GEODIVERSITY DI KABUPATEN LEBAK DALAM MENUNJANG PENGEMBANGAN GEOPARK


GEODIVERSITY DI KABUPATEN LEBAK DALAM MENUNJANG PENGEMBANGAN GEOPARK

(oleh Tata Henda)

 

Geopark atau taman bumi adalah konsep manajemen pengembangan kawasan secara  berkelanjutan yang memadu-serasikan tiga keragaman alam yaitu keanekaragaman geologi (geodiversity), keanekaragaman hayati (biodiversity), dan keanekaragaman budaya (cultural diversity) yang berpilar pada  aspek konservasi, edukasi, dan pertumbuhan ekonomi lokal (Ibrahim Komoo). Jadi geopark tidak hanya melakukan konservasi sumber daya alam agar terlindungi dan merupakan sarana edukasi, tetapi juga memiliki fungsi ekonomi bagi masyarakat. Dari hadirnya geopark disuatu daerah, selalu diikuti dengan peningkatan ekonomi dan kesejahteraan terutama bagi masyarakat sekitarnya.

Geodiversity adalah bagian terpenting dari sebuah kawasan geopark sebab setiap geopark biasanya dinamai atas nama geodiversity yang sangat khas dalam kawasan atau dinamai berdasarkan tempat terdapatnya kekhasan geodiversity tersebut, sebagai contoh Geopark Kaldera Batur di Bali yang merupakan kawasan kaldera gunung api. Geodiversity secara sederhana dapat didefinisikan sebagai keanekaragaman geologi (batuan, mineral, fosil), geomorfologi (bentang alam, proses pembentukan) dan lapisan tanah. Hal ini meliputi kelompok, interpretasi, dan sistemnya (Gray, 2004)

Kabupaten Lebak memiliki banyak geodiversity (keanekaragaman geologi) yang meliputi batuan, mineral, fosil, bentang alam khas serta sistem atau tatanan geologi yang sangat unik. Tatanan geologi yang unik ini dikenal sejak lama sebagai Bayah Dome atau Kubah Bayah yang meliputi wilayah sepanjang hampir 60 km dan lebar 40 km mulai daerah Gunungkencana di bagian barat hingga Gunung Halimun di bagian timur. Sementara di bagian selatan mulai pesisir Bayah hingga Sajira di bagian utara.

Wilayah ini dibangun melalui proses geologi yang berlangsung sejak sekitar 50 juta tahun yang lalu. Batuan tertuanya saat ini tersingkap di beberapa lokasi di Kecamatan Bayah dan Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak dikenal dinamai secara geologi sebagai Formasi Bayah. Sedangkan batuan muda yang terbentuk berumur Kuarter, terdiri atas batuan gunung api dan endapan permukaan seperti alluvium dan endapan pantai.

Keragaman geologi yang ada di wilayah ini secara menakjubkan mewakili semua umur dalam skala waktu geologi sejak Kala Eosen sampai Kala Pliosen Zaman Tersier hingga Zaman Kuarter, yaitu dalam rentang waktu lebih dari 50 juta tahun. Litologi (batuan penyusunnya) terdiri atas aneka jenis batuan beku, batuan sedimen dan batuan malihan (metamorf) dengan pola struktur geologi yang sangat kompleks. Semua itu tersingkap berupa panorama dan lansekap alam yang sangat indah, dilengkapi dengan kehadiran fosil-fosil, terutama fosil kayu terkersikkan yang sangat unik dan batu permata terutama jenis opal yang mempunyai nama lokal Kalimaya.

 

Kala Eosen (56 – 34 juta tahun yl)

Kelompok batuan yang tersingkap ke permukaan adalah Formasi Bayah (Teb), Formasi Cicarucup (Tet) dan Formasi Cikotok (Temv). Penyebarannya menempati bagian selatan Kabupaten Lebak.

Batuan tertua, Formasi Bayah tersingkap di sekitar pantai Bayah dan Cihara, kelompok batuan yang termasuk batuan sedimen ini diendapkan di lingkungan laut dangkal hingga darat, dan diantaranya adalah rawa yang ditumbuhi oleh hutan lebat. Sebagai bukti jejak hutan lebat ini adalah adanya lapisan batubara yang terhampar mulai dari kecamatan Cilograng, Bayah, Panggarangan hingga Cihara,  di bagian selatan Kabupaten Lebak. Selain itu di pantai Cihara dan pantai Karangtaraje, Bayah terhampar jenis batuan yang diendapkan di lingkungan pasang surut yaitu batupasir berikut pola struktur sedimen yang khas.

Gambar 2. Panorama alam dan lansekap bebatuan dari Formasi Bayah di Cihara dan Bayah

Meskipun batuan dari Formasi Bayah terbagi dalam 3 anggota formasi, yaitu Anggota Konglomerat, Anggota Batulempung dan Anggota Batugamping, tetapi yang paling dominan dan merupakan geodiversity yang sangat menarik adalah Anggota Konglomerat karena batuannya tersusun dari material yang keras berupa konglomerat dan batupasir kuarsa sehingga membentuk singkapan-singkapan berupa lansekap yang menarik di tepi pantai seperti di Pantai Kiara dan pantai Cibobos, Kecamatan Cihara dan pantai Karangtaraje di Bayah Timur, Kecamatan Bayah.

Selain Formasi Bayah, geodiversity penting yang terbentuk sejak Eosen adalah Formasi Cikotok yang merupakan tempat kedudukan mineralisasi logam mulia (emas dan perak) bersama-sama dengan logam dasar terutama timah hitam (timbal) sehingga lokasi ini  juga dikenal sebagai lokasi tambang emas tertua di Indonesia yang dibuka sejak zaman pemerintahan Hindia-Belanda. Batuan dari Formasi Cikotok tersingkap luas di wilayah Kecamatan Cibeber, Panggarangan, Cilograng dan Bayah, tersusun dari batuan gunung api yang secara luas telah mengalami ubahan oleh karena terintrusi oleh batuan terobosan dalam waktu yang sangat panjang. Singkapan-singkapan menarik dari formasi batuan ini berada terutama di lokasi-lokasi bekas penambangan emas, seperti; Cikotok, Pasirgombong, Cirotan, Cipicung, Lebaksembada, Kecamatan Cibeber.

 

Kala Oligosen (33,9 – 23 juta tahun yl)

Batuan yang dihasilkan pada rentang waktu ini diantaranya adalah sebuah tubuh batuan terobosan yang sangat besar, dikenal sebagai Granodiorit Cihara. Batuan ini sangat dominan mewarnai sistem geologi Kubah Bayah, mengakibatkan batuan yang lebih tua muncul ke permukaan dan juga membentuk batuan malihan. Kelompok batuan yang berumur Oligosen selain Granodiorit Cihara diantaranya adalah Formasi Cijengkol yang berupa batuan sedimen  dimana salah satu kelompoknya juga mengandung batubara yaitu Anggota Batupasir Formasi Cijengkol, akan tetapi sebaran lapisan batubara pada formasi ini tidak sebanyak yang terdapat dalam Formasi Bayah.

 

Kala Miosen (23 – 5,3 juta tahun yl)

Tampilan geodiversity yang menarik dari beberapa kelompok batuan dalam rentang umur Miosen dikenal sebagai Formasi Cimapag dan Anggota Batugamping Formasi Citarate terutama yang tersingkap di Kecamatan Bayah dan Kecamatan Cilograng.

Formasi Cimapag tersingkap sangat luas di bagian selatan dan tengah wilayah Kabupaten Lebak, berupa batuan sedimen piroklastik, sedimen klastika, batuan karbonat dan batuan gunung api. Kelompok batuan ini diendapkan di lingkungan laut dangkal hingga lereng samudera. Contoh yang sangat menarik dari kelompok batuan ini terlihat di lokasi-lokasi sekitar pantai Goa Gede, Kecamatan Cilograng, pantai Ciantir dan Karangtaraje, Kecamatan Bayah.

Anggota Batugamping Formasi Citarate adalah batuan karbonat yang seringkali membentuk Bentang Alam Karst yang keterdapatannya harus dilindungi karena menjadi sebuah ekosistem yang sangat unik dan bermanfaat bagi manusia. Beberapa ciri bentang alam karst adalah terdapatnya goa berikut ornamennya serta adanya sungai bawah tanah. Di Kabupaten Lebak, Bentang Alam Karst tersebar di bagian selatan hingga bagian tengah, seperti Kecamatan Bayah, Kecamatan Cilograng dan Kecamatan Sobang.

Kala Pliosen (5,3 – 2,5 juta tahun yl)

Rentang waktu Pliosen menunjukkan geodiversity yang juga sangat menarik, teristimewa dengan hadirnya fosil kayu terkersikkan dan batu permata opal (kalimaya) yang terbentuk dalam kelompok batuan Formasi Genteng.

Formasi batuan ini tersusun oleh batuan sedimen yang terutama diendapkan di lingkungan fluviatil dengan jenis batuan tersusun dari batupasir, konglomerat dan batuan piroklastik berupa tuf dan lapilli sebagai produk letusan gunung api yang sangat kaya dengan silica (SiO2). Ketika pada lingkungan ini terjadi aktivitas gunung api yang sangat intensif maka vegetasi yang tumbuh subur akan terkubur oleh material vulkanik. Apabila material vulkanik tersebut sangat kaya dengan kandungan silica, maka hal ini sangat menungkinkan terjadinya proses pemosilan dan silisifikasi. Begitulah yang terjadi pada kelompok batuan dari Formasi Genteng yang tersebar sangat luas di bagian utara Kabupaten Lebak, sehingga di wilayah ini banyak terdapat fosil kayu terkersikkan yang mempunyai nama lokal batusempur. Pada kondisi tertentu endapan yang sangat kaya silica ini juga dapat mengalami pelindian kemudian secara perlahan larutan silica tersebut membentuk mineral opal, sehingga terjadilah kalimaya.

Selain keterdapatan fosil kayu dan kalimaya, pada umur Pliosen juga terdapat jejak peristiwa letusan gunung api besar seperti terlihat adanya endapan aliran piroklastik dan lava di pantai Sukahujan, pantai Cibunar Kecamatan Malingping dan Desa Ciparahu Kecamatan Cihara. Jejak-jejak tersebut berupa singkapan aliran piroklastik yang sangat kaya dengan batu apung, lava andesit dan ignimbrite.

Zaman Kuarter (2,5 juta tahun yl – sekarang)

Geodiversity penting dari Zaman Kuarter ini diantaranya adalah proses magmatik, vulkanik serta tektonik yang menghasilkan morfologi pegunungan, patahan serta manifestasi panas bumi. Di beberapa lokasi bisa ditemukan fenomena alam yang sangat menarik struktur batuan beku, air terjun atau mata air panas.

Di Bagian utara Kecamatan Bayah terdapat batuan andesit dengan struktur kekar meniang (columnar Jointing), tempat tersebut dinamakan Situs Batu Bedil karena salah satu tubuh batu yang ada dianggap menyerupai bentuk senapan. Di Kecamatan Cilograng terdapat Curug Kanteh yang lokasinya cukup dekat sekitar 1 km dari jalan raya namun belum dibuatkan akses yang memadai. Di Kecamatan Lebakgedong terdapat Curug Ciear yang masih cukup sulit untuk dijangkau. Di Kecamatan Sobang juga terdapat Curug Cipicung. Selain itu juga beberapa mata air panas terdapat diantaranya di Kecamatan Cipanas dan Kecamatan Sobang.

Penutup

Penelitian geodiversity dalam menunjang pengembangan geopark di Provinsi Banten sampai saat ini telah dilakukan oleh pemerintah Provinsi Banten maupun Badan Geologi atau melalui kerjasama antara Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral dengan Badan Geologi dan beberapa perguruan seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti menghasilkan beberapa hal penting yang perlu ditindaklanjuti diantaranya :

  • Melakukan kajian inventarisasi geodiversity di lokasi-lokasi yang belum terdata;
  • Melakukan kajian pengembangan geopark secara lebih rinci;
  • Menetapkan lokasi-lokasi menarik sebagai kawasan lindung geologi atau situs geologi;
  • Membuat papan informasi di lokasi-lokasi yang menarik;
  • Melakukan sosialisasi, workshop atau FGD pengembangan Geopark;
  • Membentuk tim percepatan pengembangan geopark di Provinsi Banten dan Kabupaten Lebak;
  • Membangun Taman Batu dalam upaya melakukan konservasi Fosil Kayu dan jenis batuan lainnya yang unik di Kabupaten Lebak.
  • Membangun infrastruktur yang memadai untuk memudahkan akses menuju lokasi-lokasi potensial pengembangan geopark.

 

Setelah terkumpul informasi dan data geodiversity, biodiversity dan cultural diversity yang sangat menarik tersebut tinggal dikemas dalam manajemen pengelolaan yang berbasis partisipatif masyarakat dan semua stake holder, sehingga akan terwujud satu, dua atau tiga Geopark di Provinsi Banten untuk kemudian bisa diajukan ke Unesco agar diakui sebagai Global Geopark.  Untuk mencapai hal tersebut pemerintah, terutama pemerintah daerah harus mulai memfasilitasi atau berperan langsung dalam pengembangan geopark, mulai dari pembangunan infrastruktur akses jalan, pasokan energi hingga pembangunan fisik sarana penunjang kelengkapan geopark lainnya, seperti fasilitas-fasilitas di dalam kawasan. Karena tidak mungkin berjalan dengan hanya mengandalkan satu unit organisasi saja, maka perlu direncanakan secara terpadu dengan melibatkan beberapa unit organisasi terkait.

 

 

Literatur

  1. International Commission on Stratigraphy, 2018; International Stratigraphic Chart;
  2. Tata Henda 2018, Mengenal Batusempur dan Kalimaya, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, Provinsi Banten;
  3. Tata Henda, 2013, Potensi Geowisata di Provinsi Banten, Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten;
  4. E. Rusmana dkk., 1991 Peta Geologi Lembar Serang, Jawa, skala 1 : 100.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung;
  5. Sudjatmiko dan S. Santosa, 1991, Peta Geologi Lembar Leuwidamar, Jawa, skala 1 : 100.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung.

 


Twitter


Facebook