pustaka

Blakely,   R.J.,   1995,   Potential   Theory   in Gravity and Magnetic Applications, Cambridge University Press, New York

 

Zaenudin. Z, 2010, Semburan Gas di Kampung Astana Agung – Kabupaten Serang – Banten, Jurnal    Gunungapi    dan Mitigasi Bencana Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung

 

 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan