PERKEMBANGAN MORFOLOGI GUNUNG ANAK KRAKATAU PASCA TSUNAMI 22 DESEMBER 2018 MELALUI PENGAMATAN CITRA SATELIT


PERKEMBANGAN MORFOLOGI GUNUNG ANAK KRAKATAU PASCA TSUNAMI 22 DESEMBER 2018 MELALUI PENGAMATAN CITRA SATELIT

Oleh : Ahmad Saepullah, ST

Banten hingga saat ini masih berduka. Bencana tsunami yang menghantam kawasan pesisir Anyer-Ujung Kulon, dan Lampung Selatan pada Sabtu, 22 Desember 2018 telah menimbulkan banyak korban jiwa. Menurut laporan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) pada rilis terakhirnya tanggal 14 Januari 2019 (Gambar 1) menyatakan bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat gelombang tsunami Selat Sunda sebanyak 437 jiwa, sementara total korban luka-luka sebanyak 371.943 jiwa dan  korban hilang sebanyak 10 jiwa

.

Gambar 1. Total Korban Tsunami Selat Sunda (Sumber: BNPB)

 

Penyebab Tsunami

Hingga saat ini, proses dan mekanisme terjadinya gelombang tsunami di Selat Sunda masih menjadi bahan kajian lebih lanjut bagi para ahli geologi. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Badan Geologi pada tanggal 23 Desember 2018 melaksanakan rapat koordinasi dengan agenda Pembahasan Tsunami Selat Sunda. Dari hasil pertemuan tersebut, diterbitkanlah secara tertulis Siaran Pers Bersama yang berisi sejumlah hal, antara lain mengenai penyebab tsunami di Selat Sunda tersebut. Berdasarkan data-data yang dihimpun dari masing-masing lembaga ini, dihasilkan kesepakatan bersama yaitu bahwa Tsunami yang terjadi di Sunda Sunda bukan disebabkan oleh gempa bumi tektonik, namun akibat longsor (flank collapse) di lereng Gunung Anak Krakatau akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Gambar 2. Siaran Pers Bersama secara tertulis antara Kemenko Maritim, BMKG, BIG, BPPT, LIPI dan Badan Geologi pada Tanggal 23 Desember 2018 perihal penyebab utama tsunami selat sunda

 

Perubahan Morfologi Terekam Satelit

Selain penyebab terjadinya tsunami, saat ini yang menjadi perhatian para ahli geologi adalah perubahan morfologi pada tubuh Gunung Anak Krakatau pasca peristiwa longsoran akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Kenampakan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau dapat diamati secara jelas melalui gambar citra satelit sebelum dan setelah peristiwa tsunami 22 Desember 2018. Sampai saat ini lembaga-lembaga yang telah merilis secara resmi gambar citra satelit terkait perkembangan Gunung Anak Krakatau diantaranya yaitu BPPT, BMKG, BNPB, Badan Geologi, dan Lapan.

 

Dari hasil analisis rekaman citra satelit, para ahli berkesimpulan bahwa Perubahan Morfologi Gunung Anak Krakatau secara umum dapat dibagi menjadi 2 fase/tahapan. Fase pertama yaitu fase destruksi, dimana pada fase ini terjadi proses pengrusakan yang disebabkan oleh erupsi dan longsoran, berupa hilangnnya sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau di sisi baratdaya. Yang kedua fase konstruksi, yaitu fase dimana Gunung Anak Krakatau membangun tubuhnya kembali, yang ditandai dengan pembentukan kawah baru dan penambahan areal baru kearah timur.

 

Fase Destruksi

Fase destruksi adalah fase pengrusakan/hilangnnya sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau yang disebabkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau. Gunawan, 2019 (PVMBG) dalam laporannya menyatakan bahwa Gunung Anak Krakatau menunjukan peningkatan aktivitasnya sejak bulan Juli 2018, dimana terjadi Erupsi Tipe Strombolian (eksplosif lemah) yang menimbulkan lontaran material hingga jarak 1 km.

 

Aktivitas vulkanik sempat menurun, hingga kemudian terjadi peningkatan kembali pada tanggal 22 Desember 2018, dimana letusan Gunung Anak Krakatau saat itu mengakibatkan longsornya sisi baratdaya Gunung Anak Krakatau. Material longsoran tersebut kemudian masuk kedalam laut dan memicu terbentuknya gelombang tsunami besar dan merusak. Longsoran sebagian ini tertangkap oleh satelit pada tanggal 23 Desember pagi yang menunjukkan runtuhan sebagian kecil disisi sebelah baratdaya (Gambar 3). Menurut Agustan (BPPT) total luas Gunung Anak Krakatau di sisi baratdaya yang longsor akibat erupsi pada tanggal 22 Desember 2018 adalah sekitar 64 Ha

.

Gambar 3. Perbandingan Citra Satelit Gunung Anak Krakatau sebelum dan setelah Peristiwa Tsunami Tanggal 22 Desember 2018 yang menunjukan adanya longsoran di bagian baratdaya (Sumber: BPPT).

 

Setelah proses longsoran pada tanggal 22 Desember tersebut,  proses destruksi Gunung Anak Krakatau kembali berlangsung hingga beberapa hari setelahnya dengan mekanisme yang sama yaitu flank collapse atau terjadinya runtuhan material yang disebabkan letusan. Namun runtuhnya dinding yang terjadi setelah tanggal 22 Desember ini hanya sebagian demi sebagian sehingga tidak menimbulkan tsunami lagi.

 

Berdasarkan citra satelit yang diambil pada tanggal 25 Desember dapat diamati bahwa area Gunung Anak Krakatau yang hilang semakin bertambah (Gambar 4). Menurut Sumaryadi (2019) terjadi letusan lateral atau letusan menyamping pada tanggal 26 Desember 2018, kemudian terbentuklah kawah dengan bentuk tapal kuda yang terbuka ke arah barat, dengan pusat letusan berada di bawah permukaan laut, perubahan morfologinya teramati dari satelit tanggal 28 Desember 2018. Dengan demikian fese destruksi yang mengakibatkan hancurnya Gunung Anak Krakatau berkisar antara tanggal 22 sampai dengan 26 Desember 2018 (Gambar 4).

Gambar 4. Fase Destruksi Gunung Anak Krakatau (Sumaryadi, 2019, dengan modifikasi)

 

Perubahan Tinggi dan Volume

Proses Destruksi yang dipicu oleh erupsi dan runtuhan material berakibat pada berubahnya tinggi dan volume Gunung Anak Krakatau. Badan Geologi berdasarkan laporannya per tanggal 29 Desember 2018 menyebutkan bahwa berdasarkan analisis visual terkonfirmasi bahwa Gunung Anak Krakatau yang tingginya semula 338 meter, sekarang tingginya tinggal 110 meter. Selain itu perubahan juga terjadi pada volume Anak Krakatau yang hilang diperkirakan sekitar antara 150-180 juta m3, sedangkan volume yang tersisa saat ini yaitu sekitar antara 40-70 juta m3. Berkurangnya volume tubuh gunung Anak Krakatau ini diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunungapi yang disertai oleh laju erupsi yang tinggi dari 24-27 Desember 2018.

 

Fase Konstruksi

Fase konstruksi adalah fase pembangunan tubuh Gunung Anak Krakatau kembali. Fase ini terjadi setelah Gunung Anak Krakatau melewati fase Destruksi. Sumaryadi (2019) atas analisisnya menyatakan, fase destruksi berakhir dengan letusan lateral atau letusan menyamping pada tanggal 26 Desember 2018, kemudian terbentuklah kawah dengan bentuk tapal kuda yang terbuka ke arah barat (Gambar 5).

Pasca letusan tanggal 26, Desember 2018 pusat letusan berada di bawah permukaan laut, dan sejak saat itu Gunung Anak Krakatau sedikit demi sedikit mulai membangun tubuhnya kembali salah satunya ditandai dengan tumbuhnya kerucut baru didalam kawah tapal kuda yang terekam oleh satelit pada tanggal 8 Januari 2019 (Gambar 5).

 

Akumulasi erupsi setelahnya mengeluarkan material vulkanik yang terkumpul disekitar kawah sehinggga bagian barat – barat daya G. Anak Krakatau kembali muncul keatas permukaan air lalu terbentuk kawah baru dengan diameter kawah sepanjang 400 meter dan luas 12 hektare seperti yang terlihat pada citra tanggal 11 Januari 2019 (Gambar 5).

Gambar 5. Fase Konstruksi Gunung Anak Krakatau (Sumaryadi, 2019, dengan modifikasi)

 

Berdasarkan pengamatan pada citra satelit tanggal 30 Agustus 2018 pukul 05.47 WIB serta satelit tanggal 9 Januari 2019 pukul 05.47 WIB yang dirilis oleh Lapan, dapat diketahui bahwa fase konstruksi juga ditandai dengan penambahan daratan kearah timur. Estimasi luasan area yang bertambah sekitar 54 Ha (Gambar 6).

Gambar 6.  Perubahan Anak Gunung Krakatau Fase Konstruksi yang menunjukan penambahan area baru ke arah timur sekitar 54 Ha (Sumber: Lapan, 2019, dengan modifikasi)

 

Mengulang Bentukan Morfologi Tahun 1950-an

Apabila kita melihat catatan sejarah, morfologi Gunung Anak Krakatau sekarang ini hampir sama dengan morfologi Gunung Anak Krakatau pada 1950-an, yang juga melalui fase yang sama yaitu fase Desktruksi dan Konstruksi. Berdasarkan catatan sejarah kegunungapian dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, aktivitas Gunung Anak Krakatau dari 1940 sampai dengan 1952 setiap tahunnya selalu mengalami erupsi (Tabel 1). Dimana aktivitas yang terjadi selama tahun tersebut telah banyak merubah morfologi Gunung Anak Krakatau.

Tabel 1. Kegiatan Vulkanik G. Anak Krakatau Periode 1940-1952 (Sumber Data Dasar Gunung Api, K-ESDM)

Tahun

Aktivitas

1940

Pada Juni tinggi letusan mencapai 1000-4000 m.

1941

Erupsi di danau kawah pada 28 Januari-12 Februari

1942

Erupsi di danau kawah pada 29-30 Januari.

1943

Erupsi di danau kawah.

1944

Erupsi di danau kawah.

1945

Erupsi di danau kawah.

1946

Erupsi di danau kawah pada 25 Juli dan selama Desember.

1947

Erupsi di danau kawah selama April.

1948

Erupsi di danau kawah.

1949

Erupsi di danau kawah pada 12 Mei.

1950

Erupsi di danau kawah pada 3-7 Juli.

1952

Erupsi di danau kawah pada 10-11 Oktober, terbentuk kerucut baru dengan danau kawah bergaris tengah 440 m.

Menurut Sumaryadi (2019) proses Destruksi-Konstruksi Gunung Anak Krakatau yang terjadi Tahun 2018-2019 juga terjadi dari pada Tahun 1940-1952. Proses destruksi keduannya sama-sama ditandai dengan hilangnnya sebagian wilayah di daerah barat daya dan berkurangnya tinggi Gunung tersebut sepertimana yang terjadi juga pada 2018 (Gambar 7), yang dilanjutkan dengan terbentuknya kerucut baru dengan danau kawah bergaris tengah 440 m pada 1952, yang mana proses pembentukan krucut dan kawah baru ini juga terjadi pada fase konstruksi 2019 (Gambar 8).

Gambar 7. Grafik pertumbuhan Gunung Anak Krakatau,  yang memperlihatkan penurunan morfologi yang sama pada tahun 1950 dan 2018 (Sutawidjaya 2006, dengan modifikasi)

Gambar 8. Fase Destruksi – Konstruksi Gunung Anak Krakatau pada perubahan Tahun 1940 -1952 dan Tahun 2018-2019

 


Twitter


Facebook