KEMUNGKINAN TERJADINYA BENCANA GEOLOGI DI KOTA SERANG, PROVINSI BANTEN


KEMUNGKINAN TERJADINYA BENCANA GEOLOGI DI KOTA SERANG, PROVINSI BANTEN

(oleh Tata Henda)

 

Gempabumi, tsunami, longsor dan letusan gunung api yang menimbulkan kerugian materi atau korban jiwa dikategorikan sebagai bencana geologi. Para ahli geologi dalam hal ini lebih menggunakan istilah gerakan tanah untuk memetakan daerah rawan longsor, karena perpindahan tanah yang diakibatkan proses geologi tidak hanya terjadi secara vertikal, melainkan juga dapat terjadi secara horizontal/hampir horizontal, contohnya seperti rayapan tanah atau juga gerakan tanah akibat likufaksi (liquefaction) seperti terjadi belum lama ini di Palu, Sulawesi Tengah menyusul terjadinya gempa bumi pada zona sesar aktif Palu-Koro.

Jenis-jenis bencana tersebut dikategorikan sebagai bencana (alam) geologi karena berkaitan erat dengan proses geologi yang terjadi sepanjang masa. Selain karena proses geologi, bencana alam juga terjadi karena faktor cuaca seperti curah hujan yang dapat menyebabkan banjir. Banjir dalam hal ini dikategorikan sebagai bencana alam meteorologi. Curah hujan tinggi berpengaruh terhadap batuan atau tanah pada morfologi perbukitan atau pegunungan yang memiliki kemiringan lereng cukup terjal, mengakibatkan terjadinya longsor dan banjir bandang. Sehingga longsor dapat dikategorikan bencana yang ditimbulkan karena meteorologi sekaligus proses geologi.

Seperti telah diketahui secara luas bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia relatif rentan terlanda bencana geologi karena memiliki tatanan geologi yang sangat unik, berada diantara lempeng-lempeng tektonik yang sangat aktif bergerak setiap waktu. Keadaan ini pula yang terjadi di wilayah Provinsi Banten, terutama di bagian selatan dan barat. Wilayah-wilayah ini cukup rawan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami disebabkan dekatnya wilayah tersebut dengan zona tumbukan antara dua lempeng tektonik yang aktif, yaitu Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia. Selain itu dekat kawasan ini juga terdapat jalur sesar aktif di sekitar Selat Sunda yang dinamakan Sunda Megathrust.  

Bencana geologi juga terkait dengan wilayah-wilayah tertentu yang memiliki morfologi dengan kemiringan lereng cukup terjal, dimana pada waktu curah hujan tinggi bisa terjadi longsor hingga banjir bandang seperti yang terjadi belum lama ini di sekitar Carita dan Labuan, Kabupaten Pandeglang dan Padarincang, Kabupaten Serang. Sementara pada daerah pedataran faktor penyebab kerentanan bencana geologi umumnya terletak pada jenis dan keadaan litologi, dimana lapisan batuan yang muda cukup tebal dan belum terkonsolidasi atau termampatkan sangat rentan terhadap getaran yang ditimbulkan akibat gempa bumi.

 

Kerentanan Gerakan Tanah (tanah Longsor)

Wilayah Kota Serang memiliki morfologi yang sebagian besar merupakan kawasan pedataran (dalam peta digambarkan dengan warna biru) dan perbukitan bergelombang (digambarkan dengan warna hijau). Sebagian kecil di sebelah barat merupakan perbukitan dengan kemiringan lereng sedang (berwarna kuning) dan kemiringan lereng agak terjal (berwarna merah).

 

Gambar 1. Peta Gambaran Morfologi Daerah Kota Serang yang terbagi atas pedataran (biru), dataran-perbukitan bergelombang (hijau) dan perbukitan dengan kemiringan lereng sedang hingga agak terjal (kuning-merah).

 

Dalam Peta Geologi, wilayah Kota Serang secara litologi tersusun dari batuan berumur Kuarter terdiri atas batuan gunung api, batuan endapan piroklastik dan alluvium.

 

Gambar 2. Peta Geologi Daerah Kota Serang

 

Batuan gunung api terdiri atas andesit Pasir Terbang yang tersingkap di daerahSayar, batuan gunung api hasil Gunung Gedor yang tersusun atas lava dan breksi gunung api andesitik, tersebar di daerah Cilowong dan Sayar. Batuan gunung api lainnya adalah hasil Gunung Karang yang tersingkap di bagian selatan di sekitar daerah Pancalaksana, Kecamatan Curug.

Batuan piroklastik termasuk dalam kelompok batuan Tuf Banten Atas terdiri atas tuf dan tuf batu apung. Sebagian besar batuan ini telah mengalami konsolidasi atau termampatkan, sebarannya sangat luas meliputi lebih dari 65 % wilayah Kota Serang.

Aluvium tersusun oleh lempung, lanau, pasir serta dibagian paling utara mengandung banyak cangkang moluska yang merupakan endapan pantai.

Dari keadaan morfologi dan litologi demikian, maka sebagian wilayah Kota Serang mempunyai kerentanan gerakan tanah yang relatif rendah, sehingga sangat jarang mengalami longsor. Akan tetapi longsor bisa saja terjadi dalam skala kecil di daerah tebing sungai utama  seperti Kali Banten yang membelah Kota Serang, dan juga wilayah lereng perbukitan di bagian selatan apabila terganggu kestabilannya. Dengan demikian wilayah-wilayah tersebut perlu dijaga kelestariann lingkungannya dengan penghijauan (penanaman pohon-pohon keras).

 

Gempa Bumi

Wilayah Kota Serang  menurut Peta Daerah Rawan Bencana Gempabumi (Dinas Pertambangan dan Energi, 2011) sebagian kecil berada pada zona kerawanan rendah (digambarkan berwarna hijau) yang menempati bagian tenggara dan sebagian besar berada pada zona kerawanan sedang (digambarkan berwarna kuning), yang bisa berarti berada tidak terlalu jauh dari titik episenter gempa yang pernah terjadi.

Tingkat kerawanan sedang, menggambarkan potensi terlanda kerusakan akibat goncangan gempa bisa terjadi apabila gempabumi besar terjadi sewaktu-waktu. Sumber (episenter) gempa bisa terjadi terutama di dasar atau di bawah Samudera Indonesia sekitar zona tumbukan antar lempeng tektonik dengan kekuatan mencapai lebih dari 7 SR. Kejadian gempabumi di lokasi ini terakhir terjadi pada tahun 2017 dengan skala 6,4 SR, getarannya terasa di Kota Serang meskipun tidak menimbulkan kerusakan.

Kejadian fatal yang mengikuti peristiwa gempabumi besar seperti di Palu adalah landaan tsunami dan likufaksi (liquefaction) yang bisa terjadi pada daerah yang tersusun oleh sedimen pasir berumur muda yang tidak terkonsolidasi. Untuk wilayah Kota Serang tsunami agaknya tidak berpotensi, namun likufaksi bisa terjadi di wilayah utara yang tersusun oleh endapan alluvium yang cukup tebal.

Dengan potensi kegempaan seperti ini maka yang perlu diperhatikan adalah ketahanan bangunan dan infrastruktur, karena korban gempa bumi terjadi karena tertimpa material runtuhan dari bangunan akibat goncangan gempabumi.

Gambar 3. Peta Daerah Rawan Gempabumi di Provinsi Banten (sumber : Distamben Banten, 2011).

Mengingat sebagian besar wilayah Kota Serang mempunyai tingkat kerawanan sedang dapat terlanda goncangan gempabumi, maka Dina Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Banten (dahulu Dinas Pertambangan dan Energi) telah melakukan pemetaan mikrozonasi kegempaan. Hasil kegiatan ini berupa Peta Amplifikasi Wilayah Kota Serang yang menggambarkan tingkat kerentanan tanah terhadap goncangan gempa karena tidak semua tanah dan batuan memiliki ketahanan sama terhadap goncangan.  

Gambar 4. Peta Amplifikasi Wilayah Kota Serang

 

Dari peta nilai amplifikasi yang dihasilkan, maka perlu diperhatikan terutama zonasi daerah yang mempunyai nilai amplifikasi lebih dari 3 kali seperti ditunjukan dalam peta (Gambar 4)

Daerah belum terkonsolidasi seperti kawasan endapan alluvial yang cukup tebal memiliki karakter dapat menguatkan goncangan apabila terjadi gempabumi, pada peta amplifikasi tersebut terutama yang mempunyai nilai amplifikasi antara 3-4 (ditunjukkan dalam peta berwarna oranye) dan lebih dari 4 (ditunjukkan dalam peta berwarna pink) sehingga pada wilayah zonasi tersebut perlu memperhatikan persyaratan infrastruktur atau bangunan yang tahan terhadap goncangan gempabumi. Dalam hal ini sebagian besar wilayah Kecamatan Kasemen termasuk yang memiliki kerentanan cukup tinggi terhadap getaran gempa, terlebih-lebih litologi penyusun kawasan ini terdiri atas endapan alluvium yang tebal berupa pasir, lanau, lempung dan sisa organic. Daerah lain yang cukup rentan terhadap guncangan gempabumi adalah sebagian Kecamatan Taktakan dan sebagian Kecamatan Walantaka.

 

 

Penutup

Secara garis besar Kota Serang memiliki kondisi lebih baik dari Wilayah lain di Provindi Banten yang berada di bagian Selatan dan Barat. Kondisi ini tergambarkan dari keadaan morfologi dan litologi wilayah serta posisi geografis yang berada di pesisir utara Pulau Jawa sehingga yang cukup aman dari kemungkinan terlanda bencana geologi seperti tanah longsor dan tsunami. Sedangkan untuk kegempaan wilayah Kota Serang mempunyai kerawanan sedang terlanda oleh guncangan gempabumi terutama di wilayah utara yang secara litologi tersusun dari endapan alluvium. Untuk wilayah-wilayah tersebut perlu dilakukan evaluasi atas kondisi bangunan dan infrastruktur disesuaikan dengan ketahanan terhadap goncangan gempabumi.

 

Daftar Pustaka

  1. Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten, 2011, Laporan Akhir Pemetaan Mitigasi Kegempaan Kota Serang dan Sebagian Kabupaten Serang, Provinsi Banten Tahun Anggaran 2011.
  2. Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten, 2007. Laporan Akhir Pemetaan Daerah Rawan Bancana Geologi Provinsi Banten Tahun Anggaran 2007.

Twitter


Facebook