POTENSI GEOWISATA CILOGRANG


POTENSI GEOWISATA CILOGRANG

Oleh : Tata Henda

Cilograng adalah nama sebuah kecamatan di kabupaten Lebak yang baru lahir di tahun 2000an, sebagai hasil pemekaran dari Kecamatan Bayah. Wilayah kecamatan ini di sebelah timur berbatasan langsung dengan Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Bayah dan di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Cibeber, sementara di sebelah selatan membentang garis pantai laut selatan (Samudera Indonesia) sepanjang lebih dari 10 kilometer.

Seiring dengan kemajuan pembangunan di Banten Selatan, terutama dengan dibangunnya  pabrik semen Merah Putih di Bayah, maka wilayah Kecamatan Cilograng juga mulai menggeliat perkembangannya. Dalam hal ini, tentu saja seluruh masyarakat Cilograng sangat berharap bahwa pembangunan pabrik semen tersebut dapat secara signifikan meningkatkan perekonomian warganya. Betapa tidak, banyak lokasi sumber daya alam yang potensial di daerah ini termasuk bahan baku mineral dan batuan yang dapat dimanfaatkan oleh industri semen tersebut. Belum lagi tenaga kerja produktif berpendidikan SLA sampai perguruan tinggi yang bisa disediakan di wilayah berpenduduk tidak kurang dari 33.280 jiwa ini (Lebak dalam angka 2015).

Alam Cilograng yang merupakan pegunungan dan perbukitan di pesisir pantai selatan Banten ini banyak menyimpan sumber daya alam hayati dan non hayati yang bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat setempat. Di pegunungan dan perbukitannya terdapat aneka ragam flora dan fauna baik yang dilindungi atau yang dibudidayakan, sementara diperairan terdapat berragam jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi.  Di bawah permukaan tanah Cilograng tersimpan berbagai bahan galian tambang seperti batubara, batugamping, pasir kuarsa, zeolit bahkan terbukti adanya mineralisasi emas meskipun belum terukur cadangan sumberdayanya. Kemudian selain potensi-potensi tersebut, lansekap dan panorama alam yang cantik yang terkait proses geologi selama puluhan juta tahun yang lalu sebagian besar masih belum terekspos secara luas menjadi potensi geowisata dan bahkan untuk menjadi bagian dari pengembangan geopark (taman bumi) yang dapat menjadi peluang besar untuk peningkatan ekonomi rakyat dan pendapatan negara.

Sebagaimana telah dirumuskan oleh para pakar bahwa geowisata adalah: kegiatan pariwisata yang memanfaatkan seluruh aspek geologi seperti fosil, mineral, batuan, air, dan proses, serta semua aspek abiotik (Budi Brahmantyo, 2003). Jadi obyek geowisata diantaranya adalah gunung api, lembah sungai, ngarai, air terjun, goa-goa karst, pantai, fosil-fosil, mineral, batuan dan lain sebagainya yang terkait dengan proses geologi yang sudah maupun sedang berlangsung. Obyek geowisata selain mempunyai fungsi pariwisata untuk kesenangan (leisure) juga memiliki fungsi pembelajaran tentang proses-proses geologi, sehingga menjadi laboratorium alam yang sangat menarik.

Beberapa lokasi potensi pengembangan geowisata di Cilograng adalah air terjun, bentang alam serta struktur karst dan lansekap pantai selatan yang kebanyakan terbangun oleh batuan gunung api purba.

Curug Kanteh

Lokasi pariwisata dengan obyek panorama air terjun bertingkat dengan ketinggian total mencapai 120 meter atau bahkan lebih yang terdapat di anak sungai Cidikit dengan lebar lembah sungai 10 hingga 15 meter, secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Cikatomas, kecamatan Cilograng. Batuan penyusun di lokasi air terjun dan sekitarnya ini merupakan batuan gunung api berkomposisi basaltis-andesitis. Air terjun (curug) ini berada kira-kira 1,5 km dari pusat Desa Cikatomas yang berada di jalan raya yang menghubungkan antara Bayah-Cilograng-Cisolok. Kendaraan roda empat dan roda dua bisa sampai di Kampung Cihideung yang berjarak sekitar 500 meter dari jalan raya. Selanjutnya untuk menuju lokasi Curug Kanteh ditempuh dengan berjalan kaki melewati pesawahan berundak di sebuah lembah sungai yang cukup terjal membentuk huruf “V” yang menandakan lembah sungai muda secara geologi. Di ujung pesawahan terdapat jalur irigasi, jalur inilah yang merupakan akses pilihan yang paling baik menuju Curug Kanteh saat ini. Kondisi jalur irigasi yang dibangun sejak tahun 2008 ini ternyata sudah kurang layak sehingga sangat mendesak untuk diperbaiki. Saat musim kemarau jalur irigasi ini cukup aman untuk dilewati, akan tetapi bila musim hujan jalur yang menyisir lereng yang curam ini cukup berbahaya karena licin akibat ditumbuhi jamur. Demikian pula kondisi sungai diujung irigasi yang berjarak sekitar 50 meter dari air terjun utama bisa sangat berbahaya, karena arus airnya sangat deras dengan debit yang tinggi terutama beberapa saat setelah turun hujan yang cukup lebat.

Secara lebih detail, obyek geowisata yang menarik di lokasi ini adalah panorama morfologi lembah sungai dengan air terjun bertingkat pada batuan beku yang berasal aktifitas gunung api berupa lelehan lava atau retas berkomposisi basaltis-andesitis. Lokasi tersingkapnya batuan ini juga mengindikasikan adanya struktur patahan berarah utara-selatan dan retakan batuan (jointing). Batuan ini diduga berumur relatif muda atau pada Kala Holosen  atau tidak lebih dari dua ratus ribu tahun tahun yang lalu. Jadi batuan ini merupakan batuan paling muda di wilayah Kecamatan Cilograng, sebagai hasil aktifitas gunung api atau magmatis yang paling akhir. 

 

Kawasan Karst Cilograng

Aliran sungai Cisawarna yang bermuara di pantai Ciantir, kecamatan Bayah, bagian tengahnya melintasi wilayah Cilograng dan bagian hulunya berada di kecamatan Cibeber. Batuan dasar yang dipotong oleh aliran sungai Cisawarna di hulu adalah batuan gunung api tua yang berumur Eosen (Formasi Cikotok) dan gunung api Kuarter, kearah muara memotong batuan sedimen. Sebagian litologi batuan sedimen di sekitar aliran sungai ini membentuk morfologi karst, yang memiliki semua kekhasan kawasan karst seperti endokarst dalam bentuk goa-goa berstalaktit dan stalagmite, sungai bawah tanah berikut ekosistemnya, demikian pula aspek eksokarst seperti dolina dll.

Beberapa goa karst yang ada di di sepanjang aliran sungai Cisawarna dan termasuk kecamatan Cilograng, diantaranya : Goa Lauk, Goa Abar, Goa Wayang I, Goa Wayang II, dan Goa Cilubang. Sedangkan goa-goa lainnya seperti Goa Cijulang, Goa Leles dan Goa Haris berada di perbukitan yang memiliki morfologi khas kawasan karst. Beberapa goa karst tersebut memiliki potensi yang sangat baik untuk dapat dikembangkan sebagai kawasan geowisata seperti Goa Lauk dan Goa Wayang.

Goa Lauk termasuk wilayah Desa Lebaktipar, berada pada aliran sungai Cisawarna. Untuk menuju ke lokasi ini dapat ditempuh jalan setapak dari kampung Gondang Hingga jembatan bambu yang menyebrangi Cisawarna, kemudian mengikuti pematang sawah, memotong anak sungai hingga sampai alur irigasi. Alur irigasi inilah yang mengantarkan ke mulut goa di bagian bawah. Dasar goa di bagian bawah ini berair, sedikit berlumpur, dan mengindikasikan adanya sungai bawah tanah. Mulut goa ini berukuran lebar 2,5 mt, dan dari mulut goa ini langsung menuju ruang terdepan selebar sekitar 7 meter. Lansekap goa sejak mulut goa hingga bagian dalam dihiasi oleh aneka bentuk dan ukuran stalaktit dan stalagmite. Di mulut goa yang ada dibagian atas terdapat sebuah stalaktit yang bertaut dengan stalagmit dengan bentuk khas serupa dengan bagian badan dan ekor ikan. Barangkali bentuk inilah yang mengilhami sehingga goa ini dinamai goa lauk, selain konon katanya di dalam goa tersebut dulu banyak dijumpai ikan.

Baru-baru ini Kepala Desa Lebaktipar telah bekerjasama dengan tim pecinta alam Universitas Pakuan Bogor untuk menjelajahi goa tersebut. Luar biasa, goa tersebut memiliki panjang sekitar 2 (dua) kilometer, dan tentu saja dihiasi dengan relief dari berbagai bentuk dan ukuran stalaktit dan stalagmit yang indah di sepanjang lorong goa.

Goa Wayang juga berada di sisi aliran sungai Cisawarna. Di lokasi ini terdapat dua goa yang berdekatan yang dinamai Goa Wayang I dan Goa Wayang II. Sebagaimana halnya Goa Lauk, Goa Wayang juga memiliki keindahan lansekap endokarst berupa stalaktit dan stalagmit. Untuk menuju goa ini ditempuh dari Kampung Ciawi, Desa Cijengkol yang dapat dicapai dengan kendaraan roda empat. Selanjutnya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua hingga di pematang perbukitan yang merupakan perkebunan karet. Dari bukit ini kemudian berjalan kaki menuruni lembah sungai Cisawarna dimana mulut goa Wayang berada. Menurut informasi, kedua goa ini dapat dijelajahi hingga mencapai ratusan meter. Meskipun keadaan lobang masuk keduanya hanya seukuran pintu rumah yang sedang, tetapi keadaan di dalam melebar hingga dapat menampung belasan orang.

Penamaan goa Wayang lebih berbau mistis dengan cerita-cerita supra natural yang dikaitkan dengan pewayangan, seperti misalnya suara gamelan wayang yang acapkali samar-samar terdengar pada waktu-waktu tertentu. Goa ini juga konon sering dikunjungi oleh beberapa dalang kondang terutama yang berasal dari Jawa Barat.

Proses terjadinya goa-goa tersebut diakibatkan rembesan air tanah yang mengisi rekahan pada endapan batugamping (batukapur) yang kemudian melarutkan sebagian dari senyawa kalsit (CaCO3). Karena proses tersebut berlangsung selama jutaan tahun, maka rekahan atau rongga-rongga kecil dalam batugamping lama-kelamaan membersar sehingga membentuk goa-goa yang besar. Pada proses ini juga terjadi pembekuan kembali senyawa tersebut secara perlahan melalui tetesan air yang mengandung senyawa tersebut. Sebagian kalsit yang terlarut terpisah kembali dari air lalu tergantung di atas, yang kemudian lama-lama membentuk stalaktit, sementara sebagian lainnya jatuh ke dasar goa, kemudian membentuk stalagmit. Selain membentuk stalaktit dan stalagmite, proses pembekuan larutan tersebut juga membentuk Kristal-kristal kalsit yang acapkali terdapat menempel pada dinding goa karst.

 

Wisata Pantai

Wisata Pantai di Cilograng, hampir semuanya memiliki aspek geologi seperti yang terdapat di Pantai Cibareno, Pantai Citarate dan Pantai Goa Gede.

Pantai Cibareno berada di sekitar muara sungai Cibareno yang merupakan batas wilayah Provinsi Banten dengan Jawa Barat. Akses menuju pantai ini sudah tersedia jalan beraspal yang bisa dilewati kendaraan roda empat. Pantai ini merupakan pantai berbatu (bukan karang) dengan hamparan pasir terbatas di sekitar muara sungai Cibareno. Bila diperhatikan batuan yang ada adalah endapan batuan gunung api berupa breksi gunung api berkomposisi andesitik-basaltik berselingan dengan aliran piroklastik atau ignimbrite yang kaya dengan fragmen batu apung.

Pantai Citarate berada di muara sungai Citarate, Desa Cibareno dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat. Sebagaimana pantai Cibareno, hamparan batuan di pantai ini juga merupakan batuan gunung api berupa breksi gunung api, setempat terdapat pasir pantai.

Pantai Goa Gede yang termasuk Desa Cilograng hingga saat ini belum memiliki akses jalan. Untuk menuju pantai tersebut, jalan yang dapat dilewati kendaraan roda empat terputus di Kampung Pasirsalam, 2 km selanjutnya dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua bila musim kemarau dan 1 km sisanya kearah pantai ditempuh dengan berjalan kaki.

Pantai Goa Gede memiliki panorama indah yang cukup luas dihiasi dinding dan hamparan bebatuan dari hasil erupsi gunung api purba serta pasir pantai yang cukup luas. Batuan ini berupa breksi gunung api  serta endapan piroklastik seperti tuf dan lapilli yang sebagian telah mengalami proses alterasi (ubahan). Selain itu pantai ini juga memiliki peninggalan bersejarah berupa goa-goa buatan yang konon terakhir digunakan sebagai tempat persembunyian dari kelompok anggota terlarang saat pemberantasan PKI oleh pemerintah.

Penutup

Dengan melihat potensi geowisata yang demikian besar di Kecamatan Cilograng, maka sangat diharapkan agar pemerintah dan pemerintah daerah dapat mengembangkan kecamatan ini menjadi salah satu tujuan wisata andalan di Banten Selatan. Banyak alternatif konsep pengelolaan yang bisa ditempuh dalam pengembangan obyek pariwisata berbasis geologi ini, baik secara sendiri-sendiri maupun terintegrasi dengan obyek ditempat lain  dan sektor lain. Salah satunya melalui pengembangan geopark yang merupakan konsep pengembangan kawasan terintegrasi dimana dipaduserasikan antara keanekaragaman geologi (geodiversity) keanekaragaman hayati (biodiversity) dan keanekaragaman budaya (cultural diversity).

Menuju tempat-tempat menarik seperti yang disebutkan dilakukan penataan serta pembangunan infrastruktur yang dapat disesuaikan dengan kondisi setempat. Kemudian di lokasi-lokasi tersebut dipasang papan informasi yang menjelaskan keadaan dan sejarah geologinya dengan bahasa yang bisa difahami oleh pengunjung; misalnya proses terjadinya batuan dan terbentuknya air terjun Curug Kanteh, proses terjadinya struktur endokarst dan eksokarst pada bentang alam karst, demikian pula proses terjadinya batuan gunung api di pantai Cilograng. Selain itu pada lokasi-lokasi yang memiliki kekhasan geologi bisa diusulkan untuk ditetapkan sebagai situs geologi, yaitu bagian dari Kawasan Lindung Geologi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah nomor 26 tahun 2008 tentang Rencanaa Tata Ruang (RTRW) Nasional.

 

Daftar Acuan

  1. Sujatmiko dan S. Santosa 1992, Peta Geologi Lembar Leuwidamar, Jawa skala 1 : 100.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi
  2. Sutikno Bronto, 2012, Geologi Gunung Api Purba, publikasi khusus, Badan Geologi Bandung
  3. Tata Henda, 2014, Potensi Geowisata di Provinsi Banten, Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten

Twitter


Facebook