Desa Mandiri Energi dengan Memanfaatkan Potensi Mikrohidro


Pembangunan sektor energi merupakan hal utama untuk penyelarasan pemerataan  pembangunan dan memajukan desa-desa sebagai kekuatan baru bagi ekonomi nasional. Pembangunan sektor energi diarahkan untuk mendorong kegiatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat serta memenuhi kebutuhan energi dengan menjamin ketersediaan energi dan peningkatan mutu serta pelayanannya.

Indonesia memiliki sumber energi yang cukup beragam. Sumber energi yang cukup penting dan banyak digunakan saat ini adalah energi fosil yang tidak terbarukan (minyak bumi, gas bumi dan batubara) serta energi terbarukan (tenaga air, panas bumi, energi surya, energi angin dan biomassa).

Berkaitan dengan kebutuhan akan energi kelistrikan terutama untuk masyarakat di wilayah perdesaan dan terpencil yang sulit dijangkau, pembangunan sektor energi menjadi hal yang sangat dinantikan masyarakat. Dengan merujuk pada sumber energi fosil yang terbatas serta melimpahnya potensi energi terbarukan yang belum maksimal pemanfaatannya, maka alternatif terbaik sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan permasalahan krisis energi di daerah pelosok adalah dengan memanfaatkan potensi energi terbarukan.

Beberapa alasan mendasar bagi penyediaan energi terbarukan bagi masyarakat perdesaan dan daerah terpencil antara lain karena : 1) lokasi sumberdaya energi terbarukan umumnya berada di perdesaan dan desa terpencil, 2) penyediaan energi konvensional di daerah ini memerlukan biaya tinggi (terutama karena biaya distribusi yang relatif tinggi), 3) mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan 4) pemanfaatan energi terbarukan tidak hanya untuk menyediakan energi bagi keperluan rumah tangga akan tetapi juga untuk menambah penghasilan rumah tangga dengan memperkenalkan dan mengimplementasikan kegiatan-kegiatan atau usaha untuk menambah penghasilan.

Salah satu pembangunan energi terbarukan yang memungkinkan untuk dikembangkan di perdesaan dan daerah terpencil yaitu dengan memanfaatkan energi dari tenaga air yang ada di daerah tersebut. Potensi tenaga air dari sungai yang mengalir sangat memungkinkan untuk bisa sedikit mengatasi krisis energi setidaknya untuk dimanfaatkan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar aliran sungai, yaitu dengan membangun Desa Mandiri Energi melalui pemanfaatan potensi mikrohidro yang ada di wilayah tersebut..

Desa mandiri energi adalah desa yang dapat menyediakan energi bagi desa itu sendiri sehingga bisa membuka lapangan kerja, mengurangi kemiskinan dan menciptakan kegiatan ekonomi produktif. Tujuan utama pengembangan desa mandiri energi adalah pengurangan kemiskinan dan membuka lapangan kerja serta untuk mensubstitusi bahan bakar minyak. Pemerintah telah mencanangkan pengembangan desa mandiri energi dari 140 menjadi 2000 desa pada akhir 2009.

Saat ini penyediaan listrik oleh pemerintah masih belum menjangkau ke seluruh wilayah sampai ke desa-desa karena berbagai alasan dan kendala. Pembangunan infrastruktur jaringan listrik untuk daerah-daerah terpencil memerlukan investasi yang besar. Sementara kebutuhan listrik di daerah yang pada penduduknya semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan bertambahnya penduduk sehingga pemerintah juga harus menyediakan tambahan daya listrik untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Sementara, air sebagai salah satu sumber energi yang dapat dikonversi menjadi listrik melalui pembangkit lsitrik tenaga air (PLTA) harus tetap dipertahankan keberadaannya. Menurunnya debit air terutama pada saat musim kemarau harus dicegah dengan menjaga sumber airnya yang diwujudkan melalui upaya pelestarian hutan. Kawasan hutan harus tetap dipertahankan dari penebangan liar. Pada kenyataannya program pelestarian hutan  untuk menjaga sumber air ini banyak mendapat tantangan terutama dari masyarakat sekitar kawasan hutan yang secara ekonomi masih tertinggal, sehingga faktor sosial dan ekonomi banyak dikedepankan untuk dijadikan alasan merambah hutan.

Konsep desa mandiri berbasis mikrohidro dapat dijadikan salah satu solusi untuk memecahkan permasalahan di atas. Pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) merupakan jawaban krisis listrik di Indonesia. Mikrohidro sebagai pembangkit listrik memanfaatkan potensi sumber air di kawasan yang dekat  dengan areal hutan dapat dijadikan pula sebagai pusat teknologi bagi masyarakat setempat.

Potensi Mikrohidro

Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) adalah pembangkit listrik berskala kecil kurang dari 250 KW, yang memanfaatkan tenaga (aliran) air sebagai sumber energi. PLTMH juga dikenal sebagai “energi putih” dikarenakan instalasi pembangkit listrik seperti ini menggunakan tenaga gerak dari sumber daya alam (air) dan  ramah lingkungan.

PLTMH dipilih karena kemudahan dalam memperoleh sumber energinya. Membangun PLTMH dapat melestarikan keberlangsungan sumber daya air. Secara ekonomi, biaya operasinya relatif murah dibandingkan dengan pengoperasian generator diesel. PLTMH bisa beroperasi sehari penuh, lebih lama daripada pembangkit listrik tenaga matahari yang hanya bisa beroperasi pada siang hari. PLTMH pada umumnya dibuat dalam skala kecil di perdesaan terutama di daerah-daerah terpencil yang kesulitan atau belum mendapatkan akses listrik PLN. Tenaga air yang digunakan untuk PLTMH dapat berupa aliran air pada sistem irigasi, sungai yang dibendung atau air terjun.

Wilayah Banten sendiri mempunyai beberapa potensi energi air yang cukup melimpah terutama di wilayah-wilayah terpencil dengan profil potensi aliran sungai dengan debit yang memadai. Beberapa titik potensi hasil studi di wilayah Banten menunjukkan beberapa wilayah kecamatan Cimarga, Bojongmanik, Kramatjaya, Gunung Kencana, Muncang dan Sajira di kabupaten Lebak. Sedangkan di kabupaten Pandeglang terdapat potensi di desa Cilentung dan desa Tegalwangi. Untuk wilayah kabupaten Serang di kecamatan Ciomas, Tanara, Tirtayasa dan Padarincang

Prinsip Kerja PLTMH

PLTMH pada prinsipnya memanfaatkan beda ketinggian dan jumlah debit air per detik yang ada pada aliran air sungai irigasi, sungai, atau air terjun. Secara umum, komponen utama PLTMH yaitu Bendungan/Intake, Bak Pengendap, Pipa Pesat, Rumah Pembangkit, dan Turbin. Aliran air akan masuk ke bendungan, lalu ke bak pengendap selanjutnya mengalir melalui pipa pesat untuk akhirnya menggerakkan turbin/generator sehingga menghasilkan energi listrik.

Faktor sulitnya akses serta rendahnya feasibilitas pemasangan jaringan ke pelosok terpencil adalah salah satu penyebab belum meratanya penyebaran listrik di daerah. Di balik semua kesulitan itu, sebenarnya setiap daerah mempunyai potensi sumber daya alam yang unik untuk pembangkit energi listrik atau sumber energi setempat (SES) yang tergolong dalam energi terbarukan. Potensi SES ini umumnya berskala kecil dan tersebar, sehingga jika menggunakan kriteria komersial, potensi ini tidak layak dikembangkan. Setiap daerah punya kriteria SES yang berbeda , ada yang memiliki sumber air , ada pula yang memiliki potensi angin, bahkan ada yang memiliki potensi surya. Salah satu potensi besar yang dimiliki Indonesia adalah air. Sumber energi air mampu menerangi seluruh Jawa dan Bali dengan waduk-waduk buatan berukuran raksasa seperti Jatiluhur, Cirata ataupun Saguling. Sayangnya potensi air yang besar ini pemanfaatannya belum maksimal. Pengembangan mikrohidro ini dipandang sebagai pilihan yang tepat untuk penyediaan energi listrik untuk daerah terpencil dengan jumlah penduduk yang sedikit dan sulit dijangkau jaringan listrik PLN.

Sumber materi :

  1. Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten
  2. http://litbang.bantenprov.go.id/2012/pembangkit-listrik-tenaga-mikro-hidro/
  3. http://lbprastdp.staff.ipb.ac.id/files/2011/12/Presentasi_Perteta_8-9Aug2009_Unram_NTB-Aris-PPLH-IPB.pdf
  4. http://www.elsppat.or.id/download/file/w8_a6.pdf

Twitter


Facebook