MEMAHAMI POTENSI BENCANA GEOLOGI DI WILAYAH BANTEN


MEMAHAMI POTENSI BENCANA GEOLOGI DI WILAYAH BANTEN

( oleh : Tata Henda )

 

Bencana geologi adalah jenis bencana alam yang terjadi akibat proses geologi. Proses geologi terjadi sebagai dinamika bumi yang terus bergerak sepanjang masa dikarenakan sifat-sifat fisika dan kimia dari material yang membentuk bumi secara keseluruhan.

Lama sekali para ahli yang menekuni pengetahuan tentang kebumian untuk mencari jawaban atas asal usul pembentukan bumi meliputi  proses terjadinya bumi, batuan dan mineral, bahan galian, sumber energi hingga bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung api dll. Berbagai teori tentang proses geologi telah disampaikan dan ditelaah, namun titik terang baru ditemukan diawal abad 20, yaitu pada tahun 1912 oleh seorang ahli cuaca berkebangsaan Jerman bernama Alfred Lothar Wegener dengan mengemukakan teori tentang pengapungan benua. Ini adalah sebuah teori yang mencoba menerangkan perubahan dan pergerakan benua sehingga berada ditempat yang sangat jauh dari tempat awal berada. Pandangan ini kemudian baru bisa dikembangkan sekitar tahun 1960 karena pada saat gagasan disampaikan ke publik, langsung  mendapat pertentangan sangat keras dari ahli ilmu kebumian sebelumnya. Sangat kerasnya yang menentang sehingga mengucilkan sang penemu teori dari pengetahuan kebumian dan mengasingkannya ke penelitian cuaca di bagian utara bumi yang sangat dingin hingga di akhir hayatnya.

Teori yang terlahir dari gagasan tentang pengapungan benua tersebut hingga kini terus didalami karena  diyakini akan semakin mendekatkan ilmu pengetahuan kebumian kepada proses-proses yang sebenarnya terjadi pada bumi dan mengungkap asal usul evolusi bumi hingga keadaan sekarang. Teori tersebut dinamakan sebagai  teori tektonik lempeng (plate tectonic). Sebuah teori yang  menerangkan bahwa kerak bumi berbentuk lempeng-lempeng yang bergerak diatas massa likuid dari mantel bumi. Pergerakan dimaksud terdiri atas pergerakan divergen, konvergen dan transform yang masing-masing terdefinisi sebagai berikut :

  1. Divergen adalah pergerakan lempeng yang saling menjauh, kemudian membentuk kerak bumi baru.
  2. Konvergen adalah pergerakan lempeng yang saling mendekat sehingga salah satu bagian lempeng menunjam kebawah lempeng lainnya bahkan sampai meleleh atau membangun pegunungan tinggi.
  3. Transform adalah lempeng-lempeng yang saling bergesekan satu sama lain. Gesekan ini biasanya terjadi di lantai samudera.

Gambar 1. Peta Lempeng Tektonik Dunia berikut jenis-jenis pergerakan lempeng yang meliputi, konvergen, divergen dan transform. 

 

Kepulauan Indonesia berada pada pusat interaksi antara 4 lempeng tektonik yang bergeser secara divergen masing-masing : Lempeng Benua Eurasia, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Philipina dan Lempeng Pasifik yang juga berkembang sebagai Lempeng Carolina. Dengan adanya keempat lempeng tektonik yang sudah berkembang sejak puluhan juta tahun yang lalu tersebut, menjadikan Kawasan Kepulauan Indonesia memiliki tatanan geologi yang sangat kompleks. Berbagai ragam batuan dihasilkan sejak awal Zaman Tersier, terendapkan diatas batuan dasar berumur Pra-Tersier, dimana di bagian barat batuan dasar ini umumnya berupa batuan granit.

 

Gambar 2. Tatanan tektonik Kepulauan Indonesia dan Sekitarnya (Hall, 2002)

 

Pulau Jawa, dimana didalamnya terdapat wilayah Provinsi Banten adalah bagian dari pergerakan divergen antara Lempeng Benua Eurasia (Eropa-Asia) bertumbukan dengan lempeng Samudera Indo-Australia. Jalur tumbukan membentang dari sebelah barat pulau Sumatera, menerus ke selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, kemudian membelok ke arah Kepulauan Maluku. Pada bagian (wilayah) ini, Lempeng Samudera Indo-Australia bergerak ke arah utara dengan kecepatan sekitar 7 cm/tahun, bertumbukan dengan Lempeng Benua Eurasia. Kemudian lempeng samudera menunjam kebawah lempeng benua. Tumbukan dan pergesekan antara lempeng tersebut menghasilkan energi yang dapat dilepaskan sewaktu-waktu dalam bentuk gempabumi atau pelelehan batuan menjadi magma sehingga membentuk rangkaian gunung api.  

Gambar 3. Sketsa tumbukan antar lempeng tektonik pulau Jawa (Hamilton, 1979)

 

Selain menghasilkan pembentukan gunung api, interaksi antar lempeng tektonik juga membentuk jalur-jalur sesar atau patahan, Diantara sesar-sesar tersebut terdapat sesar aktif, yaitu yang terus bergerak dan setiap waktu juga dapat menyebabkan gempa bumi, seperti yang terjadi belum lama ini di Lombok NTB dan Palu Sulteng.

Di bagian barat pulau Jawa beberapa sesar aktif diantaranya adalah; Sesar Baribis, Sesar Cimandiri, Sesar Lembang dan sesar aktif yang berada sekitar Selat Sunda, disebut oleh para ahli sebagai Sunda Megathrust.

 

Gambar 4. Jalur-jalur sesar yang ada di wilayah bagian barat Pulau Jawa (Engkon Kertapati, 2007)

 

Proses geologi yang sangat dinamis seperti yang telah diulas secara ringkas, menjadikan wilayah Banten rawan bencana geologi yang mengikuti sistem tektonik yang ada seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan ancaman bahaya letusan gunung api.

 

Kawasan Rawan Gempa Bumi

Selain berada tidak jauh dari zona tumbukan antara lempeng tektonik yang berada di Samudera Hindia, wilayah Banten berdasarkan kajian terbaru berada dekat dengan sesar aktif yang disebut sebagai Sunda Megathrust, sebuah sesar aktif besar yang bisa menjadi episenter gempa bumi dangkal. Tidak adanya catatan keterjadian gempa bumi besar sejak beberapa ratus tahun yang lalu, malah membuat kekhawatiran di kalangan ahli kegempaan, bahwa setiap saat bisa terjadi gempa bumi berskala besar yang bisa sangat merusak disebabkan energi dari kegiatan tektonik yang ada pada kawasan ini sudah menumpuk demikian besar.

Daerah rawan bencana gempa bumi terutama berada di wilayah selatan dan barat (Gambar 5). Tingkat kerawanannya digambarkan dengan zonasi sebagai berikut :

Kawasan rawan gempa bumi tinggi : Kawasan ini (dalam peta digambarkan dengan warna merah muda) berpotensi terlanda goncangan gempabumi dengan skala intensitas VII – VIII MMI (Modified Mercally Intensity). Dapat menimbulkan dampak berupa retakan tanah, peluluhan (liquefaction) pada kawasan endapan alluvium, longsoran pada daerah berlereng terjal serta pergeseran tanah.

Kawasan rawan gempa bumi menengah : Kawasan (dalam peta diwarnai kuning) berpotensi terlanda goncangan gempabumi dengan skala intensitas VI MMI (Modified Mercally Intensity), berpotensi terjadinya retakan tanah, peluluhan (liquefaction) pada kawasan endapan alluvium, longsoran pada perbukitan serta pergeseran tanah dalam skala kecil.

Kawasan rawan gempa bumi rendah : Kawasan (dalam peta diwarnai hijau) berpotensi terlanda goncangan gempabumi dengan skala intensitas IV - V MMI (Modified Mercally Intensity).

Kawasan rawan gempa bumi rendah : Kawasan (dalam peta diwarnai hijau) berpotensi terlanda goncangan gempabumi dengan skala intensitas kurang dari IV MMI (Modified Mercally Intensity).

 

Kawasan Rawan Tsunami

Bencana tsunami yang dapat terjadi adalah yang mengikuti peristiwa gempabumi besar di perairan selatan, sekitar zona tumbukan. Daerah yang berpotensi terlanda tsunami adalah sebagian besar pantai selatan dan sebagian pantai barat. Dalam peta rawan tsunami telah dideliniasi sebagai; Zona kerawan tinggi, Zona kerawan menegah dan Zona kerawan rendah (Gambar 6).

Zona Kerawanan Tinggi : Terdapat terutama di daerah pantai bermorfologi datar-landai dan berteluk dengan elevasi kurang dari 10 meter diatas muka air laut. Berdasarkan pemodelan tsunami, genangan tsunami dapat mencapai 3 m atau lebih, tinggi gelombang tsunami dipantai maksimum 10,78 m, dapat melanda daerah sejauh 5,4 km dari pantai.

Zona Kerawanan menengah : Zona ini merupakan daerah berresiko terlanda tsunami tidak terlalu besar, berada di belakang pantai bermorfologi landai – terjal. Ketinggian genangan  1 hingga 3 meter diatas permukaan tanah dengan landaan tsunami bisa mencapai 6,9 km.

Zona Kerawanan rendah : Merupakan daerah yang dapat berresiko terlanda tsunami tidak besar, berada di belakang pantai bermorfologi perbukitan bergelombang – terjal. Ketinggian genangan  kurang dari 1 m diatas permukaan tanah dengan landaan tsunami hingga 9 km.

 

Kawasan rawan bencana longsor

Peta Kawasan Rawan Bencana Longsor disebut sebagai peta kerentanan gerakan tanah. Daerah rawan longsor (daerah rentan terjadi gerakan tanah) tersebar di wilayah Provinsi Banten, terutama di daerah perbukitan dan pegunungan dengan lereng terjal. Dalam peta zonasi kerentanan gerakan tanah, wilayah Provinsi Banten terbagi menjadi : zona kerentanan gerakan tanah tinggi, zona kerentanan gerakan tanah menengah, zona kerentanan gerakan tanah rendah dan zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah (Gambar 7).

Zona kerentanan gerakan tanah tinggi : Daerah yang mempunyai kerentanan tinggi untuk terkena gerakan tanah. Pada zona ini sering terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah lama dan baru masih aktif akibat curah hujan tinggi dan erosi yang kuat.

Zona kerentanan gerakan tanah menengah : Daerah yang mempunyai kerentanan menengah/sedang untuk terkena gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan tinggi dan erosi yang kuat.

Zona kerentanan gerakan tanah rendah : Daerah yang mempunyai kerentanan rendah untuk terkena gerakan tanah. Umumnya pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah jika lereng tidak terganggu. Gerakan tanah berdimensi kecil mungkin terjadi sekitar tebing/lembah sungai.

 Zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah : Daerah yang mempunyai kerentanan sangat rendah untuk terkena gerakan tanah. Pada zona ini jarang atau hampir tidak pernah terjadi gerakan tanah, kecuali secara local pada daerah sekitar tebing sungai.

 

 

Rekomendasi upaya mitigasi bencana geologi

Mitigasi bencana geologi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko kerusakan akibat terjadinya bencana geologi. Upaya ini sangat penbting dilakukan mengingat di wilayah Provinsi Banten dapat terjadi peristiwa bencana geologi berupa gempa bumi, tsunami dan gerakan tanah. Beberapa upaya penting yang dilakukan sebelum terjadinya bencana geologi, maka harus diupayakan hal-hal sebagai berikut :

  1. Di bagian selatan dan barat wilayah Provinsi Banten yang mempunyai kerawanan tinggi terjadinya gempa bumi berskala intensitas besar, maka perencanaan/penataan ruang harus disesuaikan dengan memperhatikan ketentuan mitigasi bencana gempa bumi seperti; bangunan harus mengikuti ketentuan bangunan tahan gempa, memberikan pengetahuan mitigasi bencana gempa bumi kepada masyarakat dalam bentuk sosialisasi dan pelatihan, serta menetapkan jalur-jalur dan titik-titik evakuasi.
  2. Di wilayah pesisir bagian selatan dan barat yang rawan terlanda tsunami maka penataan bangunan harus memperhatikan kerawanan tsunami, membuat sarana infrastruktur maupun penataan lingkungan pesisir yang dapat memperkecil bahaya tsunami, melaksanakan kegiatan peningkatan pengetahuan tentang mitigasi bencana tsunami kepada masyarakat berupa sosialisasi, pelatihan, penetapan jalur-jalur dan titik evakuasi.
  3. Pada wilayah-wilayah yang memiliki kerentanan gerakan tanah tinggi dan menengah harus dilaksanakan penataan ruang dan melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mencegah terjadinya bencana longsor. Pada wilayah-wilayah tersebut dilakukan penghijauan dengan penanam tanaman keras untuk menjaga stabilitas lereng.
  4. Pemerintah dan pemerintah daerah dalam upaya mitigasi, perlu ditambah dengan melakukan penelitian atau pemetaan daerah rawan bencana geologi dengan lebih rinci lagi, termasuk diantaranya adalah dengan melakukan penelitian mikrozonasi kegempaan yang akan menghasilkan peta mikrozonasi kegempaan yang menggambarkan deliniasi kerawanan kegempaan berdasarkan pada sebaran jenis batuan yang rentan terhadap getaran gempa bumi. Selain itu juga perlu dilakukan pengembangan infrastruktur atau menciptakan model- model bangunan tahan gempa bumi.

 


Twitter


Facebook