UJUNG KULON, TAMAN NASIONAL DENGAN KEANEKARAGAMAN GEOLOGI


UJUNG KULON, TAMAN NASIONAL DENGAN KEANEKARAGAMAN GEOLOGI

Oleh : Tata Henda

 

Nama Ujung Kulon diidentikkan dengan sebuah kawasan konservasi sumber daya alam hayati yang disebut sebagai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Tidak hanya itu kawasan ini juga ditetapkan oleh Unesco sebagai Warisan Dunia (World Heritage) sejak tahun 1992 dengan keistimewaan terdapatnya hewan badak bercula satu yang tidak ada duanya di dunia, dan hewan ini diberi nama resmi sesuai lokasi keterdapatannya yaitu Rhinoceros Sondaicus yang bisa diartikan sebagai Badak Sunda atau Badak Jawa. Karena keistimewaannya itu maka banyak yang memperhatikan kawasan Ujung Kulon baik di tingkat nasional maupun internasional khususnya yang bergerak dibidang pelestarian fauna dan flora langka seperti World Wide Life Foundation (WWF). Status keberadaan badak ini masih terancam punah karena populasinya dibawah 100 ekor, namun demikian angka populasi ini mengalami peningkatan cukup baik dari jumlah 50an sampai tahun 2014 kini mencapai lebih dari 60 ekor, dimana diketahui dalam tahun 2015 terdapat 7 kelahiran anak badak. Hal yang diketahui menghambat pertumbuhan badak ini diantaranya adalah sangat langkanya jenis tumbuhan yang menjadi makanan utama badak sehingga memerlukan upaya-upaya lebih serius untuk menanganinya.

Selain badak di kawasan TNUK terdapat pula beberapa fauna langka yang sangat dilindungi karena terancam punah seperti primata jenis Surili (Presbytis comata comata), owa (Hylobates moloch) dan lutung (Trachypithecus auratus auratus). Dari jenis mamalia besar ada banteng jawa (Boss javanicus javanicus), rusa (Cervus timorensis), dan babi hutan (Sus verrucosus). Kemudian dari jenis hewan carnifora ada macan tutul (Panthera pardus), ajag (Cuonalpinus javanicus) dan kucing batu (Prionailirus bengalensis). Tidak ketinggalan populasi burung merak hijau (Pavo muticus) serta terinventarisirnya 5 spesies burung elang di Pulau Panaitan yang terdiri atas; elang laut perut putih, elang ikan kepala kelabu, elang ular bido, elang tiram dan elang brontok. Dari jenis flora juga terdapat berbagai jenis tumbuhan langka seperti kayu-kayuan merbau, palahlar, bungur, cerlang ki hujan dan lainnya serta aneka jenis anggrek.

Kawasan TNUK yang berada di ujung Pulau Jawa memiliki luas tidak kurang dari 120 ribu hektar yaitu berupa daratan dan pulau 76.300 ha. dan wilayah laut 44.300 ha. Bagian darat terdiri atas sebagian daratan Pulau Jawa yang berupa Semenanjung Ujungkulon dan pulau-pulau kecil disekitarnya, seperti P. Panaitan, P. Peucang, P. Handeuleum, P. Pamanggangan, P.  Boboko, P. Waton, P. Karangjajar dan pulau-pulau kecil lainnya yang belum diberi nama secara resmi. Secara administratif kawasan ini meliputi sebagian dari wilayah Kecamatan Sumur, Kecamatan Cigeulis, Kecamatan Cimanggu dan Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang. Karena fungsinya sebagai kawasan konservasi, maka TNUK dikelola langsung oleh sebuah balai di bawah Kementerian Kehutanan (sekarang Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup) yang disebut Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) sehingga tidak dibuka secara luas, namun juga difungsikan sebagai kawasan pariwisata terbatas dan untuk kegiatan penelitian.

Akses menuju kawasan yang paling dekat adalah kota kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang yang terhubung dengan jalan raya dalam kondisi cukup baik. Sedangkan untuk mencapai kawasan, hanya ada satu akses, yaitu dengan menggunakan kapal atau perahu, karena jalan darat hanya sampai di Taman Jaya yang menjadi pos masuk ke Taman Nasional Ujung Kulon. Ada banyak kapal atau perahu dalam berbagai ukuran di pantai Sumur yang biasa disewa, berikut paket-paket perjalanan ke Taman Nasional untuk dua hari satu malam atau lebih, dengan pilihan bisa menginap di resort, barak (mess), membawa tenda sendiri atau di kapal. Untuk akomodasi ini, dalam kawasan tersedia resort di Pulau Peucang dengan kapasitas 50 orang atau di Pulau Handeuleum untuk 10 orang pengunjung. Barak atau mess, tersedia di Pulau Peucang untuk 10 orang dan di Pulau Handeuleum untuk 10 orang. Sedangkan Camping Ground tersedia di Pulau Handeuleum dan Cibom. Selain dari Sumur sewaan kapal juga bisa didapat di hotel-hotel sekitar Tanjunglesung, Carita bahkan Anyer atau langsung di Balai TNUK di Labuan.

Beberapa kegiatan wisata atau atraksi yang biasanya diminati pengunjung seperti; berenang atau snorkling di pantai berpasir putih Pulau Peucang dan perairan sekitarnya, menjelajahi hutan taman nasional di Cidaon dan sekitarnya, berkemah dan menjelajahi perairan sekitar Pulau Handeuleum atau sungai Cigenter dengan kano, menapakkan diri di titik paling barat Pulau Jawa yaitu Tanjunglayar yang memiliki bangunan bersejarah, berkunjung ke Pulau Panaitan mengunjungi situs purbakala selain untuk berselancar di pantainya yang indah dan banyak lagi yang bisa dilakukan untuk berwisata di alam bebas sambil berinteraksi dengan rusa, kera, burung merak atau ngintip banteng yang sedang merumput, bahkan kalau beruntung bisa melihat langsung sang ikon TNUK yaitu badak bercula satu. Semua itu dijamin merupakan kegiatan refreshing yang sangat berkesan bagi semua pengunjung, terutama para wisatawan minat khusus atau secara umum disebutkan sebagai penikmat kegiatan ekowisata.

Disisi lain kawasan Taman Nasional Ujung Kulon dihiasi dengan aneka panorama dan lansekap sangat menarik dari sisi pengetahuan kebumian (geologi) yang berupa morfologi dan juga jenis bebatuan yang mencerminkan proses geologi selama puluhan juta tahun yang lalu. Aspek ini disebut sebagai keanekaragaman geologi atau geodiversity dan obyek menarik dari geodiversity bisa dikembangkan menjadi lokasi tujuan wisata berbasis geologi atau geowisata, bahkan bagian dari pengelolaan geopark. Beberapa geodiversity yang ada di dalam kawasan TNUK tersebar mulai di pesisir pantai hingga di pedalaman seperti di Pulau Panaitan, Pulau Peucang, Pulau Handeuleum dan semenanjung Ujung Kulon.

Di titik ujung daratan pulau Jawa bagian barat terdapat sebuah lokasi geodiversity sangat menarik bernama Tanjunglayar, sebuah tempat yang tidak saja merupakan panorama pantai yang sangat indah, juga spektakuler karena batuan yang menyusun tebing dan hamparan pantainya yang dihiasi padang rumput cukup luas. Batuan penyusun lokasi Tanjunglayar dan sekitarnya adalah bebatuan yang dihasilkan dari erupsi gunung api purba yang terjadi sekitar 25 juta tahun yang lalu atau pada awal kala Miosen. Kelompok batuan tersebut dinamai Formasi Cikancana yang tersusun dari breksi gunung api dan tuf dengan sisipan lava pejal bersusunan andesit, breksi lava, lava bantal, tuf pasiran dan tuf gampingan.

Selain di Tanjunglayar, formasi batuan yang sama juga membangun lansekap pantai yang sangat indah di bagian selatan semenanjung seperti di Sangiang Sirah dan sekitarnya, juga di bagian tengah Pulau Panaitan.

Geodiversity menarik juga terdapat di Pulau Peucang, dimana secara rinci batuannya tidak hanya terdiri atas terumbu karang yang berumur muda, tapi juga terdapat kelompok batuan sedimen berumur Pliosen yang disebut sebagai Formasi Ciramea, tersusun dari batupasir gampingan, batupasir tufan, tuf berbatuapung, breksi andesit dengan sisipan batulempung tufan dan kayu terkersikkan (fosil kayu).

Yang tidak kalah menarik dari geodiversity, terdapat pula di pulau-pulau kecil seperti pulau Handeuleum yang terbangun oleh menumpuknya pecahan dari koral. Ini mengindikasikan bahwa pulau-pulau tersebut terbangun oleh storm deposit, dengan kata lain pulau tersebut terbentuk setelah terjadinya badai yang dahsyat. Padahal tidak pernah tercatat adanya badai besar melanda kawasan ini kecuali terjadinya bencana tsunami yang diakibatkan oleh letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Sehingga dapat diduga bahwa terbentuknya pulau-pulau kecil di sekitar Ujungkulon adalah berkaitan erat letusan-letusan dahsyat Gunung tersebut yang menyebabkan gelombang tsunami yang sanggup meluluhlantakan batu-batu karang.

Dari beberapa geodiversity yang disebutkan tadi maka kawasan Taman Nasional Ujungkulon selain dapat dikembangkan sebagai kawasan wisata khusus juga sebagai laboratorium alam untuk mempelajari proses-proses geologi yang pernah dan sedang terjadi di bagian paling barat dari Pulau Jawa ini.

Daftar Pustaka

  • Sutikno Bronto, 2012, Publikasi Khusus, Geologi Gunung Api Purba, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral;
  • S. Atmawinata dan H.Z. Abidin, 1991, Peta Geologi bersistem Jawa Lembar Ujungkulon skala 1 : 100.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung

Twitter


Facebook